Duka dan Derita Tumbal Pesugihan Jadi Sasaran Santet

Ada informasi terkait ulah pelaku ‘serial killer’ Bekasi dan Cianjur yang secara empiris terkait dengan yang saya alami yaitu dengan pesugihan
Pesugihan mengorbankan orang-orang tedekat, seperti istri, anak, adi, ipar dan lain-lains sebagai tumbal (Foto: Dok/Ist)

Oleh: Syaiful W. Harahap*

Disclaimer: Ini pengalaman pribadi penulis, beberapa tulisan lepas dipublikasikan melalui blog dan Tagar.id, sudah puluhan yang saya bantu dari Tanah Air, Timur Tengah, Taiwan dan Jerman, setelah mereka habis-habisan berobat tapi tidak sembuh. 

TAGAR.id – Liputan dan cerita serta kisah yang mengikuti perjalanan penyidikan polisi terhadap Wowon dan Duloh yaitu pelaku ‘serial killer’ yang terungkap bermula dari Bekasi berlanjut ke Cianjur dan Garut, semuanya di Jawa Barat (Jabar).

Tiga pelaku ‘serial killer’ itu adalah Wowon Erawan alias Aki, 60 tahun, Solihin alias Duloh, 63 tahun, dan Dede Sholehudin alias Dede, 34 tahun (Dede jadi korban yang diracun di Bekasi, tapi selamat).

Ada informasi terkait ulah pelaku ‘serial killer’ Bekasi dan Cianjur ini yang secara empiris terkait dengan yang saya alami yaitu dengan pesugihan (mencari kekayaan dengan menguasai makhluk halus dengan imbalan nyawa sebagai tumbal sesuai dengan yang disepakati di awal).

Baca juga: Santet, Ada Kiriman di Malam Hari

“Pak, Bapak korban pamuragan.” Ini dikatakan oleh seseorang di sebuah terminal bus di Jabat kepada saya di tahun 1990-an. Tapi, ketika itu saya sama sekali tidak mengetahui segala sesuatu yang terkait dengan praktek perdukunan.

Saya hanya mengangguk sebagai ucapan terima kasih karena saya harus segera naik ke bus yang akan barangkat ke Jakarta. Saya harus naik bus itu karena mengejar deadline laporan penugasan dari Tabloid “Mutiara” Jakarta.

Ketemu ‘Orang Pintar’ di Banten

Hari, bulan dan tahun berlalu kata ‘pamuragan’ (tanah kuburan yang diambil dari sebuah tempat di Jabar) tidak pernah saya dengar lagi.

Tapi, belakangan kata itu jadi bagian dari kesengsaraan hidup saya karena sebagai korban ‘pamuragan’ harta benda saya dikuras habis. Biasanya yang dihabisi adalah nyawa dan harta, tapi saya lebih ke harta yang mereka (yang memelihara pesugihan) rampas dari saya.

“Pak, di rumah ada kamar atau ruangan yang tidak boleh dimasuki orang lain?” Ini pertanyaan pertama yang saya terima ketika menjumpai ‘orang pintar’ di Provinsi Banten.

Langkah saya ke Banten juga merupakan berkah yang sangat saya syukuri jika dibandingkan dengan banyak orang yang habis-habisan berobat, bahkan, maaf, ada yang disetubuhi dengan alasan memasukkan obat, tapi tidak sembuh juga.

Beberapa tahun saya berobat hampir tiap pekan ke dokter di dekat rumah di bilangan Pisangan Timur, Jakarta Timur. Tapi, penyakit yang saya derita tidak sembuh juga biar pun sudah melalui berbagai terapi dan pemeriksaan laboratorium.

Akhirnya, secara halus dokter itu mengatakan tidak bisa mengetahui penyebab penyakit saya secara medis.

Saya kelabakan karena berbagai symptom akibat penyakit terus terasa. Lutut sakit, mata kaki nyeri, kepala nyeri, bersin dan batuk dengan ingus yang tidak putus-putus dan lain-lain.

Melalui doa sayapun akhirnya terdorong ke Banten. Saya ingat betul, di awal tahun 2000-an, ketika itu di Terminal Bus Pakupatan, Serang, Banten. Seseorang yang saya ajak ngomong mengatakan bisa membantu. Saya dibawa ke seseorang, mereka panggil Pak Haji. Pak Haji itu memang tahu persis penyebab penyakit saya. Tapi, celakanya dia mengatakan tidak bisa menarik benda-benda di badan saya.

Namun, Pak Haji itu membawa saya ke Bu Haji. Nah, Bu Haji inilah yang bertanya apakah ada kamar atau ruangan di rumah saya yang tidak boleh dimasuki orang lain.

Jelas tidak ada! Tapi, saya ingat ketika berkunjung ke rumah kerabat di sebuah kota di Jabar, sebelum masuk ke rumah itu saya diingatkan: “Tidak boleh masuk ke kamar itu.” Ini yang dikatakan kepada saya sambil menunjuk kamar yang dimaksud.

“Nah, itu dia,” kata Bu Haji. Tapi, Bu Haji tidak merinci tentang hal itu.

Bu Haji justru bertanya: “Anak perempuan yang di rumah anak kandung Bapak?”

Tentu saja saya jawab “ya.” Lagi-lagi Bu Haji tidak mau menjelaskan tentang kamar atau ruangan yang tidak boleh dimasuki dan anak kandung.

SantetIlustrasi dukun santet. (Foto: Tagar: MiNews ID)

Anak Jadi Tumbal

Pertama kali berobat Bu Haji meminta saya memegang batu cincin merah, belakangan saya ketahui itulah yang disebut ‘merah delima,’ agar saya tidak kesakitan ketika Bu Haji menarik benda-benda mati, seperti paku, beling bahkan binatang hidup dari badan saya.

“Ya, sabar, Pak, kita obati saja,” kata Bu Haji. Yang dimaksud Bu Haji diobati adalah menarik benda-benda di badan saya.

Setelah beberapa kali ketemu baru Bu Haji mau menjelaskan soal kamar dan anak kandung.

Jika ada kamar atau ruangan di sebuah rumah yang tidak boleh dimasuki orang lain (kalau yang memelihara pesugihan istri maka suami, anak-anak, menantu, cucu, orang tua dan mertua) itu salah satu tanda yang punya rumah memelihara pesugihan.

“Putri Bapak jadi tumbal,” kata Bu Haji dengan nada pelan. Artinya, yang memelihara pesugihan itu menjadikan putri saya sebagai tumbal atau wadal sebagai imbalan untuk kekayaan (biasanya uang) yang dia peroleh melalui makhluk halus.

Astaga. Mengapa tidak dari awal diberitahu? “Saya takut Bapak emosi bisa memicu kekerasan,” ujar Bu Haji. Rupanya, Bu Haji ingin mengenal (sifat) saya dahulu baru membuka rahasia tentang penyakit yang saya derita.

Pak Haji yang membawa saya ke Bu Haji menawarkan jada ‘orang pintar’ lain yang bisa mengetahui nama dan alamat yang jelas orang-orang yang terlibat dalam praktek perdukungan yang mengirim santet ke saya. Nama dan alamat dukun, yang membayar dukun, tanggal pengiriman santet dan lain-lain.

Pak Haji kemudian membawa saya ke Pak Ajie, juga masih di Banten. Benar saja. Ada benda-benda yang tidak bisa ditarik Bu Haji dari badan saya dan ditarik oleh Pak Ajie. Agaknya, ada juga spesialisasi di kalangan ‘orang pintar.’

“Putri Bapak tumbal nomor sembilan,” kata Pak Ajie sambil meminta saya menghitung anggota keluarga dan kerabat yang memelihara pesugihan yang sudah meninggal dunia.

Eh, benar sudah delapan yang mati. Mulai dari adik, anak, menantu, ipar dan sopir. Sementara itu saya sendiri, menurut Pak Ajie, tumbal nomor sepuluh.

Di Kursi Roda

Pendek cerita, Alhamdulillah, putri saya dan saya sendiri lolos dari maut sebagai tumbal.

Padahal, sejak tahun 1990-an saya sering hampir celaka. Banyak kejadikan yang mendekatkan saya ke maut, tapi lagi-lagi Alhamdulillah saya lolos dari maut yang tentu saja karena lindungan-Nya.

Satu hal yang perlu diketahui adalah tumbal tidak bisa dicomot karena harus ‘diumpani’ (diberikan kehidupan yang baik) dulu sehingga biasanya orang-orang yang masih punya ikatan kekerabatan atau pertemanan.

Soalnya, kalau orang lain tentu yang mengumpani merasa rugi kalau harus memberika umpan kepada orang lain di luar kekerabatan.

Saya sering ditawari uang, tapi tidak pernah saya terima. Begitu juga dengan makanan saya jarang sekali makan di rumah kerabat dari pihak sebelah. Maka, tidak mengherankan kalau saya disebut sebagai ‘sombong’ karena memilih makan di luar.

“Kalau Bapak sering terima uang dan makan, bisa jadi Bapak ke sini di kursi roda,” kata Bu Haji. Saya pun mengelus dada sambil sampaikan ucapan syukur kepada-Nya.

“Pak, tolong mandah dulu.” Ini permintaan Ketua RW di lingkungan saya setiap bertemu. Saya tanya mengapa harus mandah, tapi (alm) Pak RW tidak memberikan alasan.

“Pak, saya sudah lama lihat tiga tuyul di rumah Bapak. Saya pikir Bapak yang piara.” Ini dikatakan oleh, juga sudah almarhum, penjaga sekolah dekat rumah, ketika saya bawa ‘orang pintar’ mengusir tuyul dari rumah.

Tanah Pamuragan di Meja Kerja

Rupanya, Pak RW mau memastikan apakah tuyul yang di rumah saya yang piara atau tidak. Karena tuyul bisanya mengikuti ‘tuannya.’

Pantas saja uang di laci selalu hilang. Saya baru ingat setiap satuan uang di laci yang tidak pernah masuk ke rekening dan sampai sekarang saya tidak tahu ke mana uang itu.

Catatan di rekening hanya uang gaji, sedangkan uang yang saya peroleh di luar gaji, seperti hadiah lomba tulis dan honor sebagai narasumber, tidak pernah masuk rekening dan sama sekali tidak saya ketahui ke mana perginya.

Untuk membeli barang, seperti pakaian dan buku, saya tidak pakai uang kontan. Itu artinya uang yang saya terima di luar gaji raib dari laci meja kerja saya di rumah.

Seorang teman di Tasikmalaya membawa ‘orang pintar’ ke kantor, sebuah LSM, untuk membantu saya mengatasi kiriman santet.

Semalaman, sebut saja Pak Haji X untuk membedakan dengan Pak Haji di Banten, tirakat di kantor saya.

Sepanjang malam tidak ada kontak. Pagi-pagi jelang subuh Pak Haji X keluar memanggil saya sambil menunjukkan tumpukan tanah dan tanah dalam bentuk genggaman yang dia tarik dari meja kerja saya.

“Ini tanah pamuragan, Pak,” kata Pak Haji X. Sedangkan tanan bentuk kepalan tangan itu adalah bantal mayat di liang lahat, biasanya bantal mayat yang mati bunuh diri.

Itulah biang keladi yang menghancurkan kehidupan saya dari aspek ekonomi.

“Oom, yang benar dong jualan pulsanya.” Ini dikatakan oleh tetangga karena setiap mereka lewat depan kantor, saya juga buka layanan fotocopy dan jual pulsa elektronik, kantor itu gelap-gulita.

Padahal, bagian depan terbuat dari kaca tembus pandang dan lampu di dalam selalu menyala.

Itulah yang terjadi jika sebuah kantor, rumah, toko atau warung yang ada tanah pamuragan. Bisanya dipakai orang-orang untuk persaingan usaha yang tidak jujur.

Berita ilustrasi-dukun-santet-2Ilustrasi. (Gambar: Ist)

Bikin Pagar Rumah

Semua yang saya alami bermula dari kedatangan seseorang, yang disebut kerabat yang membawanya sebagai seorang ustaz di tahun 1990-an. “Dik, ini Pak Ustaz mau bikin pagar rumah (maksudnya bukan pagar fisik-pen.),” kata kerabat yang membawa Pak Ustaz ke rumah.

Secara harfiah tentulah tujuannya baik. Wong yang masu pasang ‘pagar’ seorang ustaz. Mereka tidur dua malam di rumah. Tapi, belakangan saya ketahui yang disebut kerabat sebagai ustaz itu adalah seorang dukun santet yang juga pegangan kalangan tertentu.

Setelah mereka pergi, pembantu mengeluh karena mereka dipaksa membeli semen dan menyemen sesuatu di pojok ruang kerja saya.

“Pak, mereka nanam di pojok itu,” kata pembantu sambil menunjukkan pojok yang dia maksud.

Mereka pun memcah semen yang sudah mulai kering. Ada bungkusan kain putih. Bungkusan dibuka ternyata berisi telur ayam, paku, beling, kemenyan, bulir padi dan lain-lain.

Karena tidak masuk akal saya, maka bungkusan itu dibuang ke tong sampah.

“Itu dia, Pak, awal mula derita Bapak,” kata Pak Ajie setelah saya ceritakan ketika pertama kali ketemu dibawa Pak Haji.

Bungkusan itu, merupakan kain kafan mayat yang mati bunuh diri, jadi terminal untuk mengirim benda-benda ke badan saya dan memberi makan tuyul yang diinapkan di rumah.

Belakangan banyak bungkusan berisi berbagai macam benda, termasuk binatang berbisa, yang ditarik dari rumah dan kantor.

Sampai sekarang masih ada kiriman santet, bahkan bisa 4-7 kali sebulan. “Mereka berusaha terus agar Bapak celaka,” kata Pak Ajie. Hal ini sebagai bagian dari tumbal.

Semoga Allah SWT melindungi saya dan putri saya serta memberikan balasan yang setimpal kepada orang-orang yang membayar dukun untuk mengirim santet ke saya. Amin …. []

* Syaiful W. Harahap, Redaktur di Tagar.id

Berita terkait
Santet, Ada Kiriman di Malam Hari
Untuk mencelakai seseorang ada yang memakai jasa dukun santet dengan mengirimkan benda-benda tertentu ke badan korban yang mengakibatkan kesakitan
0
Menyetubuhi Mayat Lolos dari Jerat Hukum Pidana
Salah satu bentuk deviasi (pergeseran) seksual sebagai parafilia adalah nekrofilia yaitu orang-orang yang menyalurkan dorongan seksual dengan mayat