UNTUK INDONESIA
Inikah Sosok Pembuat Pidato 'Game of Thrones' Jokowi?
Banyak yang bertanya siapa di balik pidato Jokowi yang cemerlang, dengan analogi serial 'Game of Thrones'. Inilah jawabannya.
Presiden Joko Widodo menerima standing applause dari peserta Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018). (Foto: Antara/ICom/AM IMF-WBG/Puspa Perwitasari)

Jakarta, (Tagar 15/10/2018) - Presiden Joko Widodo dipuji-puji usai membacakan pidato dengan analogi film serial Game of Thrones di Annual Meeting IMF-World Bank Group (WBG) 2018, Nusa Dua, Bali. 

Banyak pejabat internasional tak segan mengutarakan kekagumannya terhadap pidato Jokowi.

Lalu, siapakah sosok pembuat pidato Jokowi yang bernuansa milenial itu?

1. Sri Mulyani

IMF-WBG: MENKEU TERIMA PENGHARGAANMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menunjukkan piala pada sesi Global Market Award Ceremony dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Sabtu (13/10/2018). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mendapatkan penghargaan Finance Minister of the Year for East Asia Pacific Awards dari majalah ekonomi Global Markets. (Foto: Antara/ICom/AM IMF-WBG/Anis Efizudin)

Menteri Keuangan Sri Mulyani sempat diduga terlibat dalam pembuatan pidato Game of Thrones. Namun, Sri Mulyani menampik terlibat dalam pembuatan pidato presiden.

Ia yang juga dipuji-puji karena mendapat penghargaan sebagai Menteri Keuangan Terbaik Asia Pasifik dari majalah ekonomi Global Markets, mengaku tak punya imajinasi seperti itu.

"Semua bertanya siapa yang menulis pidato, apakah kamu Sri Mulyani? Tidak, saya tidak punya imajinasi seperti itu," ujarnya dalam penutupan Annual Meetings IMF-WB 2018 di Nusa Dua, Bali, Minggu (14/10).

Baca juga: Pidato Lengkap 'Game of Thrones' Presiden Jokowi yang Menggugah Dunia

2. Tim Kabinet Kerja

Jokowi dan Anak-anakPresiden Joko Widodo (tengah) didampingi Ibu Negara Iriana (kedua kanan), Mendikbud Muhajir Effendy (kanan), Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf (kedua kiri) dan Pemerhati Anak Seto Mulyadi bertepuk tangan saat menyaksikan penampilan penyanyi cilik saat menggelar acara bermain, berdendang, dan berimajinasi bersama anak di halaman tengah Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (20/7/2018). Kegiatan menyaksikan film dan lagu yang memenangi lomba cipta lagu anak tahun 2018 yang diikuti ratusan anak tersebut untuk membangkitkan film dan lagu anak nasional. (Foto: Antara/Wahyu Putro A)

Mengutip Bisnis Indonesia, ada sosok yang mengomando pembuatan pidato Jokowi tersebut hingga akhirnya banjir pujian.

Staf Khusus Presiden Adita Irawati mengungkapkan, memang ide pidato itu datang dari Jokowi sendiri. Tapi kemudian dikerjakan oleh sebuah tim yang dikomandoi oleh satu menteri kabinet kerja.

Ternyata, tim yang sama dengan tim di balik pidato Jokowi dengan analogi film Avenger dengan tokoh antagonis Thanos.

3. Jokowi

Ilustrasi Jokowi HBOIlustrasi Foto Jokowi oleh HBOAsia. (Foto: Twitter/ @HBOAsia)

Dari banyak pertanyaan yang muncul siapakah sosok dari pembuat pidato dengan analogi film serial Game of Thrones, ternyata Jokowi lah yang memunculkan idenya sendiri. Hal itu diungkap oleh Staf Khusus Bidang Komunikasi Kepresidenan Johan Budi.

"Idenya sebagian dari Presiden. Memang Pak Presiden sangat inovatif termasuk pidato yang kita saksikan. Standing applaus dua kali. Presiden menggambarkan dunia menghadapi persaingan global yang dianalogikan cerita Game of Thrones. Winter is coming," jelasnya di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10).

Bahkan, jika menilik ke belakang, menurutnya, Jokowi juga pernah membuat pidato dengan analogi salah satu tokoh di film Avenger yakni Thanos. "Muncul ide-ide genuine dari Pak Presiden. Kemarin Thanos, terus vlog sama Raja Salman. Pak Jokowi yang punya ide kreatif," terang mantan Juru Bicara KPK ini.

Ide kreatif dari Jokowi, kemudian diolah oleh tim pembuat pidato. tetapi, Johan sendiri tidak tahu menahu siapa saja sosok dari tim yang dimaksudnya.

"Dan diterjemahkan dengan tim pembuat pidatonya. Kalau siapanya ya tentu di antaranya para pembantunya. Tetapi tidak tahu siapa," pungkasnya.

Pujian-Pujian

"Saya ingin berterima kasih pada Jokowi karena menaikkan standar dalam memberi pidato yang hebat dan meyakinkan. Wow," tutur Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde di Nusa Dua Bali, Jumat (12/10).

Ketua DPR Bambang Soesatyo juga menilai, Jokowi telah mampu menunjukkan kelasnya. Kemampuan pidato Jokowi dinilai cerdas dan milenial.

"Rasanya tidak banyak pemimpin dunia yang bisa mengaitkan tren milenial dalam pidato resmi yang memuat berbagai pemikiran yang tajam. Butuh kecerdasan dan kelihaian yang luar biasa untuk meramu kondisi perekonomian global dikaitkan dengan serial televisi Game of Thrones yang saat ini sedang populer. Pak Jokowi menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin dunia yang out of the box," ujar penerima The Best and The Next Legislator Award 2019 itu, di sela acara pertemuan tahunan IMF - World Bank di Bali, Jumat (12/10).

Bahkan, HBO Asia dalam Twitter-nya turut merespons pidato Jokowi, terkait serial Game Of Thrones yang tengah syuting untuk season berikutnya tersebut.

"Yeah, kami juga tak sabar menanti season 8, Pak Presiden. #GameOfThrones, tulis @HBOAsia pada 5:53 PM (12/10).

HBO Respon JokowiTweet HBO Asia, terkait pidato Presiden Joko Widodo soal film serial Games of Thrones. (Foto: Twitter/ @HBOAsia)

Jokowi Menjawab

Pidato yang viral dan banjir pujian tak lantas membuatnya Jumawa. Meski ia sendiri tak mengungkapkan siapa sosok dari pembuat pidato, apakah dirinya bersama tim pembuat pidato atau bukan, ia lebih memilih menerangkan alasan dari pidato dengan analogi winter is coming itu.

Saat menyampaikan orasi ilmiah di Sidang Senat Terbuka Universitas Kristen Indonesia (UKI), di Jakarta, Senin (15/10), Presiden Jokowi memberikan penjelasan tentang pidato Game of Thrones di Bali itu.

Berikut petikan pernyataan Presiden di UKI terkait pidato Game of Thrones:

"Pada kesempatan ini saya ingin sedikit menjelaskan kembali mengenai pidato saya pada pembukaan IMF di Bali tiga hari lalu. Karena ini banyak ramai. Sekali lagi, perhelatan ekonomi dan politik dunia saat ini diwarnai pertarungan antara kekuatan-kekuatan besar, antar negara-negara besar dan negara-negara elit. Perebutan kekuasaan antara kekuatan besar itu bagai roda besar berputar, seperti siklus kehidupan.

Satu negara elit tengah berjaya sementara negara lain mengalami kemunduran dan kehancuran. Tatkala kekuatan-kekuatan besar sibuk melawan satu sama lain mereka tidak sadar adanya ancaman yang lebih besar, misalnya perubahan iklim, terorisme global dan menurunnya ekonomi global.

Sebenarnya pesan moral utama yang ingin saya sampaikan pada saat itu adalah bahwa konfrontasi dan perselisihan akan mengakibatkan penderitaan. Bukan hanya yang kalah namun juga yang menang. Ketika kemenangan sudah dirayakan dan kekalahan diratapi baru keduanya sadar. Tapi sudah terlambat, sadarnya baru belakangan.

Bahwa kekalahan maupun kemenangan dalam perang selalu hasilnya sama yaitu dunia porak poranda. Tidak boleh melakukan kerusakan hanya untuk menghasilkan sebuah kemenangan. Tidak ada artinya kemenangan yang dirayakan di tengah kehancuran. Itulah pesan moral yang ingin saya sampaikan saat annual meeting itu.

Pesan moral yang saya sampaikan tidak hanya relevan dalam pemimpin dunia saat ini tapi juga tepat kita sampaikan kepada masyarakat, pemimpin-pemimpin kita dalam negeri terutama elit yang memperjuangkan kepentingannya. Saat ini kita memasuki tahun politik, semuanya sudah tahu. Dan masyarakat kita akan ikut terlibat dalam proses demokrasi dan kontestasi politik.

Memang kontestasi diikuti kompetisi dan rivalitas. Tapi kompetisi dan rivalitas itu dibangun di atas pondasi yang tidak saling menjatuhkan, kontestasi tidak boleh menimbulkan kegaduhan dan permusuhan, kebencian, kedengkian, tidak saling mencela, tidak harus saling memfitnah. Kontestasi tidak boleh menimbulkan kerusakan. Dan kontestasi tidak boleh mengorbankan fondasi kebangsaan kita. Pondasi sosial dan politik kita berupa stabiltas dan keamanan, toleransi dan persatuan.

Pondasi ekonomi kita berupa kepercayaan internasional serta kenyamanan dalam berusaha dan bekerja. Rakyat kita harus merayakan kontestasi ini dengan kegembiraan, ini sering saya sampaikan yang diwarnai oleh narasi sejuk, dan ide-ide kemajuan, gagasan untuk kemajuan, program-program untuk indonesia maju.

Dengan merayakan perbedaan pilihan dengan penuh kedewasaan, dengan penuh kematangan yang justru ini akan memperkokoh kebinekaan tunggal ika kita dan persatuan kita. Ini sebetulnya ingin kita raih dalam kontestasi politik.

Saya ingin menyadarkan pada Bapak Ibu saudara-saudara sekalian negara kita ini negara besar dengan banyak perbedaan. Beda suku, agama, suku, adat, bahasa, semuanya berbeda kita." []

Berita terkait
0
Berziarah ke Makam Tenggelam di Semarang
Di Semarang ada sebuah makam yang kala rob melanda berubah menjadi seperti laut. Saat itu, Warga harus berdoa di atas perahu saat ziarah