Jakarta -  Planet Jupiter pada orbit berada pada urutan kelima dalam susunan tata surya. Jupiter merupakan planet raksasa atau terbesar yang memiliki massa seperseribu massa matahari dan dua setengah kali massa dari semua planet dalam tata surya.

Planet ini biasanya disebut planet Jovian atau planet luar yang sudah banyak dikenal oleh astonom sejak zaman kuno. Sehingga planet ini sering dikaitkan dengan kepercayaan religius oleh banyak peradaban.

Saat mengamati planet Jupiter, kita bisa melihat kecerahannya mencapai -2,94, angka itu menunjukkan tingkat cahaya yang cukup terang dan bisa menghasilkan bayangan. Dengan kata lain, planet ini bisa dikatakan benda langit paling cerah ketiga setelah Bulan dan planet Venus.

Baru-baru ini planet raksasa ini menjadi perbincangan karena posisinya sedang dekat dengan Bumi. Sehingga bisa melihat planet ini dengan mata telanjang. Fenomena alam ini sudah terjadi pada Senin 10 Juni 2019 malam. Dan, masih berlangsung hingga kini.

Sebagian besar dalam planet Jupiter terdapat unsur Hidrogen dan seperampat massa planet Jupiter merupakan Helium. Selain itu, dalam planet ini terdapat bebatuan padat. Meski demikian, permukaan planet Jupiter tidak padat seperti planet-planet lainnya.

Menurut informasi yang dikutip dari Ensiklopedia, planet Jupiter memiliki warna kecokelatan, putih, serta bintik-bintik merah. Tampak juga titik hitam kecil yang ternyata adalah bayangan dari satelit planet Jupiter yang dinamakan Europa.

JupiterPlanet Jupiter. (Foto: istimewa)

Satelit Europa selalu mengorbit terhadap planet Jupiter, dan pertama kali ditemukan oleh Galileo pada 1610 Maeshi. Karena rotasi yang cepat, secara visual planet Jupiter terlihat bulat pepat.

Tidak hanya itu, planet ini dikelilingi cincin tipis serta terdapat magnetosfer yang kuat. Magnetosfer adalah lapisan medan magnet yang menyelubungi benda angkasa, salah satunya adalah planet.

Selain itu terdapat paling tidak 67 satelit alami, termasuk empat satelit besar yang disebut satelit-satelit Galileo yang pertama kali ditemukan oleh Galileo Galilei pada tahun 1610. Satelit terbesar Jupiter, yaitu Ganymede, memiliki diameter yang lebih besar daripada planet Merkurius.

Mengingat struktur yang terdiri dari materi gas dan cair membuat semakin dekat ke inti, semakin tinggi suhu dan tekanan. Di wilayah transisi fase, yaitu tempat hidrogen menjadi metalik karena suhunya melebihi suhu kritis. 

Suhunya diperkirakan sebesar 10.000 K dan tekanannya sebesar 200 GPa. Suhu dibatas inti diperkirakan sebesar 36.000 K dan tekanannya kurang lebih 3.000–4.500 GPa.

Mengikuti perkembangan zaman, planet Jupiter telah dijelajahi beberapa kali oleh misi robotik seperti misi terbang lintas Pioneer, Viyager, dan Galileo. Misi terakhir yang mengunjungi Planet Jupiter adalah New Horizons pada akhir Februari 2007.

Fakta-fakta Jupiter

1. Bukanlah planet terbesar dalam alam semesta

Adapun planet terbesar dalam unit tata surya bernama "OGLE-2016-BLG-1190Lb" yang ditemukan oleh astronom NASA. Kabarnya ukuran planet ini massanya lebih besar 13 kali lipat dari Jupiter.Banyak orang yang bilang bahwa Jupiter merupakan planet terbesar yang pernah diketahui oleh ilmuan dunia. Memang, Jupiter kini diklaim menjadi planet terbesar di tata surya. Namun secara teknis, Jupiter ternyata bukan menjadi planet terbesar. Jika mengambil skala lebih luas lagi, ada planet yang lebih besar dari Jupiter.

Adapun planet terbesar dalam unit tata surya bernama "OGLE-2016-BLG-1190Lb" yang ditemukan oleh astronom NASA. Kabarnya ukuran planet ini massanya lebih besar 13 kali lipat dari Jupiter.

2. Planet Jupiter punya 69 jenis bulan

Dari 69 jenis bulan yang ditemukan, beberapa di antaranya mengorbit Jupiter dengan jarak yang sulit untuk dilacak.Planet raksasa terbesar di Tata Surya ini disebut sebagai planet kolektor bulan. Saking banyaknya, Jupiter memiliki 69 jenis bulan yang mengelilinginya. Pada awal 2016, astronom meyakini setidaknya ada 14 bulan yang jarak orbitnya tidak dapat ditemukan. Jarak dari masing-masing bulan Jupiter berkisar antara 1 mil.

Dari 69 jenis bulan yang ditemukan, beberapa di antaranya mengorbit Jupiter dengan jarak yang sulit untuk dilacak.

JupiterPlanet Jupiter (Foto: factsandtrivia)

3. Planet Jupiter tidak akan pernah bisa dihuni manusia

Jupiter dijuluki sebagai planet raksasa gas karena planet ini hanya berupa gas saja yang terikat secara gravitasi. Jadi bila ada manusia yang nekat terjun ke Jupiter dengan parasut dari pesawat antariksa, maka ia tidak akan menemui permukaan solid seperti layaknya di Bumi.

Meski dikatakan sebagai planet, namun kenyataannya Jupiter memiliki sifat yang hampir sama dengan bintang. Sebab atmosfer yang ditemukan di planet tersebut terdiri dari hidrogen dan helium. Di planet ini terdapat badai raksasa yang paling terkenal di seantero Jupiter dan telah berkecamuk selama ratusan tahun. Badai ini bahkan berukuran lebih besar dari Bumi.

Jupiter dijuluki sebagai planet raksasa gas karena planet ini hanya berupa gas saja yang terikat secara gravitasi. Jadi bila ada manusia yang nekat terjun ke Jupiter dengan parasut dari pesawat antariksa, maka ia tidak akan menemui permukaan solid seperti layaknya di Bumi.

4. Penyelamat Bumi dari hujan meteor

Mempelajari pergerakan gas di permukaan Jupiter bisa membantu manusia memahami sistem cuaca di Bumi.Jupiter sendiri merupakan raksasa gas yang berulangkali menyelamatkan Bumi dari hujan meteor.Intinya, planet diselimuti samudera Hidrogen cair dan atmosfirnya dipenuhi awan Hidrogen dan Helium. Tanpa permukaan berbatu yang menghadang angin, badai di Jupiter bisa berlangsung selama jutaan tahun.

Mempelajari pergerakan gas di permukaan Jupiter bisa membantu manusia memahami sistem cuaca di Bumi.

5. Memiliki temperatur yang dingin dan fenomena badai yang indah

Sebab itu pula, musim badai di Jupiter bisa berlangsung selama 70 tahun. Citra teranyar yang dijepret oleh wahana nirawak NASA, Juno, menampilkan keunikan Jupiter yang belum pernah dilihat sebelumnya: berjuta badai berpusar secara acak, seakan tanpa struktur yang baku.Dengan rata-rata temperatur minus 145 derajat Celcius, cuaca terhangat di Jupiter bisa membuat Bumi membeku dalam sekejap. Namun berbeda dengan Bumi, suhu di Jupiter berubah sesuai ketinggian, lantaran panas tidak datang dari Matahari, melainkan memancar dari bagian dalam planet.

Sebab itu pula, musim badai di Jupiter bisa berlangsung selama 70 tahun. Citra teranyar yang dijepret oleh wahana nirawak NASA, Juno, menampilkan keunikan Jupiter yang belum pernah dilihat sebelumnya: berjuta badai berpusar secara acak, seakan tanpa struktur yang baku.

Baca juga: