Oleh: Denny Siregar*

"Banyak penduduk di Jawa Barat yang tidak mau pilih Jokowi."

Begitu cerita teman ketika kami sedang ngopi.

"Mereka bukan tidak suka pada Jokowi, bukan. Mereka tidak mau pilih Jokowi karena meyakini bahwa Jokowi adalah turunan PKI. Dan keyakinan ini berakar sejak lama sejak masa orde baru.

Ada keyakinan yang ditanamkan sejak lama pada masa orde baru bahwa Soekarno adalah PKI. Dan keturunan PKI pasti juga PKI, termasuk Megawati. Nah, karena Megawati memimpin PDIP maka semua yang lahir dari rahim PDIP termasuk Jokowi sebagai kadernya adalah PKI.

Inilah keyakinan yang ditanamkan di jaringan-jaringan agama di wilayah-wilayah Jawa Barat, melalui ustaz-ustaz jaringan mereka. Jualan anti PKI laku di sana, karena dengan cerita tentang kekejaman PKI mereka bisa membangun nuansa Islami di diri mereka."

Wah, menarik juga melihat akar dari mana stigma PKI disematkan pada Jokowi. Politisasi agama dimainkan dengan membangun stigma-stigma yang dimainkan dengan penuh kepentingan.

"Jadi bagi mereka siapa pun lawan Jokowi adalah Islam?" tanyaku heran melihat bagaimana doktrin melalui propaganda berulang itu membekas dalam pikiran seseorang.

"Benar. Ada keyakinan bahwa memilih Jokowi sama dengan membiarkan PKI berkembang. Dan itu dosa besar. Dan setiap dosa besar tempatnya di neraka. Inilah yang mereka yakini selama ini."

Mungkin 10 tahun, mungkin 20 tahun lagi. Semua itu bukan buat Jokowi, bukan buat kita, tapi buat anak kita kelak, cucu kita kelak

Temanku menyelesaikan ceritanya sambil menghabiskan kopinya pada seruputan terakhir.

Aku membayangkan sulitnya mengedukasi masyarakat Jawa Barat yang banyak terjebak dalam kebodohan dan kemiskinan. Mereka didoktrin setiap saat dengan narasi agama tanpa sadar bahwa mereka digiring menuju kepentingan politik.

Itulah kenapa dalam setiap diskusi, ketika seseorang bertanya, "Bagaimana cara Jokowi memberantas radikalisme di negara ini?" Saya selalu menjawab, "Dengan ekonomi...."

Jokowi membangun infrastruktur di semua lini dari barat sampai timur untuk memperbaiki ekonomi negeri ini. Ketika infrastruktur terhubung, maka ekonomi diharapkan meningkat. Ketika ekonomi meningkat, maka pendidikan juga akan meningkat. Dengan begitu, akar radikalisme yang berawal dari kebodohan dan kemiskinan akan teratasi.

"Kapan kira-kira itu bisa terlaksana?" tanya seseorang

"Mungkin 10 tahun, mungkin 20 tahun lagi. Semua itu bukan buat Jokowi, bukan buat kita, tapi buat anak kita kelak, cucu kita kelak. Sehingga kelak negeri ini akan sibuk berkompetisi dalam wilayah ekonomi, bukan siapa yang paling suci."

Secangkir kopi terhidang membayangkan kerukunan yang akan kembali ke negeri ini. Semua ada waktunya, tetapi semua bangunan tergantung pondasinya. 

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga: