UNTUK INDONESIA
Hari Bumi: Fakta-fakta Kearifan Batak Parmalim
Dalam peringatan Hari Bumi, berikut ini fakta-fakta kearifan Batak Parmalim yang menjadi inspirasi untuk respect pada bumi.
Ilustrasi - Peringatan Hari Bumi. (Foto: Pixabay)

Jakarta - Tokoh aliran kepercayaan Parmalim, Monang Naipospos menyatakan tak membutuhkan seremoni perayaan Hari Bumi untuk menghargai tempat manusia hidup dan berpijak. Ia mengatakan peringatan hari besar semacam Hari Bumi cocok untuk yang lupa pada leluhur.

Bagi Monang, menjaga kearifan alam bukan hanya pada hari besar tertentu saja, tapi setiap saat karena hal itu adalah tanggung jawab manusia yang dititipkan leluhur.

Hari Bumi dirayakan dunia tanggal 22 April setiap tahun sebagai bentuk apresiasi terhadap tempat manusia hidup dan berpijak. 

"Iya diperingati setidaknya memperingatkan orang yang lupa leluhur, ngapain kamu merayakan hari bumi, leluhur juga sudah menentukan inilah bumi, inilah tanah, apa yang harus dipedomani. Kalau cuma mentreng-mentrengan aja, maunya apa?" kata Monang Naipospos kepada Tagar, Senin 22 April 2019.

Mudah-mudahan yang merayakan itu paham arti bumi.

Ia mengatakan bahkan lupa kapan hari bumi. Baginya, hanya perlu memahami makna bumi.

"Orang ramai-ramai memperingati hari bumi, sudah betul-betul memaknai bagaimana bumi diperlakukan? Semuanya happy. Kalau saya tidak ikut-ikutan. Malah saya baru tahu sekarang, hahaha," ucap pria asal Hutatinggi, Laguboti, Sumatera Utara.

Monang NaiposposMonang Naipospos. (Foto: Facebook/Monang Naipospos)

Fakta-fakta Kearifan Batak Parmalim

Dalam peringatan Hari Bumi, berikut ini fakta-fakta kearifan Batak Parmalim yang menjadi inspirasi untuk respect pada bumi.

Monang mengatakan yang perlu dilakukan adalah memperbaiki isi, bukan kemasannya yang diwarnai. Seisi bumi adalah warisan nenek moyang yang harus dijaga, dilestarikan, dan dirawat. 

Ia sangat mempercayai bahwa alam itu sebagai warisan atau 'Ugasan' yang memiliki kekuatan.

Alkisah, isi alam semesta sangat menyatu dengan manusia yang tinggal di dalamnya, khususnya bagi Suku Batak yang masih kental dengan budaya warisan leluhur, yakni alam termasuk air, tanah, dan hutan.

Dalam keyakinan Suku Batak, air merupakan awal kehidupan jasmani. Raja Ihat Manisia dan Boru Ihat Manisia manusia pertama dalam sejarah awal Suku Batak merupakan perpaduan air tubuh manusia surgawi putra-putri Dewata.

Sejak saat itu tubuh yang menjadi manusia wajib diperkenalkan dengan asal mereka "air" untuk dibuat persembahan kepada Mulajadi Nabolon "Tuhan" yang dinamakan "Martutuaek".

Selain itu, air juga diyakini sebagai pembersihan menuju kesucian dan kesempurnaan "Parsuksion mula ni haiason, haiason mula ni parsolamon, parsolamon mula ni hamalimon” yang artinya awal pembersihan menuju kesucian, kesucian menuju kesempurnaan.

Tidak hanya itu, air juga ambil andil dalam hubungan manusia dengan Mulajadi Nabolon atau "Tuhan". "Mual Natio dipadomu dohot unte mungkur marangkuphon sanggul banebane jumadi pangurason parsungsion".

Bahkan, dalam membentuk sebuah perkampungan, akses sumber air merupakan hal yang paling utama.

"Air itu kehidupan. Oppung kita dulu kalau membuat sebuah kampung yang duluan dicari itu sumber air. Para leluhur itu sudah tahu kita hidup karena air, air itu tidak ada duanya, kecuali air mineral dan air jeruk. Manusia lahir diperkenalkan dengan sumber air," tutur Monang.

Tanah juga sebagai tempat manusia berpijak "Tano ojahan, ojahan ni saluhut nasa na adong" merupakan salah satu media dalam proses seluruh kehidupan manusia, tanaman, hewan, dan air. Jika air dimaknai sebagai aliran hidup asal-usul, sedangkan tanah dimaknai sebagai tempat proses kesuburan tanah terjadi. Hal itu dilambangkan sebagai "Boraspati ni tano".

Keyakinan Suku Batak sebelum mengolah tanah wajib berdoa kepada leluhur "Nagapadhohaniaji" bahwa tidak akan merusak tanah, tapi akan menggunakannya untuk kebutuhan kehidupan sehari-hari seperti pekuburan dan pendirian rumah.

Hal itu menunjukkan tidak bisa dilakukan sikap keserakahan terhadap tanah, walaupun itu merupakan warisan atau "Ugasan" bagi manusia. Dalam pengelolaan pertama pun dilakukan dengan "Itak gurgur" yang terbuat dari tepung beras dan dimaknai agar mendapat doa restu dari Mulajadi Nabolon. Itak Gurgur melambangkan persembahan dan pemaknaan semua hasil pekerjaan akan berkembang baik atau "Gurgur".

Sementara hutan atau "Harangan" adalah kumpulan tanaman pohon atau "Hau", semak dan rumput atau "Ramba" berbagai macam. Dalam pemahaman orang Batak, kayu yang tumbuh di hutan memiliki  kebutuhan siklus dengan peran air sama halnya seperti manusia. Selain itu, hutan dikuasai oleh makhluk gaib "Martondi hau" maka sebelum pohon yang dinginkan ditebang ada beberapa hal yang harus dilakukan yakni, "Huhuasi" melakukan komunikasi bilamana ada yang tidak diduga telah menguasai pohon itu, lalu menancapkan "Takke" kapak ke kulit pohon sebagai pertanda telah memilih pohon tersebut. Jika keesokan harinya takke masih menempel itu pohon maka bisa dibawa pulang ke kampung "Huta" sebagai sambutan Ulos atau tikar pandan dililitkan ke batang pohon, baru selang beberapa hari dilakukan penebangan yang dijadikan untuk bahan bangunan rumah, diharapkan rukun antara rumah dan penghuni.

Tidak hanya untuk bahan bangunan, pohon juga digunakan dalam acara ritual adat Batak untuk tambatan atau "Borotan" ternak kerbau. Hal itu tidak dibiarkan begitu saja, sikap hidup orang Batak adalah setiap memanfaatkan sesuatu selalu mengharapkan ada pengganti kemudian. Prinsip itu ditanamkan dengan "Martumbur partabaan, malomak pansalongan" dalam artian barang siapa yang melakukan pemotongan pohon dan tidak menjamin ada tunas tanaman pengganti, berarti dia telah memutus satu siklus hidup dan ada "sapata" atau kerugian dilain waktu.

Mengingat hal itulah, Monang menegaskan warisan leluhur itu harus dijaga meskipun bukan hari bumi sedunia, dan dia berharap bagi yang merayakan hari bumi paham arti bumi.

"Mudah-mudahan yang merayakan itu paham arti bumi," ujarnya.

Dia pun menambahkan pemaknaan hari bumi dengan mengajak masyarakat untuk menghasilkan pupuk organik dan tidak akan tergantung pada pupuk kimia yang merusak tanah, meracuni air dan merusak bahan makanan.

"Di Sirait Uruk (kampung di Porsea) kami buat kompos setelah 35 tahun kami dipropagandai pemerintah untuk menggunakan pupuk kimia yang meningkat setiap tahun tanpa hasil yang meningkat. Kemudian kami sadar untuk kembali ke alam menciptakan pupuk organik sendiri, pupuk cair sendiri untuk perlahan melepaskan ketergantungan pada pupuk kimia yang merusak tanah, meracuni air, dan merusak bahan makanan," tandasnya. []

Baca juga:

Berita terkait
0
Sehari, 5 Tenaga Medis di Pemalang Positif Covid-19
6 warga dinyatakan positif Covid-19 di Pemalang dalam sehari. Lima di antaranya tenaga medis.