Dukung Aborsi Seorang Biksu di Thailand Dikecam

Seorang biksu (petapa Buddha) yang dikenal karena dukungannya terhadap hak-hak LGBT+ telah memicu kemarahan di kalangan konservatif
Phra Shine Waradhammo, biksu Thailand, memegang pakat bertuliskan "Hentikan Mengutuk Aborsi" dalam aksi demo di depan parlemen Thailand di Bangkok, 25 Januari 2021. (Foto: voaindonesia.com - Krit Phromsakla Na Sakolnakorn/Thai News Pix).

Bangkok – Seorang biksu (petapa Buddha) yang dikenal karena dukungannya terhadap hak-hak LGBT+ telah memicu kemarahan di kalangan konservatif setelah ia menyerukan agar Thailand melakukan dekriminalisasi aborsi.

Phra Shine Waradhammo yang termasuk di antara sekitar 20 aktivis proaborsi yang melakukan protes di depan parlemen Thailand pekan ini, menyerukan agar semua hukuman dicabut bagi perempuan yang memilih untuk mengakhiri kehamilannya.

"Orang-orang memanggil saya 'sampah' dan 'hantu kelaparan berjubah warna kunyit' di Facebook," kata biksu berusia 52 tahun itu, Jumat, 29 Januari 2021, merujuk pada komentar-komentar terhadap foto dirinya yang memegang poster bertuliskan “Hentikan mengutuk aborsi ".

phara selfiePhra Shine Waradhammo, biksu Buddha, berfoto selfie di Bangkok, Thailand, 9 Agustus 2020. (Foto: voaindonesia.com - Phra Shine Waradhammo/Thomson Reuters Foundation)

"Ketika saya berbicara tentang masalah LGBT+ satu dekade lalu, saya tidak menerima banyak kecaman, karena orang-orang mungkin memandang aborsi sebagai pembunuhan," katanya kepada Reuters.

Aborsi ditentang oleh banyak penganut ajaran Budha Theravada yang mayoritas di Thailand. Mereka mempercayai aborsi secara langsung bertentangan dengan ajaran Buddha dan perempuan yang melakukannya akan dibayangi hantu.

Tetapi Senin lalu, anggota parlemen Thailand memilih untuk mengizinkan aborsi hingga 12 pekan kehamilan dan menghukum mereka yang melakukannya setelah itu, keputusan yang menurut para aktivis proaborsi tidak melindungi hak-hak ibu.

Berdasarkan undang-undang yang berlaku saat ini, aborsi setelah 12 pekan hanya diperbolehkan dalam kondisi tertentu, dan pelaku yang melanggarnya bisa dikenai hukuman hingga enam bulan penjara, atau denda hingga 10.000 baht (334 dolar AS) atau keduanya.

uu aborsiPengunjuk rasa pro-aborsi mengenaka kain hijau merayakan pengesahan undang-undang yang melegalkan aborsi di luar Kongres Argentina, di Buenos Aires, 30 Desember 2021 (Foto: voaindonesia.com/AFP)

Phra Shine adalah pengguna aktif media sosial dan sering menuliskan pendapatnya terkait masalah gender dan kesetaraan seksual. Ia juga sering menanggapi pertanyaan dan komentar terkait masalah-masalah itu dalam hubungannya dengan ajaran Budha.

Pada 2010, ia menulis artikel opini untuk majalah nasional tentang penemuan lebih dari 2.000 janin oleh polisi di sebuah kuil Buddha di Bangkok, dan meminta orang-orang untuk bersimpati pada perempuan-perempuan yang menjalani aborsi ilegal. "Perempuan yang melakukan aborsi ditekan oleh ajaran agama seperti halnya orang-orang LGBT+ ditekan oleh sistem moral, "katanya (ab/uh)/voaindonesia.com. []

Berita terkait
Undang-Undang Aborsi Argentina Legalkan Hak Aborsi
Undang-Undang Aborsi Argentina merupakan sebuah legislasi yang menjamin prosedur aborsi bagi kehamilan usia 14 minggu ke bawah
0
Politikus PDIP Jagokan Andika Perkasa Jadi Panglima TNI
Politisi PDIP Effendi Simbolon menjagokan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Andika Perkasa menjadi Panglima TNI mengantikan Hadi Tjahjanto.