UNTUK INDONESIA
Investigasi: Lapis Bawah Sindikat Pajak Mobil Mewah
Pengemplang pajak mobil mewah menggunakan KTP orang untuk mengelabui pajak. Ada sindikat pemburu KTP dengan korbannya para orang kecil.
Razia pajak mobil mewah oleh Badan Pajak dan Retribusi Daerah (BPRD) DKI, 13 Desember 2019. (Foto: Tagar/Edy Yuliansyah S)

Kontrakan seluas 2 x 6 meter persegi itu terletak di sebuah lorong padat di Kelurahan Krukut, Taman Sari, Jakarta Barat. Perlu jalan kaki sekitar seratus meter melewati sebuah gang yang hanya bisa dilalui satu mobil sebelum sampai tempat itu. Di situlah Dadang Supriadi, 44 tahun dan istrinya Endang Herawati, 40 tahun, berdiam, mengontrak bilik itu Rp 600 ribu sebulan. Di sebelah mereka, di kamar yang juga seluas 2 x 6 meter persegi, berdiam empat anak mereka. Yang sulung duduk di bangku akhir SMA dan si bungsu masih sekolah dasar.

Akhir bulan lalu Tagar menemui Dadang yang sehari-hari bekerja serabutan itu. Berbekal informasi dari sejumlah sumber yang menyebut Endang, istrinya, namanya dipakai “sindikat pengemplang pajak mobil mewah,” dan bertanya ke sejumlah orang di seputaran Krukut, akhirnya Tagar menemukan tempat tinggal Dadang. “Sebulan saya bayar Rp 1.200.000 untuk sewa dua kamar ini,” kata Dadang.

Petang itu Dadang tengah leyeh-leyeh. Tubuhnya tersandar di dinding kamar kontrakan. Ia baru pulang kerja. Ada pun Endang asyik ngemil di dekat pintu masuk. Tak ada benda istimewa di dalam ruangan tersebut. Satu-satunya benda “mewah” televisi tabung 14 inci yang terletak di atas lemari kayu setinggi dada orang dewasa yang terpacak di sudut ruang. Endang agak terkejut ketika Tagar meminta informasi perihal kebenaran namanya dipakai para sindikat pengemplang pajak untuk “membeli” mobil Ferrari. “Boro-boro beli mobil, untuk bayar kos-kosan saja ngosngosan,” ujar Endang.

Lantaran nama pemilik di STNK bukan berarti nama “pemilik sah” mobil, petugas pajak kerap terkecoh saat mendatangi alamat yang ada di STNK.

Tercatat sebagai “pemilik” mobil senilai Rp 6 miliar itu memang mengagetkan Dadang. Dadang mengaku, dirinya terkejut alang kepalang saat diberitahu nama istrinya tercatat sebagai pemilik Ferrari. Saat itu, November 2019, ia pergi ke Kantor Samsat Jakarta Barat untuk mengurus Surat Tanda Kendaraan Bermotor (STNK)-nya yang sudah dijualnya. “Saat itu petugas Samsat memberitahu istri saya namanya tercatat sebagai pemilik mobil Ferari,” kata Dadang. “Tapi, sekarang sudah diblokir karena petugas akhirnya tahu, kami ini hanya korban, KTP kami disalahgunakan,” kata Endang.

Endang mengaku kartu tanda penduduk -KTP-nya pernah dipinjam tetangganya dengan imbalan duit Rp 400 ribu. Saat itu ia mengaku tak menaruh curiga apa pun terhadap tetangganya itu. ”Percaya aja, namanya juga tetangga,” ujarnya. Sang peminjam juga menjamin tak lama. “Saya tak mau namanya dipublikasikan,” ujar Endang saat Tagar bertanya siapa nama tetangga tersebut.

Belakangan, ternyata janji “sebentar” itu hanya tinggal janji. Kartu identitas penduduknya tersebut tak pernah kembali. Ia menduga peminjaman KTP-nya itulah yang membuat namanya muncul sebagai pemilik Ferrari di STNK kendaraan tersebut. Sampai kini KTP-nya belum balik. “Setiap diminta katanya belum selesai,” ujarnya.

Modus menggunakan KTP orang merupakan salah satu cara para pemilik mobil mewah mengakali kewajiban membayar pajak mobil mereka. Di Jakarta, hingga akhir Desember lalu, Badan Pajak dan Retribusi Daerah (BPRD) DKI Jakarta, mencatat ada sekitar 1.100 mobil mewah menunggak pajak per-September 2019. Jika dihitung nilai tunggakan itu terhitung luar biasa, sekitar Rp 37 miliar.

Menurut Kepala Peyuluhan dan Pelayanan Informasi BPRD DKI, Mulyo Susongko, para pemilik mobil mewah mengakali kewajibannya dengan cara memakai nama orang lain untuk STNK mobil mewah yang mereka beli. Cara itu sekaligus untuk menghindari pajak progresif. Pajak sebuah mobil mewah, artinya harganya di atas Rp 1 miliar, memang “wah.” Untuk Ferrari misalnya, pajaknya sekitar Rp 126 juta setahun.

Harga itu tentu naik lagi jika mereka sebelumnya sudah punya mobil. Dengan nama dan domisili berbeda pemiliknya tak akan membayar setinggi itu -atau bahkan kemudian tak membayar pajak rutin karena toh petugas pajak sulit menemukan di mana keberadaan pemilik sebenarnya.

Mobil MewahIlustrasi penyitaan mobil mewah. (Foto: Antara/Wahyu Putro A)

Lantaran nama pemilik di STNK bukan berarti nama “pemilik sah” mobil, petugas pajak kerap terkecoh saat mendatangi alamat yang ada di STNK. Misalnya rumahnya berada di gang sempit yang sama sekali jelas tak mencerminkan pemiliknya atau pekerjaan pemilik mobil itu buruh serabutan semacam Dadang dan Endang. Karena itulah sepanjang Desember lalu BPRD merazia sejumlah mobil mewah yang dari catatan mereka belum bayar pajak. Untuk tahap pertama, tindakan itu berupa peringatan segera melunasi pajak.

Modus pemakaian nama orang lain di STNK jelas merupakan penipuan. Para korbannya sebagian besar orang kecil yang diiming-imingi uang ratusan ribu oleh para “sindikat pencari KTP” untuk nama STNK mobil mewah tersebut. Menurut Staf Humas BPRD, Dwi Wahyu, ada show room yang menawarkan KTP orang lain kepada calon pembelinya. “Layanan tambahan ini khususnya ditawarkan kepada calon pembeli yang telah memiliki kendaraan roda empat agar terhindar dari pajak progresif,” ujar Dwi.

Untuk memuluskan akal-akalan itu, maka yang paling pertama bergerak adalah “sindikat lapis bawah,” yang tugasnya mencari KTP. Begitu KTP di tangan, maka urusan selanjutnya, show room akan menyerahkan ke biro jasa. “Nama di STNK dan BPKB akan muncul sesuai nama KTP pinjaman itu,” kata Dwi.

***

KORBAN lain dari sindikat ini adalah Soroto Gembong, warga Kecamatan Duren Sawit , Jakarta Timur. Pria ini namanya tercantum pada STNK sebagai pemilik mobil BMW, mobil yang setahun pajaknya sekitar Rp 15 – Rp 20 juta. Kepada Tagar yang menjumpai Soroto di kediamannya di Kelurahan Pondok Kelapa, pria 60 tahun ini menyebut sebuah nama: Toharin. “Enam tahun lalu dia meminjam KTP saya,” ujarnya. Tak hanya KTP-nya, juga KTP anaknya. Semua diembat Toharin.

Menurut Soroto sehari-hari Toharin bekerja sebagai karyawan show room “Duta Motor” di daerah Pacenongan, Jakarta Pusat. Nama show room “Duta Motor” pernah masuk pusaran kasus korupsi Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan bendahara partai itu , Muhammad Nazaruddin pada 2013. Dari show room itulah Nazaruddin membeli mobil mewah Toyota Harrier yang kemudian ia “hadiahkan’ kepada Anas.

Pada Tagar Soroto menyebut tak kurang 50-an warga Kelurahan Pondok Kelapa yang KTP-nya dipinjam Toharin dengan imbalan duit, untuk satu KTP, sekitar Rp 250 ribu. Soroto, yang juga mendapat fulus Rp 250 ribu dari Toharin, mengaku tak keberatan KTP-nya dipinjam karena dirinya yakin tetangganya tersebut tak akan mencelakannya. “Saya mengenal dia sejak dia bujang sampai punya anak,” kata lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan tersebut. Menurut Soroto ia tahu namanya digunakan untuk urusan mobil. Karena itu setiap datang surat tagihan pajak mobil, surat tersebut langsung ia berikan ke Toharin.

Tersambung secara online dalam sistem perpajakan -yang antara lain meliputi Dinas Kependudukan-- para pemilik kendaraan roda empat memang tak akan mendapat fasilitas KJP.

Tagar mendatangi rumah Toharin, “pengepul KTP mobil mewah” yang juga beralamat di Pondok Kelapa pada Jumat, 7 Februari lalu. Pria itu ternyata sudah pulang ke kampung halamannya, di Cepu, Jawa Tengah. Rumahnya, yang kini didiami anaknya, terkunci. 

Menurut sejumlah warga, Toharin pindah dari tempat itu setelah pada November 2019 silam rumahnya digeruduk puluhan ibu-ibu yang KTP-nya dipinjam Toharin. Itu lantaran datangnya surat dari sekolah ke para pemilik KTP yang mengabarkan Dinas Pendidikan DKI akan mencabut KJP (Kartu Jakarta Pintar -fasilitas yang membuat siswa gratis memperoleh sejumlah keperluan pendidikan) mereka. Tersambung secara online dalam sistem perpajakan -yang antara lain meliputi Dinas Kependudukan-- para pemilik kendaraan roda empat memang tak akan mendapat fasilitas KJP.

Tak berapa lama setelah demo ibu-ibu, warga lagi-lagi dikejutkan datangnya sejumlah polisi, tentara, petugas pajak, juga Wali Kota Jakarta Timur yang mencari Toharin. “Ini peristiwa yang tak akan pernah kami lupakan,” ujar Soroto menggambarkan hebohnya warga saat rombongan itu mendatangi rumah Toharin. Tak berselang lama, Toharin angkat kaki dari Pondok Kelapa.

***

Orang seperti Toharin inilah “ujung tombak,” lapis terbawah sindikat pemburu KTP untuk mengemplang pajak mobil mewah. Penelusuran Tagar, setelah menanyakan sejumlah warga di Taman Sari, juga menemukan Syarifudin yang perannya seperti Toharin. Syarifudin inilah yang juga meminjam KTP Endang “pemilik” Ferrari itu.

Ditemui di rumahnya, Syarifudin, biasa dipanggil Udin, tergeletak di atas dipan. Sejak lima bulan lalu ia terkena stroke: dua kakinya layu, tak bisa digerakkan. “Katanya belum selesai,” ujarnya ketika Tagar menanyakan kenapa ia tak mengembalikan KTP Endang. Menurut Udin hingga kini tak ada orang yang mengomplain perihal KTP mereka yang ia pinjam. “Karena mereka kan juga dapat duit,” ujar bapak empat anak itu.

Menurut Udin, selama ini ia bekerja untuk bosnya, Sahil, yang biasa mengurus surat-surat kendaraan di Kepolisian Polda Metro Jaya. Ia pernah mendengar KTP yang ia setorkan itu kemudian dibawa Sahil ke showroom di Kawasan Cideng, Jakarta Pusat. “Cari saja di Polda, nama Sahil Arab, semua tahu,” ujarnya.

Komunikasi Sahil ke Udin dalam penyediaan KTP terbilang praktis. Sahil cukup menelpon Udin, dan Udin dengan sigap mencarikannya. “Cariin KTP Din,” ujar Udin menirukan bagaimana bosnya biasa menelpon. Lalu ia pun bergerilya, mencari tetangganya yang mau meminjamkan KTP-nya dengan tawaran duit antara Rp 250 ribu – Rp 500 ribu. Ia sendiri dapat duit dari Sahil Rp 500.000. “Saya cuma ojek, antarsana-antarsini saja,” katanya.

Penyitaan Mobil MewahRazia pajak mobil mewah oleh Badan Pajak dan Retribusi Daerah (BPRD) DKI, 13 Desember 2019. (Foto: Tagar/Edy Yuliansyah S)

***

SAHIL Arab rupanya sudah jarang bertandang ke Markas Polda Metro Jaya. Menurut seorang juru parkir, Sahil sudah hampir setahun tak muncul di Polda. Pekan lalu, ketika Tagar kembali lagi ke sana, seseorang meminta Tagar menemui seorang lelaki bernama Rudi yang ia sebut anak buah Sahil. “Di gedung itu,” ujar pria itu menunjuk Gedung Samsat yang berkelir putih.

Ditemui di lantai dua gedung itu -loket pengurusan surat-surat- Rudi mengaku memang mengenal Sahil. Seperti Sahil, Rudi juga membuka “biro jasa” mengurus surat-surat kendaraan. Rudi membenarkan jika Sahil tak lagi sering ke Polda. “Kalau sore dia banyak di rumah,” ujar Rudi.

Sahil tinggal di sebuah rumah di Kawasan Kelapa Dua, Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Rumahnya berlantai dua dan sebuah mobil SUV warna hitam mulus terparkir di carport. Ditemui Tagar pekan lalu, ia baru selesai mandi. Wajahnya yang bercambang tampak segar. Tubuhnya dibalut kaos dan pinggangnya ke bawah dibalut handuk. Di tangannya sebatang rokok menyala. Bicaranya kental berlogat Betawi dengan loe gue-loe gue.

Sahil mengakui pekerjaannya sebagai biro jasa mengurus STNK. Ketika Tagar bertanya apakah ia bisa membantu jika ada orang akan membeli mobil lagi tapi ingin pajaknya tak kena progresif ia menyanggupi. “Kita Blokir kepemilikan mobil pertama,” ujarnya. Saat Tagar bertanya apakah ia kenal Udin, yang biasa meminjamkan KTP ia mengangguk. “Bekas sopir gue,” ujarnya. Sekitar setengah jam berbincang perihal bagaimana agar pajak mobil bisa “dimainkan,” Sahil dengan tangkas menyatakan bisa membantu.

Selasa, 25 Februari 2020, ketika Tagar kembali menghubunginya dan menanyakan benarkah ia kerap menyuruh Udin mencarikan KTP untuk dipakai sebagai nama pemilik mobil mewah, Sahil langsung menampik. “Saya tidak pernah nyuruh-nyuruh begitu, Udin itu cuma sopir saya,” katanya.

***

TERLETAK di Kawasan Jalan Pacenongan, Jakarta Pusat, Duta Motor termasuk salah satu show room mobil terkenal di ibu kota. Show room ini selain menjual mobil baru, juga menyediakan mobil second alias bekas -tapi masih mulus.

Senin, 24 Februari 2020, saat Tagar mendatangi show room itu terlihat sejumlah mobil mewah, terutama jenis sedan, terpajang di ruang depannya yang lapang. Dua karyawan Duta terlihat melayani tamu mereka.

Seorang karyawan Duta -ia tampak senior dibanding karyawan lain- mengakui Toharin pernah bekerja di Duta Motor. Di sini ia biasa dipanggil “Tohir."  “ Tiga bulan lalu dia keluar, katanya mau dagang bakso,” ujarnya. Soal adanya “KTP pinjaman” untuk STNK pada mobil-mobil yang dijual di Duta, ia tak menampik. “Biasanya yang meminta customer kami dari luar Jakarta,” ujarnya. Lalu ia menambahkan, “Semua show room juga begitu.” Ia wanti-wanti namanya tidak ditulis. “Tulis saja karyawan,” katanya.

Duta MotorDuta Motor. (Foto: Tagar/Edy Yuliansyah Syarif)

Karyawan yang ikut mengurusi manajemen Duta Motor ini menegaskan, pihaknya tidak pernah memaksa siapa pun meminjamkan KTP. Dia menolak jika disebut Duta yang menyarankan pembeli mobil di show room mereka memakai KTP orang, dan mereka yang menyediakan, demi menghindari pajak progresif. “Ada yang menawarkan KTP, istilahnya orang butuh uang, kebetulan mereka punya KTP. Take and give-lah,” ujarnya. Menurut dia, jika pun pemilik KTP keberatan, “Mereka juga bisa mencabut, memblokir…”

Karyawan Duta ini bisa berkeras pihaknya tak terlibat atau memfasilitasi soal pemakaian KTP orang. Tapi, sumber Tagar menyebut pihak show room, seperti Duta ini-lah yang memberi jalan keluar kepada customer bagaimana mengakali pajak mobil agar mereka tak merogoh kocek dalam-dalam. Di Duta, Tohir-lah yang diperintahkan mencari KTP itu dengan iming-iming Rp 250  ribu untuk per-KTP.

Saat sekitar tiga bulan lalu Badan Pajak dan Retribusi Daerah DKI menggelar Razia kepada pemilik mobil mewah penunggak pajak, nama Toharin alias Tohir pun muncul: pengepul KTP. Duta tampaknya tak mau disangkutpautkan, lalu memilih cara cepat: memberhentikannya. “Tohir itu tidak diberhentikan, tapi dipecat,” ujar seorang pegawai Duta Motor kepada Tagar. Hal sama juga dikatakan tetangga Toharin. “Dia bilang, dia diberhentikan dari tempat kerjanya.” []

Infografis: Mewah di Tunggangan, Berkelit di Pajak

Wawancara Korban Peminjaman KTP untuk Mobil Mewah

Endang Herawati dan suaminya, Dadang Supriadi, hanya bisa terperangah ketika petugas Kantor Samsat menyebut mereka belum membayar pajak mobil Ferrarinya – mobil yang dipasaran harganya sekitar Rp 6 miliar. Saat itu, Dadang tengah mengurus surat sepeda motornya di kantor tersebut. Jelas ia menampik memiliki mobil itu. “Bayar kos-kosan saja, ngos-ngosan,” ujar Endang kepada Tagar yang menemuinya di kontrakan mereka di daerah Taman Sari, Jakarta Pusat.

Di tempat kontrakan yang sama, berdiam pula empat anak mereka. Tak ada perabotan menonjol di “ruang tamu”nya itu selain sebuah lemari setinggi bahu orang dewasa dan TV tabung 14 inci. Endang, 40 tahun, adalah korban “peminjaman KTP” untuk mengelabuhi pajak pemilik mobil mewah. Di ruang tamunya itu Dadang dan Endang menceritakan awal mula identitasnya dipakai sebagai “pemilik” mobil mewah.

Kapan Anda pertama kali tahu nama istri Anda masuk daftar pemilik mobil mewah yang belum bayar pajak?

Dadang: Pada November 2019. Ketika itu saya khawatir KJP (Kartu Jakarta Pintar, red) anak-anak saya diblokir karena pernah punya tiga motor. Kan syarat KJP itu tidak boleh punya kendaraan roda dua lebih dari dua atau tiga.

Endang: Saya minta suami saya memblokir tiga motor itu di Samsat Jakarta Barat. Soalnya, semua motor itu sudah dijual.

Dadang: Sesampainya di samsat, nama istri saya Endang di sana disebut memiliki Ferari. Akhirnya saya ingat, ya itu karena KTP-nya pernah dipinjam.

Dia cuma bilang, saya mau meminjam KTP. Tapi tujuannya apa saya sih tidak tahu

Lantas apa yang Anda lakukan setelah itu?

Dadang: Kami blokir. Saya buat surat pernyataan tidak punya (mobil itu). Saya segera blokir supaya KJP empat anak saya tidak ikut terblokir.

Apa kata petugas Samsat ketika itu?

Dadang: Dia juga kaget waktu membaca bahwa istri saya punya mobil Ferari. Dia kan tahu keadaan saya, masa saya ngontrak begini punya mobil mewah. Bagamana bisa kami beli Ferari, cari biaya ngontrak aja ngos-ngosan.

Siapa yang meminjam KTP Anda?

Endang: Saya tak mau dipublikasikan namanya.

Apakah dia bekerja di showroom mobil mewah?

Dadang: Iya dia bekerja di showroom. Pasti dia bekerja untuk broker besar juga, pasti dapat untung besar. Sebagian dari keluarganya juga pernah dipinjam KTP-nya untuk mobil mewah, termasuk untuk mobil Alphard.

Apa show room-nya juga terlibat?

Dadang: Ya memang kerjanya di showroom

Apa yang dia bilang ke Anda ketika akan meminjam KTP?

Endang: Dia cuma bilang, saya mau meminjam KTP. Tapi tujuannya apa saya sih tidak tahu

Anda tidak curiga?

Endang: Tidak, karena tetangga.

Saat itu Anda langsung diberi uang?

Endang: Tidak, menunggu sehari. Jadi KTP saya dibawa dulu.

Berarti selama ini Anda tidak tahu digunakan untuk apa KTP istri Anda?

Dadang: Tidak tahu, tidak pernah kami menerima informasi untuk apa KTP itu digunakan.

Berapa banyak uang yang Anda terima dari meminjamkan KTP?

Endang: Empat ratus ribu rupiah. Tapi kan tidak sebanding dengan harga mobilnya dan masalah yang datang kemudian. Tapi bukan kita saja sih yang kena, di daerah sini banyak yang kena.

Ada berapa orang yang dipinjam KTP-nya di tempat Anda tinggal?

Endang: Hampir 15 orang korbannya, termasuk saudaranyanya sendiri, ibunya, istrinya.

Anda pernah bertanya untuk apa dia meminjam KTP Anda dengan imbalan duit itu?

Endang: Tidak, karena kami tidak pernah berpikir masalahnya sampai begini.

Berapa lama dia meminjam KTP?

Endang: Sampai sekarang tidak dibalikin

Apakah memang dia mengatakan tidak akan mengembalikan?

Endang: Perjanjiannya bukan begitu. Dia bilang meminjam sehari doang.

Apakah Anda pernah menagih KTP Anda setelah itu?

Endang: Pernah, dia jawabnya, “dipakai dulu”

Apakah Anda pernah melihat mobil mewah, mobil Ferari itu?

Endang: Tidak pernah

Pernah mendengar nama pemilik mobilnya?

Endang: Tidak pernah. []

Berita terkait
Mercedes-Benz Tetap Nomor Satu Pasar Mobil Mewah
Mercedes-Benz berhasil mempertahankan peringkat pertama penjualan dalam pasar mobil mewah Indonesia yang sudah disandangnya sejak 2016.
Marak Penyelundupan, Berapa Bea Impor Mobil Mewah?
Upaya pemberantasan praktik impor ilegal mobil mewah berkontribusi untuk memperbesar penerimaan negara.
Rumah Bamsoet Kena Banjir, Mobil Mewahnya Terendam
Rumah Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) di daerah Kemang, Jakarta Selatan juga ikut terendam air, terkena dampak banjir yang melanda Jakarta.
0
Unggah Foto Syur Tara Basro Terancam 6 Tahun Penjara
Menggunggah foto seksi di media sosial, artis Tara Basro terancam hukuman 6 tahun penjara, juga denda yang tak sedikit.