UNTUK INDONESIA
Ikhwanul Muslimin, Organisasi Islam yang Tumbuh di Mesir
Kematian Mohammed Morsi pemimpin organisasi Ikhwanul Muslimin mengejutkan dunia, khususnya masyarakat Mesir.
Siswa Palestina mendukung kelompok militan Hamas, sebuah organisasi yang secara ideologis terkait dengan Ikhwanul Muslimin, memegang poster yang menggambarkan Hassan Al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin, selama kampanye pemilihan dewan siswa di Universitas Politeknik Palestina di kota Tepi Barat, kota Tepi Barat. Hebron pada 20 April 2015. (Foto:pri.org)

Jakarta - Kematian mantan presiden pertama yang terpilih secara demokratis dalam sejarah modern Mesir, Mohammed Morsi pemimpin organisasi Ikhwanul Muslimin mengejutkan dunia. Sebab, terjadi tiba-tiba pada Senin, 17 Juni 2019, ketika menjalani persidangan atas tuduhan spionase di pengadilan Mesir.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sekutu terdekatnya menyalahkan pemerintah Mesir atas kematian Morsi. Emir Qatar dan Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani yang juga sekutu terdekatnya menyatakan "kesedihan mendalam" atas meninggalnya Mohammed Morsi.

Partai Kebebasan dan Keadilan yang mempunyai kedekatan dengan organisasi Ikhwanul Muslimin bahkan dengan berani menyatakan kematian Morsi identik dengan "pembunuhan". Partai ini mendesak para pendukungnya untuk berkumpul selama proses pemakaman dan berdemonstrasi di luar kedutaan besar Mesir di seluruh dunia.

Meski dijatuhi hukuman penjara sejak 2013, dukungan tak pernah terhenti padanya. Karena Morsi adalah pemimpin organisasi Ikhwanul Muslimin.

Apa itu organisasi Islam Ikhwanul Muslimin?

Ikhwanul Muslimin (IM) adalah sebuah organisasi yang lahir dari sebuah gerakan yang bertujuan menyatukan seluruh umat Islam pada Maret 1928. Didirikan Hassan Ahmed Abdel Rahman Muhammed al-Banna di kota Ismailiyah, Mesir, bersama keenam tokoh lain yaitu, Hafiz Abdul Hamid, Ahmad al-Khusairi, Fuad Ibrahim, Abdurrahman Hasbullah, Ismail Izz, dan Zaki al-Maghribi.

Sejak menyusun administrasi pada 1932, organisasi Ikhwanul Muslimin mulai melebarkan sayap organisasi di Suez, Abu Soweir, dan Al-Mahmoudiya. Dua tahun kemudian membentuk divisi Persaudaraan Muslimah untuk mewadahi wanita yang ingin bergabung dengan organisasi.

Ikhwanul Muslim berkembang pesat, menunjukan eksistensi dan menjadi pendukung utama kelompok Hamas di Gaza, Palestina. Organisasi ini terlibat dalam perang Arab-Israel pada 1948. 

Perdana Menteri Mahmoud al-Nukrashi Pasha kemudian membubarkan IM pada bulan Desember. Karena dianggap berbahaya setelah muncul rumor anggota militan di tubuh organisasi, diduga merencanakan kudeta terhadap pemerintahan Raja Farouk. Setelah itu menyita aset-aset organisasi dan memenjarakan anggotanya.

Berselang tiga minggu, anggota IM Abdel Meguid Ahmed Hassan, mahasiswa kedokteran hewan di Universitas King Fouad I melancarkan upaya pembunuhan terhadap Pasha. Dengan berseragam letnan berhasil menembak dua kali, hingga akhirnya meninggal di Gedung Kementerian Dalam Negeri.

Tindakan anggota Ikhwanul Muslimin pun dikecam oleh pemimpinnya, Al Banna sebagai tindakan teror yang dilarang dalam Islam. Namun, kecaman terhadap anggotanya tak mencegahnya terhindar dari target pembunuhan.

Pada 12 Februari 1949, Al Banna bersama saudara iparnya Abdul Karim Mansur ditembak ketika menunggu taksi di markas Jama'iyyat al-Shubban al-Muslimeen di Kairo, Mesir. Menurut kabar yang beredar pelakunya adalah anggota kepolisian rahasia suruhan Raja Farouk atas aksi balas dendam.

Ketua Parlemen Mesir Mustafa Nuhas Pasha pada 1950 mengembalikan peran organisasi ini karena menganggap pembekuan organisasi tidak sah dan inkonstitusional.

Ketika Mesir dibawah kepemimpinan Muhammad Najib, Ikhwanul Muslimin diminta ikut serta dalam rencana menggulingkan kekuasaan monarki Raja Faruk pada Revolusi Juli. Tapi, organisasi ini menolak karena rencana Revolusi Juli adalah membentuk Republik Mesir yang dikuasai oleh militer sepenuhnya yang tidak berpihak pada rakyat.

Husni Mubarak kemudian naik menjadi Presiden Mesir keempat terhitung sejak 14 Oktober 1981. Organisasi ini pun menjadi oposisi tulen selama 30 tahun Husni memimpin Mesir.

Kala rakyat Mesir lelah dengan kepemimpinan Husni, organisasi ini pun ikut bergerak bersama rakyat menggulingkan kekuasaan Husni. Puncaknya, terselenggaranya Pemilu Mesir 2012 yang berlangsung dua putaran.

Pemimpin Ikhwatul Muslimin saat itu, Mohammed Morsi dari Partai Kebebasan dan Keadilan menang melawan Ahmed Shafiq yang sebelumnya menjabat sebagai Perdana Menteri Mesir.

Pemimpin organisasi itu kemudian menjadi presiden pertama di Mesir yang terpilih dengan sistem demokrasi sejak 30 Juni 2012. Sayangnya, setahun kemudian tepatnya pada 30 Juni 2013 gelombang protes kembali muncul dan menjalar ke seluruh wilayah terhadap orang nomor satu di Mesir kala itu.

Masyarakat Mesir ramai-ramai menuntut Morsi untuk mundur dari kursinya. Sebagai Presiden, Morsi dinilai hanya mementingkan organisasi Ikhwanul Muslimin yang berafiliasi dengan partainya.

Akhirnya setelah militer mesir memberikan ultimatum untuk Morsi memenuhi tuntutan rakyat dalam kurun 48 jam, Morsi digulingkan dari kekuasaan.

Tujuan Mulia

Sesungguhnya, sang pendiri Hassan Ahmed Abdel Rahman Muhammed al-Banna bertujuan melahirkan organisasi Ikhwanul Muslimin untuk menumbuhkan kesalehan dalam diri para anggota, juga bergerak di ranah sosial dengan giat berderma kepada mereka yang membutuhkan.

Dalam pergerakannya, Banna memberikan ceramah yang menarik kepada pekerja yang punya gaji pas-pasan dan lelah dengan kesenjanga ekonomi di Mesir. Ceramahnya pun dilakukan dari masjid hingga warung kopi, seperti yang diulas oleh Carrie Rosefsky Wickham dalam The Muslim Brotherhood Evolution of an Islamist Movement pada 2013.

Usaha Banna mendulang hasil, anggota dan simpatisan organisasinya berkembang hingga ke luar Ismailia. Pada 1930-an anggotanya meningkat hingga ratusan ribu sampai membuat markas pusat pindah ke ibukota Kairo, sebuah tempat yang dekat dengan pusat kekuasaan.

Setelah IM meluncurkan kampanye pro-Palestina serta ikut perang dalam revolusi Arab di Palestina 1936-1939, anggotanya naik drastis. Dari sekitar 800 orang di tahun 1936, naik menjadi 200.000. Bahkan anggota organisasi ini sampai dua juta orang, setahun sebelum kematian Banna yakni 1948.

Eksistensi organisasi ini bisa dibilang panjang, karena mampu melebarkan sayap ke banyak negara meski bukan secara organisasi. Pengaruh organisasi ini hadir dalam negara dalam bentuk ideologis. Salah satunya Sayyid Qutb yang punya pemikiran Islam-politik yang serupa dengan Ikhwanul Muslimin.

Pemikiran itu pun menjadi landasan bagi banyak gerakan politik Islam di dunia, termasuk di Indonesia. []

Berita terkait
0
PA 212 Merespons Prabowo Subianto Menteri Pertahanan
Ketua Media Center Persaudaraan Alumni (PA) 212 Novel Bamukmin merespons Prabowo Subianto yang kemungkinan menempati pos Menteri Bidang Pertahanan.