UNTUK INDONESIA

Indonesia Menunggu Putusan Swiss Terkait Minyak Kelapa Sawit

Minyak kelapa sawit jadi fokus perjanjian perdagangan Swiss-Indonesia melalui pemilihan di Swiss pada tanggal 7 Maret 2021
Pekerja mengangkut tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Muara Sabak Barat, Tajungjabung Timur, Jambi, Jumat, 10 Juli 2020. Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat permintaan produk sawit dunia mulai bergerak naik yang ditandai naiknya harga Crude Palm Oil (CPO) pada Juli 2020 menjadi 662 dolar AS per metrik ton dibandingkan bulan sebelumnya yakni 569 dolar AS. (Foto: Antara/Wahdi Septiawan/pras)

Jakarta – Para pemilih Swiss akan memutuskan tentang perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan Indonesia pada Minggu, 7 Maret 2021. Isu utama adalah tarif impor minyak kelapa sawit. Berbagai jajak pendapat memprediksi referendum itu akan berlangsung ketat.

Swiss menandatangani perjanjian itu dengan Indonesia pada tahun 2018 bersama para anggota Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (EFTA), Norwegia dan Liechtenstein.

Di bawah FTA, kedua pihak akan secara bertahap mengurangi atau menghapus tarif-tarif impor pada produk-produk industri. Untuk minyak kelapa sawit, Swiss akan mengurangi tarif sekitar 20-40 persen untuk berat hingga 12.500 ton per tahun, tapi hanya jika standar kesinambungan dipenuhi.

patungPatung Helvetia di depan Gedung Parlemen Swiss (Bundeshaus) di Bern, Swiss, 13 Maret 2020 (Foto: voaindonesia.com - REUTERS/Denis Balibouse)

Indonesia adalah produsen utama minyak kelapa sawit dunia, yang digunakan dalam produk kosmetik, makanan dan bahan bakar hayati. Industri minyak kelapa sawit menghadapi kritikan dari para aktivis lingkungan dan konsumen. Mereka menyebut minyak kelapa sawit bertanggung jawab atas deforestasi, kebakaran hutan dan eksploitasi pekerja.

Pemerintah merekomendasikan FTA karena perjanjian itu dikatakan akan memberi akses yang lebih baik bagi Swiss yang berorientasi ekonomi pada pasar Indonesia yang berkembang. Perjanjian itu juga akan mempromosikan produksi minyak kelapa sawit berkesinambungan karena hanya minyak bersertifikasi yang bisa menikmati pengurangan tarif.

Swiss memiliki lebih dari 30 perjanjian perdagangan bebas dengan negara-negara di luar Uni Eropa dan EFTA. Uni Eropa juga merundingkan perjanjian perdagangan dengan Indonesia (vm/ka)/voaindonesia.com. []

Berita terkait
Indonesia Tolak Diskriminatif Terkait Isu Kelapa Sawit
Kedubes RI Swedia menggelar webinar peluang bisnis minyak nabati. Menyambut positif kerja sama minyak nabati Uni Eropa-ASEAN.
0
Indonesia Menunggu Putusan Swiss Terkait Minyak Kelapa Sawit
Minyak kelapa sawit jadi fokus perjanjian perdagangan Swiss-Indonesia melalui pemilihan di Swiss pada tanggal 7 Maret 2021