UNTUK INDONESIA
Dua Anggota Banser NU Tak Sebut Takbir Dicap Kafir
PBNU angkat bicara terkait intimidasi yang dialami dua anggota Banser NU di Jakarta Selatan, yang tidak sebut takbir dicap kafir.
Anggota Banser NU dihina hingga disebut kafir. (Foto: Istimewa/Screenshot video)

Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menanggapi intimidasi yang dialami dua anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser), yang dianggap kafir karena tidak mengucapkan takbir.

Melalui akun Twitter Nahdlatul Ulama (NU), diterangkan jika peristiwa itu terjadi di Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Dijelaskan juga dua anggota Banser yang dicegat, berasal dari Depok, Jawa Barat.

Sikap sahabat Eko patut dipuji. Tenang, sabar dan tidak terpancing provokasi berupa olokan, cacian, paksaan dan tindakan yang mengesankan diri paling tahu Islam.

Baca juga: Henry Yoso Bakal Kasuskan Andi Arief dengan UU ITE

"Eko adalah Kader Banser kota Depok yang membanggakan, tidak emosional & menjawab dengan akhlaq terpuji," cuit @nahdlatululama Selasa, 10 Desember 2019.

Dalam cuitan tersebut tertulis juga Islam yang benar adalah sosok yang tidak begitu mudah untuk mengucapkan kafir kepada orang lain.

"Sementara yang memaksa takbir ini, justru mencoreng wajah Islam dengan paksaan dan makian," tulisnya.

Dalam video berdurasi 1 menit 3 detik itu, terlihat seorang pria berpakaian berwarna hitam mempertanyakan tujuan mereka datang ke daerah Jakarta. Sementara, dua anggota Banser itu terlihat menahan emosi meski dicecar banyak pertanyaan.

"Mana KTP lu. Gue mau lihat, mana sini identitas lu. Ngapain di Jakarta tanah gue Betawi," kata pria itu dengan nada keras ke anggota Banser.

Anggota Banser itu kemudian menjawab kalau keberadaan mereka di Jakarta terkait Gus Muwafiq. 

Pria berkaus hitam yang merekam video itu kemudian meminta dua anggota Banser tersebut untuk mengucap takbir namun anggota Banser mempertanyakan alasan mengapa dia harus mengucap takbir saat itu.

"Gue ada tugas mengkawal Gus Muwafik," timpal anggota Banser tersebut.

"Takbir, Allahuakbar. Lu Islam bukan?" ucap pria berkaus hitam itu.

"Islam, kenapa?" balas Anggota Banser.

"Yaudah takbir," ucap pria berkaus hitam.

"Buat apa?" tanya Anggota Banser.

"Kok buat apa? Kafir dong lu! Eh tar dulu takbir dulu kalau muslim, orang Islam harus takbir," ujar pria berkaus hitam itu.

"Islam itu cukup ucapkan kalimat syahadat," jawab Anggota Banser. 

Berdasarkan penelusuran Tagar, hingga Rabu, 11 Desember 2019 pukul 13.17 WIB, cuitan tersebut telah di-retweet sebanyak 7.898 dan mendapat likes 14,7K dari warganet.

Baca juga: Andi Arief Tantang Balik Henry Yosodiningrat

Menanggapi pengadangan Banser, Ketua Harian PBNU Robikin Emhas memuji sikap dua anggota Banser yang tidak terpancing cacian dari pria berkaus hitam di dalam video

"Sikap sahabat Eko patut dipuji. Tenang, sabar dan tidak terpancing provokasi berupa olokan, cacian, paksaan dan tindakan yang mengesankan diri paling tahu Islam," tutur Robikin kepada wartawan, Rabu, 11 Desember 2019.

Menurutnya, respons dua anggota Banser itu membuktikan kedalaman kualitas agama dan akhlak. Islam, kata Robikin, memang melarang mengkafirkan sesama muslim.

"Mudahnya menjatuhkan vonis kafir ini boleh jadi disebabkan karena ideologi takfiri yang belakangan berkembang di Indonesia. Baginya, selain pengikut ajarannya adalah kafir. Sehingga stempel kafir disematkan kepada siapa saja yang tidak sepaham dengan ajarannya. Tidak peduli sesama pemeluk Islam yang pokok ajaran agama berupa syahadat, salat, puasa, zakat dan hajinya sama," ujar Ketua Harian PBNU. []

Berita terkait
Sejarah Berdirinya Banser Nahdlatul Ulama
Massa aksi Sorong, menuntut pemerintah membubaran Banser, sayap Nahdlatul Ulama. Eksis sebagai salah satu ormas, bagaimana sejarah Banser berdiri?
Musda FPI Jateng Ditolak Banser NU, Brimob Turun Tangan
Musda ke-2 FPI Jawa Tengah mendapat penolakan sejumlah ormas termasuk Banser.
Banser Tolak Agenda Khilafah FPI Tegal
Pembina Banser Kabupaten Tegal Sofiudin dan sejumlah ormas seperti Muhammadiyah menolak FPI di Tegal, karena diduga mengemukakan agenda khilafah.
0
Data Bansos Dampak Covid-19 Kemensos di Bantul Kacau
Lurah di Bantul, Yogyakarta, dipusingkan data penerima bansos dampak Covid-19 dari Kemensos.