UNTUK INDONESIA
Untuk Indonesia
Diprediksi Covid-19 Selesai Sebelum Idul Fitri 2020
Berdasarkan fakta-fakta yang berlaku, diprediksi Covid-19 selesai di Indonesia sebelum Idul Fitri, sebelum 23 Mei 2020.
Ilustrasi - Menjaga kebersihan dan memakai pakaian pelindung supaya tidak diganggu Covid-19. (Foto: Pixabay/Syaibatulhamdi)

Oleh: Marsda Purn Prayitno Wongsodidjojo Ramelan, Pengamat Intelijen

Dr. Forster seorang peneliti tentang virus Corona SARS-Cov2 mengatakan kepada MailOnline bahwa dari penemuan tiga tipe (A,B dan C) yang kini menginfeksi di seluruh dunia, ditemukan perkembangan, serta karakteristik masing-masing tipe.

Ditemukan bahwa virus tipe A awalnya bermutasi menjadi tipe B di China, tetapi tipe C, 'princes' dari B, berevolusi di luar negara. Dia mengakui bahwa para ilmuwan tidak mengerti bagaimana tipe B telah 'menyingkirkan' pendahulunya dan menjadi lebih umum di China.

Tipe B ditemukan nyaman dalam sistem kekebalan tubuh orang-orang di Wuhan dan tidak perlu bermutasi untuk beradaptasi. Namun, di luar Wuhan dan di tubuh orang-orang dari lokasi yang berbeda, variasi mutasinya jauh lebih cepat. Tipe B menjadi umum di China tetapi silent killer ganas di Eropa.

Inggris sebagian besar dibombardir dengan kasus tipe B, dengan tiga perempat sampel pengujian sebagai strain itu. Swiss, Jerman, Perancis, Belgia dan Belanda juga didominasi tipe B. Variasi lain yang berbeda, tipe C, turunan dari tipe B, menyebar ke Eropa melalui Singapura, menyerang Italia.

Ini menunjukkan ia beradaptasi untuk mencoba bertahan dan mengatasi perlawanan di antara populasi-populasi lain, seperti orang Barat. Analisis data menunjukkan jenis virus yang asli mungkin telah beredar di China sejak September tahun lalu.

Covid-19 insyaAllah selesai sebelum Idul Fitri dan kita bisa salat Ied bersama, bisa bersilaturahmi pada 23 Mei 2020, memeluk keluarga kita.

Kalau melihat karakter mutasi dan tipe yang menyerang dunia, hal ini bisa merupakan indikasi penyebaran virus baru dan bisa benar-benar bagian dari bio war (?) Para ahli virus pasti sudah memahami karakteristik imunitas dari ras China, Asia dan Kaukasus (Barat).

Bagaimana dengan rumpun Melayu? Rumpun melayu/malay jelas berbeda sendiri rasnya, China bukan, dan India juga bukan. Sementara untuk Thailand/Myanmar/Jepang/Korea lebih dekat ke ras China.

Temuan ini sangat menarik, bisa jadi korban yang positif di Indonesia memang tidak harus sama atau sebesar yang di-overseas. Akan tetapi death rate Indonesia cukup tinggi (8,7%), walau secara jumlah tidak sangat besar dibandingkan korban di negara-negara Eropa dan Amerika. Penyebab kematian di antaranya karena di Indonesia masih banyak yang pola hidupnya kurang baik seperti perokok, terkena penyakit/penyakitan dan lansia. Data tanggal 12 April yang meninggal 46, total 373 jiwa.

Gubernur DKI menjelaskan bahwa 60 persen korban yang meninggal di DKI adalah lansia. Meninggal bukan karena murni Covid tetapi karena komplikasi, Covid hanya sebagai pemicu baik lansia yang imunitasnya rendah atau mereka yang memiliki penyakit penyerta.

Covid-19 Mulai Nyaman dengan Kekebalan Orang Indonesia?

Pray setuju dengan kabar gembira, lonjakan kasus sembuh dari para pasien Covid-19. Pada Minggu 12 April, kasus sembuh bertambah sebanyak 73 kasus. Capaian ini sangat besar dibandingkan sehari sebelumnya, pada 11 April 2020, kasus sembuh hanya bertambah 4 orang menjadi 286 kasus. Sehingga total pada Minggu (12/4) sudah ada 359 kasus sembuh. Sementara dengan belum ditemukan anti virus atau obat yang pasti, kekebalan seseorang yang terpapar menjadi kunci utama kesembuhan.

Di Jakarta dalam sehari ada 60 kasus sembuh. Secara kumulatif di DKI ada 142 pasien sembuh, Jatim ada 68 kasus sembuh. Jabar, Jateng, dan Bali masing- masing 19 orang sembuh. Ini bagian dari bukti bukankah demikian.

Menurut perkiraan, virus yang beredar di Indonesia bisa dari lokasi terdekat yaitu tipe C (Singapura) atau tipe A. Tapi bukan tidak mungkin bisa juga tipe B seperti yang beredar di Wuhan, tetapi sangat ganas dan mematikan di Eropa, menelan korban puluhan ribu di Swiss, Jerman, Perancis, Belgia dan Belanda. Variasi lain yang berbeda, tipe C, turun dari tipe B dan menyebar ke Eropa melalui Singapura menyerang dan membabi buta di Italia.

Seperti dijelaskan di atas, tipe B ini ditemukan nyaman dalam sistem kekebalan tubuh orang-orang di Wuhan dan tidak perlu bermutasi untuk beradaptasi.

Sebuah pertanyaan apakah virus yang mengontaminasi orang Indonesia ini kini mulai nyaman dalam sistem kekebalan tubuh orang-orang Indonesia ras Melayu? sehingga yang sembuh semakin banyak. Setelah 42 hari, tampaknya baik tipe A, B atau C, yang manapun tidak perlu bermutasi untuk beradaptasi, sehingga tidak menggila. Mungkin ini yang perlu diteliti lebih lanjut oleh peneliti Indonesia.

Nah kini setelah terus ditekankan physical distancing, para lansia jelas paling takut dan melakukan isolasi mandiri, yang terkena adalah golongan lebih muda (kelompok milenial). Mereka yang muda dengan imunitasnya sendiri bisa mengatasinya dan sembuh, jumlah yang sembuh semakin banyak. Bukankah ini bukti konkret? Cepat atau lambat serangan akan berhenti dan imunitas akan terbentuk.

Pray bukan ahli virus, tetapi mencoba menganalisis berdasarkan fakta-fakta yang berlaku. Kita berdoa semoga yang Pray sampaikan benar. Pray kurang sependapat adanya teori bom waktu, hitungan penduduk 270 juta yang terkontaminasi harusnya sekian juta. Kalau dengan teori di atas, mungkin akhir April atau awal Mei ini puncak kurva tercapai dan kurva akan melandai.

Kalau memang benar demikian berarti Allah menyayangi bangsa Indonesia. Ujian dan cobaan selesai, Covid-19 insyaAllah selesai sebelum Idul Fitri dan kita bisa salat Ied bersama, bisa bersilaturahmi pada 23 Mei 2020, memeluk keluarga kita. Mari kita berdoa bersama dengan tulus ikhlas saat berpuasa Ramadan, semoga ancaman Covid-19 selesai, Aamiin,Ya Rabbal Alamin. Demikian analisis singkat. Salam hormat dan tabah untuk Presiden Jokowi. Semoga bermanfaat. Pray Old Soldier. []

Baca juga:

Berita terkait
Beda Antara Social Distancing dan Physical Distancing
Pada awalnya dikenalkan social distancing, kemudian muncul istilah physical distancing agar tidak tertular atau menularkan virus corona Covid-19.
Arti Zona Merah Kuning Hijau Oranye Pandemi Covid-19
Dalam penanganan kasus pandemi Covid-19 dikenal empat zona, yaitu zona hijau, zona kuning, zona oranye, dan zona merah. Berikut penjelasannya.
Ciri-ciri Terkena Virus Corona Tanpa Gejala
Berikut ini tanda-tanda untuk mendeteksi orang yang terpapar virus corona atau Covid-19.
0
Sultan HB X Minta Warga Waspada Angin Berputar di Yogyakarta
Sri Sultan HB X meminta warga waspada angin berputar. Sultan mencontohkan tebu di Madukismo jika tersapu angin jatuhnya tidak akan satu arah.