Jepang Protes Agresivitas Beijing di Laut China Timur

Jepang manfaatkan kunjungan Menlu China untuk protes peningkatan aktivitas Beijing di sekitar pulau-pulau yang disengketakan di Laut China Timur
Kapal survei pemerintah Kota Tokyo berlayar di sekitar sekelompok pulau yang disengketakan yang dikenal sebagai Senkaku di Jepang dan Diaoyu di China dalam gambar yang diambil oleh Kyodo 2 September 2012. (Foto: voaindonesia.com/Reuters)

Tokyo – Jepang memanfaatkan kunjungan Menteri Luar Negeri China, 25 November 2020, untuk memprotes peningkatan aktivitas Beijing dan apa yang disebutnya infiltrasi di sekitar pulau-pulau yang disengketakan di Laut China Timur. Kedua belah pihak sebelumnya sepakat untuk menghindari tindakan provokatif di wilayah yang diperebutkan itu.

“Situasinya sangat serius,'' kata Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Katsunobu Kato kepada wartawan setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi, yang tiba di Tokyo, 24 November 2020, untuk kunjungan selama dua hari.

Hubungan antara kedua negara telah menegang karena sengketa wilayah dan sejarah masa perang. Meski demikian, hubungan itu telah membaik dalam beberapa tahun terakhir.

Sengketa teritorial kedua negara berpusat di pulau-pulau di Laut China Timur yang dikuasai Jepang, yang oleh Jepang disebut Senkaku, sementara China menyebutnya Diaoyu. Kapal-kapal penjaga pantai China telah meningkatkan aktivitasnya di sekitar pulau-pulau itu meskipun ada protes dan peringatan dari otoritas Jepang.

Kato mengatakan pemerintah Jepang mengajukan protes pada Rabu, 25 November 2020, setelah kapal-kapal China memasuki kawasan dekat perairan Jepang untuk ke-306 kalinya tahun ini.

“Saya menyampaikan (kepada Wang) keprihatinan kami tentang aktivitas kapal-kapal pemerintah China di sekitar pulau-pulau itu dan meminta langkah positif dari China,'' kata Kato. Kato mengatakan Wang mengungkapkan kepadanya bahwa China berharap dapat menjalin hubungan yang positif dengan Jepang dan memainkan peran konstruktif di kawasan itu.

Pada Selasa, 24 November 2020, Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, dan Wang sepakat untuk berusaha tidak meningkatkan ketegangan di sekitar pulau-pulau itu.

Kedua menteri luar negeri itu juga sepakat untuk memulai kembali perjalanan bisnis antara ekonomi terbesar kedua dan ketiga dunia itu melalui program “jalur bisnis'' yang akan memungkinkan para pengunjung terlibat dalam kegiatan terbatas selama periode karantina 14 hari mereka.

Mereka juga sepakat untuk bekerja sama dalam perubahan iklim, konservasi energi, perawatan kesehatan, dan perdagangan digital sebagai bagian dari kerja sama ekonomi mereka.

Wang diperkirakan akan bertemu dengan Perdana Menteri Yoshihide Suga, Rabu, 25 November 2020. Jika terlaksana, ini akan menjadi pertemuan pertama seorang pejabat tinggi China dengan pemimpin Jepang sejak kunjungan kepala kebijakan luar negeri China Yang Jiechi pada Februari lalu.

Kunjungan Wang berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang pengaruh China yang meningkat di wilayah tersebut. Jepang mengusahakan kemitraan militer dan ekonomi dengan negara-negara di kawasan Indo-Pasifik untuk melawan kebangkitan China.

Setelah kunjungannya ke Jepang, Wang akan mengadakan sejumlah pertemuan di Korea Selatan (ab/uh)/voaindonesia.com. []

Berita terkait
PM Jepang: Jaga Kestabilan di Laut China Selatan
PM Jepang, Shinzo Abe mengatakan kepada PM China, Li Keqiang, tak ada peningkatan hubungan bilateral tanpa kestabilan di Laut China Selatan
0
Simak 5 Aplikasi dan Situs Simulasi Tes CPNS
Terdapat lima aplikasi dan situs simulai tes CPNS 2021 yang sudah disiapkan untuk mengisi kota sebanyak 105.777 dari 189.102 formasi ASN yang ada.