UNTUK INDONESIA
Geliat Warga di Kaki Merapi Usai Erupsi Pertama 2020
Erupsi pertama di 2020 terjadi pada 13 Februari. Namun fenomena itu tidak menyurutkan geliat aktivitas warga.
Erupsi Merapi pada 13 Februari 2020 tidak memengaruhi aktivitas warga di kaki gunung. Termasuk aktivitas offroad dengan jip wisata. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Sleman - Erupsi kembali terjadi di Gunung Merapi, Kamis, 13 Februari 2020, pukul 05.16 WIB, meluncurkan asap tebal dengan tinggi kolom hingga dua ribu meter. Erupsi itu tercatat yang pertama di tahun 2020. Namun aktivitas warga di sekitar kaki Gunung Merapi tak terpengaruh, tetap menggeliat seperti biasa. .

Matahari belum terlalu tinggi. Hangat sinarnya membantu mengurangi hawa dingin di kaki Gunung Merapi, sepanjang perjalanan ke Bunker Kaliadem, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Usai erupsi di hari itu, Tagar datang ke Kepuhajo untuk melihat respon warga atas fenomena Merapi yang rutin terjadi.  

Beberapa warga setempat terlihat berjalan kaki sambil membawa sabit. Sebagian lagi membersihkan mobil jip yang biasa digunakan untuk mengangkut wisatawan menikmati pemandangan di sekitar.

Di sebelah utara, puncak Gunung Merapi masih mengepulkan asap tipis berwarna putih. Gumpalan awan tebal yang juga berwarna putih, seperti tak rela wilayahnya diambil oleh asap Merapi. Awan-awan itu bergerak, lambat laun menutupi asap putih dan seluruh bagian gunung.

Suasana sepanjang jalan tampak tenang dan sejuk. Tidak nampak kepanikan dari warga. Mereka beraktivitas seperti biasa, termasuk Rejo, 58 tahun, yang berprofesi sebagai peternak. Ia hendak berangkat mencari rumput untuk ternaknya. Kerutan di sudut matanya semakin nampak saat senyum ramah tersungging. Tangannya memegang sabit berukuran sedang.

Nggih mboten panik, wong pun biasa kok (ya tidak panik karena sudah terbiasa).

Aktivitas warga MerapiPencari rumput di kaki Gunung Merapi tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, tidak terpengaruh erupsi pada 13 Februari 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Kata Rejo, erupsi Gunung Merapi bukan hal yang perlu dirisaukan. Dia dan sebagian besar warga sekitar tetap beraktivitas seperti biasa. Erupsi kecil semacam itu, menurut Rejo, sering terjadi.

"Wau enjang, suarane bergemuruh (Tadi pagi, suaranya bergemuruh). Tapi biasa, Mas. Nggih mboten panik, wong pun biasa kok (ya tidak panik karena sudah terbiasa). Malah nek dangu mboten watuk niku sing bahaya (justru kalau lama tidak batuk itu yang bahaya)," tutur dia.

Rejo menganalogikan erupsi kecil Gunung Merapi seperti orang yang sedang muntah. Jika yang ada dalam tubuh merapi bisa dimuntahkan perlahan, erupsi besar diyakininya belum akan terjadi. Rejo lalu kembali berjalan menuju hutan guna mencari rumput untuk ternak-ternaknya.

Senada dengan Rejo, pencari rumput lainnya, Bejo, 47 tahun, warga Dusun Gondang, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, mengatakan, erupsi Gunung Merapi pada pagi itu menyebabkan hujan abu tipis. Sambil menyabit rumput di tepi jalan, Bejo menunjukkan abu tipis pada permukaan daun.

Tapi erupsi semacam itu tidak membuat warga panik. Apalagi kejadiannya pagi hari, saat kepulan asap dari kawah Gunung Merapi bisa dipantau arahnya.

"Nek ngaten niku biasa, Mas (kalau seperti itu biasa, Mas). Sing penting awan panase ketok mengarah neng ndi, iki kan arahe ngulon, dadi ting mriki aman (Yang penting awan panasnya terlihat ke arah mana, ini kan ke barat, jadi di sini aman)," kata dia.

Jika angin tidak mengarah ke selatan, warga tidak merasa khawatir. Karena, hal yang paling dikhawatirkan dari erupsi Gunung Merapi adalah awan panas atau wedhus gembel, yang luncurannya tergantung arah angin.

Biasanya yang membuat warga panik adalah saat erupsi Gunung Merapi terjadi malam hari, karena saat itu warga tidak mengetahui arah angin yang membawa awan panas tersebut. Sedangkan untuk lahar, kata Rejo, warga tidak terlalu khawatir. Sebab lahar dari Gunung Merapi hanya akan mengalir melalui sungai, termasuk Sungai Gendol.

Selain itu, warga juga melihat petunjuk alam jika Gunung Merapi akan erupsi besar. Seperti turunnya hewan-hewan dari puncak Gunung Merapi, seperti kijang, monyet, dan beberapa jenis hewan lain.

"Niki pun dangu mboten wonten kewan sing medun (ini sudah lama tidak ada hewan-hewan yang turun). Nek riyin, sing 2010 niku, kewane kathah sing medun, nggih kethek, kijang (Kalau dulu, yang erupsi tahun 2010, banyak hewan yang turun, mulai dari monyet, kijang)," ucap dia.

Bunker Kaliadem Merapi

Aktivitas warga Merapi2Para wisatawan berkunjung seperti biasa di Bunker Kaliadem usai erupsi Merapi pada 13 Februari 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Awan-awan putih semakin tebal menyelimuti puncak dan tubuh Gunung Merapi, mengecewakan beberapa wisatawan yang hendak berswafoto dengan latar belakang salah satu gunung berapi teraktif di dunia itu. Mereka akhirnya hanya berswafoto di depan Bunker Kaliadem, yang dulu dibangun untuk tempat berlindung jika Merapi erupsi.

Warung-warung penjual suvenir dan kuliner berjejer di depan bunker. Mereka buka seperti biasa. Beragam jenis barang tertata rapi di etalase dan rak warung-warung itu. Mulai dari bunga edelweiss kering, kaus, hingga cobek batu.

Warung-warung itu juga menyediakan minuman khas setempat, yakni wedang gedang. Minuman yang terbuat dari potongan pisang, gula, jahe dan beberapa rempah lain. Dulu Wedang Gedang biasa dikonsumsi oleh para pendaki yang singgah di Dusun Kinahrejo untuk menghangatkan tubuh.

Deru knalpot dari mobil-mobil jip wisata mulai terdengar. Mereka mengangkut wisatawan yang ingin melihat beberapa lokasi bekas erupsi Gunung Merapi tahun 2010 sambil menikmati pemandangan yang masih alami. Waktu belum menunjukkan pukul 10.00 WIB, namun tempat itu sudah dipenuhi oleh para wisatawan, yang sebagian berbelanja di warung. 

Nek pun ketok bahaya, nggih sedanten njuk medun, tapi nek ngaten niki, mboten (kalau sudah kelihatan berbahaya, ya semuanya langsung turun, tapi kalau seperti ini nggak apa-apa).

Salah satu pedagang, Misinem, 40 tahun, mengatakan, erupsi Gunung Merapi tidak memengaruhi kunjungan wisatawan. Dia dan beberapa pemilik warung lainnya pun, tidak khawatir dan tetap membuka lapaknya.

Warung-warung di tempat itu hanya buka mulai pagi hingga sore hari. Pemiliknya dilarang tinggal atau bermalam, demi menjaga keselamatan mereka jika sewaktu-waktu Gunung Merapi erupsi.

"Kulo manggen sakderengipun pos retribusi wau (Rumah saya sebelum pos retribusi tadi). Tapi niki nggih biasa kok, mboten nopo-nopo, niku awane wau kan mboten ngidul (Tapi ini biasa saja, tidak apa-apa, itu awannya kan tidak mengarah ke selatan)," ucap dia saat ditanya tentang erupsi.

Kata Misinem, aparat pemerintah setempat sudah menyosialisasikan bahaya awan panas. Mereka juga menjelaskan bahwa yang berbahaya adalah jika awan menuju ke bawah. Selain sosialisasi dari pemerintah, dirinya sebagai warga asli di situ, juga sudah terbiasa dan paham tentang saat-saat berbahaya.

"Nek pun ketok bahaya, nggih sedanten njuk medun, tapi nek ngaten niki, mboten (kalau sudah kelihatan berbahaya, ya semuanya langsung turun, tapi kalau seperti ini nggak apa-apa)," tuturnya.

Jip Wisata dan Penambang Merapi

Aktivitas warga Merapi3Geliat wisata di kaki Gunung Merapi berjalan normal usai erupsi 13 Februari 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Hanya sekitar tiga kilometer dari Bunker Kaliadem, puluhan wisatawan lain asyik menikmati perjalanan dengan jip wisata. Mereka bermanuver di Kali Kuning, tempat beberapa penambang pasir mencari penghidupan.

Dasar sungai yang berbatu dan air yang tidak dalam, sangat mendukung para wisatawan itu menikmati alam. Mereka rela basah terpercik air sungai, saat jip masuk ke sungai yang agak dalam.

Teriakan senang bercampur tegang terdengar dari bibir para wisatawan wanita. Mereka seolah tidak peduli pada erupsi Gunung Merapi sebelumnya. Jika awan tebal tidak menutupi Gunung Merapi, sebagian tubuh dan puncaknya dapat dilihat dari tempat mereka bermanuver.

Tiga penambang yang mengeruk pasir di tengah sungai tidak peduli pada teriakan dan kegembiraan para wisatawan itu. Mereka tetap menghujamkan linggis dan sekop di belakang mobil pikapnya.

Seorang wisatawan yang berasal dari Jakarta, Kiki, 24, mengaku kurang puas berswafoto karena Gunung Merapi tertutup awan. Tapi ketidakpuasannya itu terganti dengan kegiatan offroad di Kali Kuning.

"Saya malah enggak tahu kalau Merapi erupsi. Tapi kayaknya enggak kenapa-kenapa kok, kalau bahaya pasti drivernya bilang. Cuma ya sedikit kecewa aja karena enggak bisa selfie pake background Merapi," kata dia.

Seorang wisatawan lain, Nita, 26, mengaku dia melihat dari media sosial tentang erupsi kecil Merapi. Tapi tidak khawatir karena sudah ada penjelasan bahwa lewat dari radius tiga kilometer merupakan daerah aman. []

Baca juga: 

Lihat foto:

Berita terkait
Gunung Merapi Erupsi, Hujan Abu Tipis di Sleman
Gunung Merapi erupsi menjadikan sejumlah lokasi di Sleman hujan abu tipis. Status gunung di perbatasan Jawa Tengah dan DIY ini masih level II.
59 Tahun Ganti Rugi Merapi di Magelang Tak Jelas
59 tahun proses ganti rugi lahan bekas erupsi Merapi berjalan lamban. Ombudsman RI turun tangan.
Sabo Dam Siap Tahan Banjir Lahar Gunung Merapi
Kementerian PUPR menyelesaikan pembangunan Sabo Dam Kali Woro di Klaten yang berfungsi untuk menahan Lahar Gunung Merapi.
0
Viral Hewan Mati Mendadak di Bekasi Bukan Hoaks
Polisi membenarkan video viral hewan mati di Cibarusah, Bekasi, benar terjadi dan bukan hoaks.