UNTUK INDONESIA
Jokowi Tawarkan Lima Destinasi Liburan Akhir Tahun
Libur akhir tahun jadi agenda perusahaan dan keluarga yang memilih destinasi dalam negeri atau luar negeri, Jokowi menawarkan lima destinasi baru
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mendorong berkembangnya destinasi-destinasi wisata baru lainnya di Sulawesi Utara (Sulut). (Foto: Dok. Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR)

Jakarta - “Ke mana berlibur akhir tahun nanti? Di dalam negeri, kita tengah mengembangkan destinasi wisata baru.” Ini cuitan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di media sosialnya, 1 Desember 2019. Akhir tahun memang erat kaitannya dengan liburan. Banyak perusahaan dan keluarga yang merancang liburan akhir tahun. Cuitan Jokowi jadi aktual.

Salah satu yang jadi sasaran liburan adalah ke luar negeri (outbound). Sektor ini jadi bagian dari perusahaan perjalanan. Pada semester I tahun 2019 saja 5,2 juta warga Indonesia bepergian ke luar negeri (outbound), sedangkan priode yang sama tahun 2018 jumlahnya 4,73 juta. Itu artinya ada peningkatan sebesar 10%.

Sedangkan jumlah wisatawan mancanegara (Wisman) yang berkunjung ke Indonesia (inbound) Januari-Juli 2019 dilaporkan 9,3 juta. Jumlah ini naik 2,63% pada priode yang sama tahun 2018 yaitu 9,07 juta. Wisman yang paling banyak dari Malaysia, China, Singapura, Australia dan Timor Leste.

Jika dilihat dari proporsi jumlah Wisman yang masuk ke Indonesia ada kemungkinan Wisman asal Malaysia dan Singapura kebanyakan berkunjung ke Batam, Riau dan Sumut. Sedangkan Wisman asal Australia tujuan utama mereka adalah Bali.

Dengan angka-angka outbound dan inbound di atas amatlah wajar kalau kemudian seorang Jokowi melempar cuitan tentang rencana liburan akhir tahun. Tidak bisa dipungkiri, bahkan oleh Jokowi, bahwa di Indonesia Bali jadi tujuan utama wisatawan nusantara (Wisnus) dan tentu saja Wisman. Setelah Bali yang jadi tujuan Wisman adalah Yogyakarta yang sebenarnya ingin ke Candi Borobudur yang justru letaknya di Jawa Tengah.

Pemerintah sendiri seperti dikatakan Jokowi mengembangkan tujuan wisata baru yang disebut ’10 Bali Baru’. Dari ’10 Bali Baru’ itu pemerintah menggenjot lima sebagai destinasi wisata baru yaitu: Mandalika (NTB), Labuan Bajo (NTT), Borobudur (Jateng), Danau Toba (Sumut), dan Manado (Sulut). “Lima destinasi bahkan kita kebut pengembangannya dalam dua tahun ini,” ujar Presiden Jokowi dalam media sosialnya. 

Segmentasi lima destinasi wisata baru itu berbeda-beda. Mulai dari super premium, medium ke bawah, dan ada juga untuk wisata ramai-ramai, serta wisata khusus.

Jokowi berharap akhir tahun 2020 infrastruktur yang mendukung destinasi baru itu sudah siap. Ada pula calender of event, produk ekonomi kreatif berupa cenderamata.

Lima destinasi ’10 Bali Baru’ yang diharapkan presiden siap melayani wisatawan akhir tahun 2020 adalah objek di luar Bali yang dulu disebut sebagai ‘Bali and The Beyond’ atau ‘Beyond Bali’. Jokowi berharap begitu selesai, promosi besar-besaran. “Wisatawan yang datang pun akan berpromosi sendiri,” kata Jokwo penuh harap.

Persoalan besar yang akan dihadapi lima destinasi ’10 Bali Baru’ itu adalah masalah transportasi dari Bali atau Yogyakarta. Soalnya, Wisman terbang langsung dari negaranya ke Yogyakarta atau Bali. Dari Yogyakarta ke Bali atau dari Bali ke Yogyakarta.

Dari Bali jarak ke Mandalika, Labuan Bajo, Borobudur, Danau Toba, dan Manado jauh, kecuali Borobudur karena sudah jadi tujuan kedua sebagian wisatawan yang memilih Bali sebagai destinasi awal. Dari Bali lima destinasi baru itu hanya efektif dijangkau dengan transportasi udara.

Masalahnya, tarif angkutan udara domestik di Indonesia sangat mahal sehingga Wisman yang mendarat di Bali akan berpikir dua kali jika ini melanjutkan perjalanan ke salah satu dari lima destinasi baru itu. Bisa jadi Wisman akan menghabiskan waktu liburan di Bali. Sebagian melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta untuk ke Borobudur.

Untuk ke Labuan Bajo dari Denpasar saja ongkosnya mencapai Rp 2,2 juta. Sedangkan ke Danau Toba dari Denpasar Rp 2,1 juta. Untuk sampai ke Manado dari Denpasar ongkosnya Rp 1,5 juta.

Rata-rata lama tinggal Wisman di Indonesia (BPS, 2016) tertinggi adalah Swedia dengan 15,40 hari disusul Belanda 15,37 hari, Swiss 15,13 hari, dan Jerman 15,11. Sedangkan Australia 10,2 hari. Dari angka-angka ini ada kemungkinan Wisman dari negara-negara dengan lama tinggal tertinggi akan mengunjungi dua destinasi yaitu Bali dan Yogyakarta atau sebaliknya. Bisa juga ke destinasi lain. Sedangkan Wisman Australia tampaknya menghabiskan waktu di Bali.

Wisman dari Brunei hanya tinggal 5,36 hari dan Malaysia 5,14 hari. Sedangkan Wisman Singapura hanya tinggal 4,35 hari. Ini menggambarkan Wisman dari negara-negara ini kemungkinan besar hanya mengunjungi satu destinasi wisata.

Bukan hanya Wisman, bagi Wisnus pun ongkos angkutan udara di Indonesia sangat mahal sehingga ada yang memilih liburan ke luar negeri. []

Berita terkait
Lima Kawasan Super Prioritas Bali Baru
Sebagian orang di dunia lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Pesona Bali yang tak tertandingi membuat pemerintah menciptakan lima Bali baru.
Menyoal Langkah Kemenparekraf Kembangkan Pariwisata
Tampaknya, Kemenparekraf tidak bisa mengembangkan pariwisata di luar Bali dan Yogyakarta bahkan cenderung mendopleng dengan isu wisata halal
Wamen Pariwisata Angela Tanoesudibjo Tingkatkan Inbound
Di kawasan Asia Pasifik jumlah warga Indonesia yang berlibur ke luar negeri (outbound) tertinggi, tugas Wamenpar Angela tingkatkan inbound
0
Belasan Begal Sadis di Makassar Ditangkap
Komplotan begal sadis di kota Makassar berhasil ditangkap unit Resmob Polsek Panakukang. Sembilan dari 11 pelaku masih di bawah umur.