Indonesia
Hari Kebangkitan Nasional 2019: Kisah Tiga Dokter
Hari Kebangkitan Nasional meninggalkan kisah bagi tiga dokter di masa penjajahan Belanda.
Hari Kebangkitan Nasional 2019: Kisah Tiga Dokter. (Foto: Istimewa)

Jakarta - Hari Kebangkitan Nasional meninggalkan kisah bagi tiga dokter di masa penjajahan Belanda. Ketiganya bersama Budi Utomo melahirkan organisasi yang menjadi pergerakan pertama di Indonesia.

Pagi, 20 Mei 1908 puluhan pemuda berkumpul dan menggelar pertemuan di ruang anatomi School tot Opleiding van Indische Artsen (Stovia), sebuah sekolah kedokteran pribumi di Batavia pada zaman kolonial Hindia Belanda.

Di situ, tampak pula pelajar-pelajar dari sekolah lain semisal sekolah pamongpraja (OSVIA) di Magelang dan Probolinggo, sekolah pendidikan guru bumiputera (normaalschool) di Bandung, Yogyakarta, dan Probolinggo, sekolah pertanian (landbouw school) dan kehewanan (veeartsnij school) di Bogor, serta sekolah menengah petang (hogere burger school) di Surabaya.

Pertemuan itu kemudian menjadi cikal bakal berdirinya organisasi Budi Utomo (ejaan lama menggunakan Boedi Oetomo), sebuah pergerakan besar pertama yang dimiliki pemuda pribumi nusantara pasca era kerajaan. Kelak, dari perkumpulan ini lahir pula partai politik pertama di Hindia Belanda, Indische Partij.

Budi Utomo didirikan oleh Dr. Soetomo dan para mahasiswa STOVIA lain seperti Dr. Goenawan Mangoenkoesoemo dan Dr. Soeradji. Setelah sebelumnya, Dr. Wahidin Sudirohusodo menggagas ide soal pembentukan sebuah perkumpulan kepemudaan.

Bahkan, nama Budi Utomo sudah ditetapkan sejak awal. Soeradji mengutipnya dari pujian Soetomo kepada Wahidin: Punika satunggaling padamelan sae sarta nelakaken budi utami, yang berarti Ini merupakan perbuatan baik serta mencerminkan keluhuran budi.

Mulanya, Budi Utomo adalah organisasi yang bersifat sosial, ekonomi, dan kebudayaan tetapi tidak bersifat politik. Namun pada perjalanannya, justru menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia.

Empat bulan semenjak berdiri, Budi Utomo menggelar kongres pertamanya di Kota Yogyakarta. Sekitar 300 orang yang kebanyakan merupakan priayi dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat memadati arena kongres. Beberapa bupati dan segerombol perempuan Jawa dan Eropa juga tampak hadir.

Dalam kongres yang diadakan pada Bulan Ramadan 3-5 Oktober 1908 itu, muncul pemuda-pemuda lain dengan gagasan progresif seperti Dr. Tjipto, yang tak lain adalah kakak dari Gunawan Mangoenkoesoemo.

Tjipto berkeinginan agar Budi Utomo menjadi organisasi politik, namun mayoritas tak ingin terlibat dalam politik dan memilih jalur pendidikan dan kebudayaan.

Usai kongres, Bupati Karanganyar Raden Adipati Tirtokoesoemo terpilih sebagai ketua Boedi Oetomo dan Wahidin wakil ketua. Sementara Tjipto masuk dalam susunan kepengurusan sebagai komisaris.

Sepuluh tahun pertama, Budi Utomo mengalami beberapa kali pergantian pemimpin organisasi. Kebanyakan para pemimpin berasal kalangan priayi atau para bangsawan dari kalangan keraton, seperti Raden Adipati Tirtokoesoemo, dan Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman.

Budi Utomo mengalami fase perkembangan penting saat kepemimpinan Pangeran Noto Dirodjo. Saat itu, Douwes Dekker, seorang Indo-Belanda yang sangat properjuangan bangsa Indonesia, dengan terus terang mewujudkan kata 'politik' ke dalam tindakan yang nyata.

Berkat pengaruhnya, pengertian mengenai 'tanah air Indonesia' makin lama makin bisa diterima dan masuk ke dalam pemahaman orang Jawa. Kemudian muncullah Indische Partij yang sudah lama dipersiapkan oleh Douwes Dekker melalui aksi persnya. 

Indische Patij adalah perkumpulan bersifat politik dan terbuka bagi semua orang Indonesia tanpa terkecuali. Baginya 'tanah air api udara' (Indonesia) adalah di atas segala-galanya.

Sejarawan Hilmar Farid dalam sebuah artikel bertajuk "Asal Usul Peringatan Hari Kebangkitan Nasional" di majalah Historia mengatakan, kehadiran Budi Utomo, terlepas dari pertentangannya sebagai kebangkitan priyayi ataupun kebangkitan Indonesia, menjadi awal organisasi modern di Indonesia.

"Saya setuju bahwa Boedi Oetomo bukanlah induk dari segala pergerakan politik di Indonesia. Ada banyak gerakan lain yang penting dan lebih dulu muncul dengan akar dan perkembangan yang berbeda. Tapi di pihak lain kita tidak mungkin mengabaikan peran Boedi Oetomo sebagai salah satu pelopor organisasi modern di Indonesia," kata dia.

Dominasi Dokter Muda Maupun Tua di Stovia

Lantaran berdiri di sebuah sekolah kedokteran, tak aneh jika organisasi Budi Utomo didominasi dokter-dokter baik dari kalangan tua maupun muda di Stovia. Nama-nama mereka di masa depan diganjar gelar pahlawan sebagai tanda penghormatan.

1. Dr. Wahidin Soedirohoesodo

Meski tidak terlibat langsung dalam proses pembentukan, diakui sebagai penggagas organisasi Budi Utomo. Idenya tentang 'dana pelajar', demi membantu pemuda-pemuda cerdas yang tidak dapat melanjutkan sekolah, kerap dibawa berkeliling dan diperkenalkan kepada tokoh-tokoh masyarakat kota-kota besar di tanah Jawa.

Wahidin dikenal senang bergaul dengan rakyat biasa, sehingga akrab dengan begitu banyak penderitaan rakyat. Sebagai dokter, ia sering mengobati rakyat tanpa memungut bayaran. Ia juga sangat menyadari bagaimana terbelakang dan tertindasnya rakyat akibat penjajahan Belanda. Menurutnya, salah satu cara untuk membebaskan diri dari penjajahan, rakyat harus cerdas.

Beruntung pada akhirnya, gagasan perihal pendidikan itu disambut baik oleh para pelajar almamaternya di Stovia. Untuk kemudian diejawantahkan dalam organisasi Budi Utomo.

2. Dr. Soetomo

Soetomo menempuh pendidikan kedokteran di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (Stovia), pada tahun 1903. Di sekolah itulah dia bersama kawan-kawannya mendirikan Budi Utomo.

Setelah lulus pada tahun 1911, Soetomo bekerja sebagai dokter pemerintah di berbagai daerah di Jawa dan Sumatra. Pada tahun 1917, dia menikah dengan seorang perawat Belanda. Pada tahun 1919 sampai 1923, Soetomo melanjutkan studi kedokteran di Belanda.

Pada tahun 1924, Soetomo mendirikan Indonesian Study Club (dalam bahasa Belanda Indonesische Studie Club atau Kelompok Studi Indonesia) di Surabaya, pada tahun 1930 mendirikan Partai Bangsa Indonesia dan pada tahun 1935 mendirikan Parindra (Partai Indonesia Raya).

3. Tjipto Mangun Kusumo

Tjipto Mangunkusumo merupakan seorang anak muda yang kritis. Melalui tulisan-tulisan, dia kerap mengungkapkan ketidakpuasan atas pemerintahan Belanda yang sedang berjalan saat itu. Berada di Stovia dalam kurun waktu antara 1899-1905, membuatnya mengenal Budi Utomo.

Dia menyambut baik kehadiran organisasi pembaruan tersebut. Dari organisasi itu, ia berhasil membangun Indische Partij, sebuah partai politik pertama yang lahir di Hindia Belanda.

Atas jasa-jasanya, nama Tjipto Mangunkusumo diabadikan sebagai nama rumah sakit rujukan terbesar di Indonesia.

Baca Juga:

Berita terkait
0
Moeldoko Jelaskan Kajian Lingkungan Ibu Kota Baru RI
Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan tak perlu khawatir dengan pemindahan ibu kota Indonesia dari jakarta ke Pulau Kalimantan.