UNTUK INDONESIA

Denny Siregar: Selongsong Peluru Senjata Rakitan Membuka Tabir

Siapa lagi yang pakai senjata rakitan kalau bukan laskar FPI yang mati itu? Kan enggak mungkin polisi yang memakai senjata rakitan? Denny Siregar.
Rekonstruksi kejadian penembakan 6 laskar FPI di jalan tol Jakarta-Cikampek. (Foto: Tagar/Antara/Ali Khumaini)

Sekali lagi orang-orang FPI berbohong kepada publik. Bohong memang sudah jadi kebiasaan orang-orang FPI. Tidak imam besarnya, Rizieq, yang bohong soal chat, tidak sekretarisnya, Haikal Hassan yang bohong sudah mimpi ketemu Rasulullah, apalagi Munarman si penyiram teh. Mereka pembohong semua. Anehnya banyak yang percaya kepada mereka bahkan rela mati untuk melindungi mereka.

Temuan terbaru dari Komnas HAM yang diumumkan beberapa hari lalu, jelas-jelas membuka tabir laskar FPI yang mati ditembak itu bukan karena disiksa polisi. Mereka memang sengaja menunggu polisi mendekat dan punya niat jahat. Benar saja, ketika rombongan polisi yang memang bertugas memantau pergerakan Rizieq itu mendekat, laskar FPI itu langsung menyerang dan akhirnya terjadilah tembak-menembak di antara mereka.

Eh, tembak-menembak? Bukannya sebelumnya si Munarman bilang mustahil laskar FPI membawa senjata api? Ya itu tadi, saya bilang orang-orang FPI itu pembohong semua. Mereka selalu bicara seolah-olah mereka tidak berdosa, padahal jahatnya luar biasa. Pakaiannya saja yang berwarna putih, dalam hatinya busuk tidak kira-kira. 

Para laskar itu jelas-jelas ingin membunuh anggota polisi dengan mencoba menjebak mereka, tapi untungnya anggota polisi yang bertugas sigap dan membela diri, kalau tidak mereka yang mati.

Temuan Komnas HAM yang dipublikasikan menunjukkan ada proyektil dan selongsong peluru berasal dari senjata rakitan. Siapa lagi yang pakai senjata rakitan kalau bukan laskar FPI yang mati itu? Kan enggak mungkin polisi yang memakai senjata rakitan?

Lagian kalau masalah tembak-menembak, tentu polisi jauh lebih terlatih daripada laskar FPI yang mungkin baru sekali itu pegang senjata api. Mereka tidak pernah berlatih serius, mungkin karena harga peluru mahal, sayang buat latihan, wong makan saja kadang mereka susah, boro-boro mau hambur-hamburkan peluru.

Akhirnya dua orang laskar pun mati konyol di tempat. Kenapa saya bilang mati konyol? Karena mereka tidak memakai perhitungan, yang dilawan tembak-menembak itu polisi yang setiap hari latihan memakai senjata. Bedakan antara berani dan mati konyol. Berani itu memakai perhitungan, mati konyol itu sudah tahu tidak mampu tapi sok jadi jawara.

Begitu juga ketika akhirnya empat orang dari mereka ditangkap dan mau dibawa ke Polda oleh polisi. Polisi memang tidak membawa borgol pada malam itu, karena mereka memang bukan tugas penangkapan, hanya pemantauan.

Siapa lagi yang pakai senjata rakitan kalau bukan laskar FPI yang mati itu? Kan enggak mungkin polisi yang memakai senjata rakitan?

Jadi dikira polisi, empat laskar FPI itu sudah dapat shock therapy dengan matinya dua kawan mereka. Eh, ternyata empat orang laskar itu bukannya menyerah, malah makin konyol dengan menyerang anggota polisi yang ada di dalam mobil. Mereka mencekik, memukul, bahkan mau merebut senjata polisi. Ya akhirnya bam! bam! bam! bam! Laskar FPI yang tersisa itu langsung dihabisi.

Polisi membela diri dan pada saat pertarungan jarak dekat seperti itu, seharusnya apa yang dilakukan oleh polisi sah adanya. Tapi Komnas HAM malah berpikir berbeda. Mereka menganggap polisi melanggar HAM karena membunuh empat orang yang tidak bersenjata dengan tembakan-tembakan.

Heran saya juga, bagaimana bisa polisi dibilang melanggar HAM kalau mereka membela diri? Kalau saya ada di polisi yang sama dengan polisi, terjepit, dan teman terancam nyawanya, saya pasti akan tembak mereka yang mengancam nyawa. Apalagi para laskar itu mau merebut senjata teman saya yang mereka pukuli. Kalau mereka berhasil merebut senjata, wah nyawa saya yang terancam. Mending dia atau saya yang mati saat itu juga.

Komnas HAM pasti tidak pernah berpikir begitu. Apalagi mereka hanya menyimpulkan sesuatu berdasarkan nonton video doang dan mendengar cerita-cerita. Tidak pernah merasakan bagaimana kerasnya situasi lapangan.

Ini mungkin jadi pelajaran ya buat pemerintah. Siapa pun nanti yang terpilih menjadi anggota Komnas HAM, secara bergilir biar mereka ikut patroli dengan polisi ke daerah-daerah berbahaya yang orangnya ganas-ganas dan menyerang. Taruhan, mereka pasti kencing-kencing di celana, biar tidak asal ribut HAM terus, apalagi dalam situasi kill or bi killed.

Ajak juga itu si Kontras dan Amnesty International, biar tidak cuma bicara tanpa solusi. Diajak rekonstruksi tidak mau, tapi ngomong di luar kayak yang paling tahu.

Untung saja kesimpulan Komnas HAM tidak menjadi rekomendasi hukum apa pun, selain cuma pandangan dari sudut yang berbeda. Tetap saja, pengadilan yang akan menentukan semuanya. Apakah polisi benar atau salah dalam mengambil tindakan tewasnya enam orang laskar FPI itu.

Dan seandainya pun, akhirnya pengadilan nanti dengan pandangan mereka yang terbatas, memutuskan anggota polisi yang bertugas bersalah karena lalai dalam tugas, saya akan tetap mendukung mereka karena buat saya mereka sudah bertugas dengan benar.

Saya harus angkat secangkir kopi untuk para anggota polisi yang sudah menembak mati para laskar FPI itu. Buat saya, nyawa kalian jauh lebih berharga daripada enam orang laskar yang mati sia-sia. Dan kalian punya hak mempertahankannya meski orang menuduh kalian berbuat semena-mena.

Untuk negara, risiko apa pun harus ditempuh meski orang tidak selalu mengapresiasi apa yang kalian lakukan. Salam hormat untuk anggota polisi kita yang sudah rela bertaruh nyawa supaya negeri ini tetap aman dari gerombolan preman berjubah agama. Salut.

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Berita terkait
Didik Mukrianto Minta Pemerintah Tindaklanjuti Temuan Komnas HAM
Didik Mukrianto menilai temuan Komnas HAM terkait penembakan 6 anggota FPI harus ditindaklanjuti secara transparan.
Tindaklanjuti Temuan Komnas HAM, Kapolri Bentuk Tim Khusus
Kapolri Jendral IdhamAziz akan membentuk tim khusus untuk menindaklanjuti temuan Komnas HAM.
Komisi III DPR Desak Polri Jalankan Rekomendasi Komnas HAM
DPR pimpinan Polri akan menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM terkait kasus kematian enam anggota laskar FPI.
0
Denny Siregar: Selongsong Peluru Senjata Rakitan Membuka Tabir
Siapa lagi yang pakai senjata rakitan kalau bukan laskar FPI yang mati itu? Kan enggak mungkin polisi yang memakai senjata rakitan? Denny Siregar.