Indonesia
Ini Dia, Permainan untuk Mengurangi Gejala Hiperaktif pada Anak
Desain alat dirancang dimulai dengan mengumpulkan dasar teori masing-masing komponen.
Anak hiperaktif sedang melakukan permainan terapi yang merupakan hasil kreasi mahasiswa UNY. (Foto: Humas UNY)

Yogyakarta, (Tagar 8/2/2019) - Hiperaktif merupakan gangguan fungsi organ yang menyerang jutaan anak dan berlangsung sampai dewasa. Mereka cenderung rendah diri, sulit bergaul dan tidak berpretasi di sekolah. Dalam ilmu psikologi, mereka disebut attention defecit hyperactivity disorder (ADHD).

ADHD tidak dapat disembuhkan. Namun, dapat dikurangi gejalanya dengan cara terapi, obat, lingkungan dan mengubah tingkah laku. Intinya mereka membutuhkan terapi khusus serta diperlukan modifikasi perilaku untuk mengubah mereka.

Berangkat dari sini, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) membuat alat terapi sederhana namun terbukti bisa mengurangi gejala ADHD. Mereka adalah Deanira Mareta Vernelya dari Program Studi (Prodi) Ilmu Keolahragaan, Dzikrina Saras Kurnia (Prodi PJKR) dan Firhan Dedy Pramudya (Prodi Pendidikan Teknik Mesin).

Deanira mengatakan, ADHD merupakan kondisi medis yang mencakup disfungsi otak. Penderita ini mengalami kesulitan dalam mengendalikan impuls, menghambat perilaku serta dan rentang perhatian mudah teralihkan. 

"Itu menyebabkan si anak kesulitan belajar, berperilaku, bersosial dan kesulitan lain yang saling berkaitan," ungkap Deanira kepada Tagar News, Kamis (7/2).

Alat yang diciptakan ketiga mahasiswa ini berupa modifikasi sensor motorik, untuk melatih kemampuan koordinasi dan keseimbangan pada anak ADHD. Hebatnya, alat ini didesain seperti arena permainan anak.

Firhan menjelaskan, desain alat dirancang dimulai dengan mengumpulkan dasar teori masing-masing komponen. Peralatan yang dibutuhkan yakni papan, bola mainan, LED, sensor IR, komponen elektronik kontrol.

Modifikasi sensor motorik pada permainan untuk melatih kemampuan koordinasi dan kesabaran pada anak ADHD yang dirancang bekerja secara otomatis. Saat sensor IR mendeteksi seseorang sedang memegang salah satu bola.

Dia mengatakan, telapak tangan transparan dibuat memudahkan pencahayaan LED, sehingga  akan memancarkan warna sesuai dengan LED yang menyala. Untuk menghindari tabrakan warna, dipasang sistem interlocking LED. 

"Hanya ada satu warna yang menyala, saat anak memegang bola pada papan," ungkapnya.

Dzikrina menambahkan, alat ini sudah dilakukan pengujian untuk memastikan bagaimana alat ini dapat bekerja. Pengujian terdiri dari beberapa tahap yakni desain alat, sensor dan sistem alat, alat secara langsung kepada anak ADHD.

Tahap pengujian pertama yakni desain alat dengan menguji daya tarik alat. "Jika anak tertarik dengan desain yang warna-warni, pengujian pertama telah berhasil," ungkapnya.

Pengujian kedua berupa sensor dan sistem alat. Ini untuk mengetahui sistem bekerja secara benar serta tidak menimbulkan kekacauan tampilan warna. Pengujian dilakukan dengan memegang bola yang terdapat sensor berupa nyala lampu.

Pengujian terakhir, yaitu pengujian alat secara langsung kepada anak ADHD. Pengujian ini dengan cara anak ADHD memegang bola di papan yang sudah terdapat sensor lampu LED di kotak yang sudah dibuat.

Bola di dalam kotak menyala jika disentuh dengan tangan dengan warna yang berasal dari pancaran LED. 

"Anak ADHD akan diperintahkan untuk mengikuti arah warna tersebut," pungkasnya. []

Berita terkait
0
Menara Sound System Roboh Timpa Anak, Satu Tewas
Kemah Budaya Nasional (KBN) yang diadakan di Lapangan Chatib Soelaiman Kota Padang Panjang, Sumatera Barat memakan korban