Jakarta, (Tagar 5/1/2019) - Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan kekagumannya pada Presiden Joko Widodo, semangatnya untuk bergerak menghampiri rakyat dan memantau proyek-proyek pembangunan secara langsung. 

JK menyatakan itu dalam buku Menuju Cahaya karya Albertiene Endah. 

Berikut ini testimoni selengkapnya Jusuf Kalla dalam buku tersebut:

"Mendampingi Pak Jokowi sebagai Wakil Presiden periode 2014-2019 adalah suatu pengalaman penuh makna bagi saya. Banyak tantangan di hadapan kami. Indonesia saat kami pimpin adalah Indonesia yang memiliki segudang persoalan. 

Birokrasi yang harus ditata karena masih terlihat ruwet. Perdagangan hasil bumi atau raw material yang menjadi kekuatan ekonomi kita harganya tidak stabil. Persoalan di ranah pendidikan dan kesehatan. Angka pengangguran dan lapangan pekerjaan. Stabilitas politik dan keamanan. Banyak.

Saya memiliki visi yang sama dengan Pak Jokowi bahwa banyak problem itu bisa diatasi jika pertumbuhan ekonomi kita kuat. Pertumbuhan ekonomi suatu negara baru bisa dibilang kuat jika mencapai 6% atau 7%, sedangkan kita baru mencapai 5%.

Pak Jokowi kemudian menciptakan langkah-langkah strategis yang mengurai persoalan. Pembangunan infrastruktur dilaksanakan karena itu merupakan kebutuhan yang sangat vital. Dengan infrastruktur yang memadai, Indonesia akan lebih mudah melancarkan segala sesuatu, perekonomian, akses pendidikan, akses kesehatan, dan sebagainya. 

Ketika investasi bertambah baik di negara ini, dengan sendirinya angka pengangguran menurun karena lapangan kerja bertambah. Di sisi lain, untuk mendukung terlaksananya cita-cita itu, beberapa urusan lain dihemat dulu. Ditahan dulu. 

Seperti moratorium untuk penambahan pegawai negeri, pembangunan gedung-gedung, juga pemekaran wilayah. Semua di-stop dulu agar pemerintah bisa berkonsentrasi menyelesaikan proyek-proyek yang lebih urgent dibutuhkan rakyat. Penambahan pegawai negeri hanya terjadi di sektor pendidikan dan kesehatan.

Pak Jokowi menunjukkan komitmen yang tinggi dan konsistensi yang tidak diragukan lagi. Ia membangun budaya kerja yang luar biasa bersama Kabinet Kerja sehingga rasanya tiada hari tanpa kerja, kerja, dan kerja. Kabinet ini dinamis sekali.

Jokowi-JKPresiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. (Foto: Biro Pers Setpres)

Pak Jokowi adalah pemimpin yang selalu mengambil keputusan setelah menggelar rapat. Semua hal perlu dirapatkan, baik itu rapat kabinet, rapat terbatas, atau hanya dengan satu orang menteri saja. Intinya beliau ingin semua yang terlibat turut mencurahkan pemikiran. Dalam pelaksanaannya, hal-hal spontan kadang ia lakukan. Namun, tentu prinsip dasarnya telah diketahui dan disetujui oleh rapat.

Tidak ada waktu yang terbuang. Yang saya kagum dari Pak Jokowi adalah semangatnya untuk bergerak menghampiri rakyat dan memantau proyek-proyek pembangunan secara langsung. Sampai ke pelosok ia datangi langsung. 

Perjalanannya ke daerah begitu sering dan padat jadwal. Di Jakarta pun ia rutin mengadakan rapat, blusukan, dan mendatangi berbagai acara. Sangat melelahkan, sudah pasti. Tapi hebatnya, ia seperti tidak punya rasa letih. Stamina dan semangat Pak Jokowi membuat saya sangat salut.

Banyak yang mengatakan di era kepemimpinan kami, konon, keributan SARA banyak terjadi. Tunggu dulu. Mari kita renungkan. Ini sebenarnya dipengaruhi oleh keberadaan media sosial yang semakin hidup. Reformasi menyodorkan konsekuensi logis, yakni demokrasi, kebebasan pers, keterbukaan, dan hak berpendapat.

Semua itu menjadi semakin membahana ketika dipengaruhi oleh teknologi informasi yang semakin maju. Maka maraklah kita mendengar riuhnya suara dari media sosial. Hanya di media sosial 'pertempuran' itu terjadi.

Bandingkan dengan saat saya menjadi menteri belasan tahun lalu. Konflik berbau SARA pecah menjadi pertempuran langsung. Adu fisik. Saling membunuh. Konflik Ambon, Poso, dan Sampit sangat mengerikan, sedangkan kini keributan berbasis SARA paling riuh di media sosial.

Bersama Pak Jokowi, kami berusaha terus teguh menjalankan program pembangunan yang telah dikonsepkan. Tentu semua ini tak terbebas dari kritikan. Jika kami dikritik, sikap kami terbuka. Yakni, menjawab dengan wajar dan apa adanya. 

Baik saya maupun Pak Jokowi memiliki rutinitas menggelar jumpa pers. Saya sendiri setiap hari Selasa menggelar jumpa pers untuk memberi penjelasan atau meluruskan kabar yang keliru. Pemberitaan yang salah harus kami luruskan, karena jika tidak nanti akan dijadikan kebenaran.

Semoga Allah senantiasa melindungi bangsa ini dan memberi kekuatan pada kami yang diberi kepercayaan untuk memimpin Indonesia agar bisa mencapai cita-cita indah bagi Indonesia. []