UNTUK INDONESIA
Hakan Sukur, Legenda Bola Turki yang Jadi Ojol di AS
Hakan Sukur, legenda sepak bola Turki yang kehidupannya berubah drastis. Kini, dia jadi driver ojek online di Amerika Serikat.
Hakan Sukur, legenda sepak bola Turki yang kehidupannya berubah drastis setelah berseberangan politik dengan Presiden Turki Recep Erdogen sehingga kabur ke Amerika Serikat. Kini, dia jadi driver ojek online di Washington. (Foto: thesun.co.uk)

Jakarta - Hakan Sukur, legenda sepak bola Turki yang tercatat mencetak gol tercepat dalam sejarah Piala Dunia. Namun kini kehidupannya berubah drastis gara-gara berlawanan politik dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Dirinya hidup dalam pengasingan di Amerika Serikat dengan menjadi driver ojek online (ojol). 

Sejarah Piala Dunia mencatat gol tercepat yang dicetak Sukur pada perebutan tempat ketiga melawan Korea Selatan di Piala Dunia 2002. Pertandingan baru berjalan beberapa detik saat bek Korsel melakukan blunder dan bolanya berhasil direbut Sukur. 

Dirinya kemudian membawa bola sebelum melepaskan tendangan ke gawang Korsel. Hanya dalam hitungan detik, saat hampir semua pemain dari kedua tim belum menendang bola, Sukur sudah membawa Turki unggul 1-0. Gol yang kian berarti karena Turki tampil sebagai pemenang ketiga usai mengalahkan Korsel 3-2. 

Tak ada yang bisa menjelaskan apa peran saya dalam kudeta itu karena saya memang tidak melakukan apa pun yang ilegal. Saya bukan pengkhianat atau teroris

Sukses di Piala Dunia menjadikan Sukur sebagai legenda sepak bola Turki. Dirinya tidak hanya pernah menjadi kapten tim nasional yang memiliki caps 112. Mantan striker Galatasaray ini juga menorehkan 51 gol yang mengantarkannya sebagai top scorer sepanjang masa Turki. 

Hanya, kehidupannya berubah drastis saat pensiun, Sukur kemudian terjun ke dunia politik dengan menjadi anggota AKP atau Partai Pengembangan dan Keadilan (Justice and Development Party). Karier politik pria berusia 48 ini memang sempat meroket setelah terpilih sebagai anggota parlemen. 

Namun Sukur kemudian mengambil sikap berseberangan dengan pemerintah Turki. Bahkan pada Februari 2016 Sukur dituduh memaki Presiden Erdogan di Twitter

Beberapa bulan kemudian, eks pemain Inter Milan ini ditangkap dengan tuduhan anggota Pergerakan Gulen yang dianggap sebagai organisasi teroris di Turki. Dituding terlibat dalam kudeta yang gagal, Sukur pun memilih kabur dari negaranya. 

"Saya sudah tidak punya apa-apa lagi. Erdogan sudah mengambil semuanya. Hak kebebasan, hak untuk bekerja dan kebebasan berekspresi," kata Sukur dalam wawancara dengan harian Jerman, Welt am Sonntag seperti dikutip Football Italia

"Tak ada yang bisa menjelaskan apa peran saya dalam kudeta itu karena saya memang tidak melakukan apa pun yang ilegal. Saya bukan pengkhianat atau teroris," ujarnya. 

Sukur juga menyatakan bila dirinya hanya bersikap oposisi dengan pemerintah. Namun eks pemain Blackburn Rovers ini menolak bila disebut telah mengkhianati negara dan bangsa Turki. Menurutnya setelah berseteru dengan Erdogan, Sukur mengaku mendapat banyak ancaman. 

"Saya mungkin musuh dari pemerintah, tetapi bukan negara dan bangsa Turki. Saya mencintai negara saya. Setelah berpisah dengan Erdogan, saya mulai mendapat ancaman. Butik istri saya dilempari batu dan anak-anak saya dilecehkan. Ayah saya dipenjara dan semua kepunyaan saya disita," kata Sukur. 

Sukur Pilih Tinggalkan Turki

Dalam situasi terpuruk karena menjadi sasaran kejaran pemerintah, Sukur memilih meninggalkan Turki dan kabur ke Amerika Serikat. Dia sempat membuat restoran masakan Turki di Palo Alto, kawasan Silicon Valley. 

Namun usahanya bangkrut. Gara-garanya ada orang Turki yang mengambil foto Sukur di resto itu. Apesnya, foto itu ditemukan di ponsel orang tersebut saat pulang ke Turki. Buntutnya dia dipenjara selama 14 bulan. 

"Saya menjadi korban dari politik yang salah. Semua yang berhubungan dengan saya mengalami kesulitan finansial. Ayah saya dipenjara dan baru saja dibebaskan hanya karena menderita kanker," ujarnya. 

Sukur pun menjalani kehidupan sebagai orang biasa di Washington. Apalagi semua miliknya disita. Termasuk aset properti senilai 10 juta dolar atau sekitar Rp 136 miliar di Turki yang juga disita. 

Kini, dirinya bekerja sebagai driver ojek online di Washington. Selain itu, Sukur berjualan buku. 

"Saya sekarang ngojek online. Saya juga berjualan buku," ujarnya. []

Berita terkait
Menang Lawan Prancis, Tim Turki Ditelepon Erdogan
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memberikan ucapan selamat kepada timnas yang menaklukkan Prancis 2-0 di kualifikasi EURO 2020.
Erdogan Menangi Pemilu Presiden Turki, Oposisi Waspada
Erdogan mengatakan bahwa tidak ada pelanggaran pemilu yang cukup besar.
Pengamat Sebut Kemenangan Erdogan Faktor Religius dan Nasionalis
Tekad sang presiden ingin mengembalikan kejayaan Turki.
0
Polisi Abdya Aceh Gratiskan Operasi Bibir Sumbing
Polres Aceh Barat Daya menggelar operasi bibir sumbing gratis terhadap masyarakat penderita .