UNTUK INDONESIA
Denny Siregar: Nadiem Makarim di Antara NU dan Muhammadiyah
Di tengah polemik Program Organisasi Penggerak (POP), Nadiem Makarim meminta maaf kepada NU, Muhammadiyah, dan PGRI. Denny Siregar.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim. (Foto: Instagram/nadiem_makarim__)

Selesai membangun infrastruktur besar-besaran, Jokowi gelisah. Dia melihat infrastruktur tanpa sumber daya manusia yang bisa menjalankan dan mengembangkannya akan seperti benda mati yang tidak berguna. Infrastruktur itu ibarat mobil. Mau sebagus dan semahal apa pun mobilnya, kalau cara menyetirnya seperti sopir angkot, jelas mobilnya akan rusak.

Karena itu di periode kedua, Jokowi fokus pada pengembangan sumber daya manusia. Dan ini bukan pekerjaan mudah, jauh lebih mudah membangun infrasruktur daripada membangun pola pikir manusia.

Kalau Anda tahu, peringkat pendidikan kita itu memalukan sekali. Sebagai negara dengan penduduk terbanyak nomor 4 dunia, pendidikan kita hanya ada di posisi ke-72 dari 77 negara. Bahkan dari sisi pendidikan, kita pun kalah jauh dari Malaysia dan Brunei, negara tetangga yang besar negaranya saja jauh lebih kecil dari kita.

Apa penyebabnya? Menurut lembaga survei dunia, PISA, sistem pendidikan kita masih menganut sistem feodalistik, di mana guru lebih banyak bicara dan siswa hanya menjadi pendengar. Secara psikologis, siswa jadi rendah diri ketika terjun ke dunia kerja dan akhirnya mereka cenderung menjadi pekerja kasar, bukan pembuat kebijakan. Ini masalah sudah puluhan tahun lamanya, dan tidak pernah diubah oleh Menteri-menteri Pendidikan meski sudah berganti-ganti kebijakan.

Jokowi akhirnya mengambil langkah ekstrem, dengan membujuk Nadiem Makarim, founder Gojek, untuk menjadi Menteri Pendidikan. Langkah Jokowi ini seperti biasa diprotes banyak orang karena mereka ragu, bisakah Nadiem yang baru berusia 36 tahun itu memegang lembaga sebesar dunia pendidikan? Apalagi Nadiem adalah praktisi, bukan berbasis pengajar. Banyak ejekan yang terlontar ketika Nadiem akhirnya mau menerima pinangan Jokowi dan membaktikan dirinya sebagai menteri, meski dia harus meninggalkan perusahaannya yang sekarang nilainya hampir mencapai 150 triliun rupiah.

Yang terjadi adalah NU dan Muhammadiyah mundur dari program POP itu, meski sudah ditetapkan untuk menerima dana Rp 20 miliar.

Baca juga: Nadiem Makarim Jelaskan Tujuan POP di Forum KPK

Dan yang namanya Jokowi, Presiden keras kepala ini semakin diremehkan semakin jadi. Buat Jokowi, tidak aakan ada perubahan kalau kita terus memandang dari sudut yang sama selama puluhan tahun lamanya. Kalau pengin berbeda, harus mulai melihat dari sudut yang berbeda pula. Dan Nadiem adalah sudut yang berbeda dalam melihat bagaimana kelak dunia pendidika kita ke depan.

Baru saja menjadi menteri, Nadiem sudah melakukan banyak gebrakan. Beberapa di antaranya adalah menghapuskan ujian negara dan membebaska pengelolaan BOS langsung ke kepala sekolah, tidak lagi lewat pemerintah daerah.

Gebrakan Nadiem membuat banyak pihak yang selama ini nyaman dengan situasi yang begitu-begitu saja, jadi tersentak kaget. Mereka tidak siap berubah. Bahkan gara-gara perubahan pengelolaan dana BOS itu, 64 kepala sekolah di Riau mundur serentak. Hebat!

Nadiem ini seperti Jokowi di masa awal pemerintahannya. Musuhnya jadi banyak sekali, karena dia melakukan perombakan besar-besaran di sana-sini. Mulai dari kecoak sampai dinosaurus keluar semua dari sarangnya dan mulai melakukan aksi menentang banyak kebijakan Nadiem, karena dinilai tidak bermanfaat untuk mereka.

Tetapi Nadiem terus jalan ke depan, karena dia punya tugas berat, bukan untuk melayani orang-orang dengan pola pikir lama, tapi bagaimana membawa dunia pendidikan ini semakin bagus ke depan.

Dan salah satu lembaga yang selalu mengkritik kebijakan baru Nadiem adalah Persatuan Guru Republik Indonesia atau PGRI. Sejak awal, PGRI seperti tidak suka Nadiem menjadi menteri, sehingga apa pun kebijakannya salah terus di mata PGRI.

Jadi, kalau di tataran naisonal ada komunitas Salawi atau semua salah Jokowi, PGRI menerapkan konsep Saladim atau salahkan semua kepada Nadiem.

Program terbaru Nadiem Makarim yang dikenal dengan panggilan Mas Menteri ini adalah Program Organisasi Penggerak atau yang dikenal dengan nama POP. Tujuan dari POP ini adalah untuk mencari model pendidikan yang terbaik untuk Indonesia, sekaligus menggerakkannya.

Nadiem ingin melibatkan banyak organisasi masyarakat yang selama ini berjuang sendiri-sendiri untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia menjadi satu ikatan bersama. Mungkin Nadiem teringat pelajaran waktu kecil dulu, kalau lidi dijadikan satu bisa menjadi sapu. Dan tujuan program ini bagus sebenarnya, tapi mungkin kekurangannya adalah Nadiem tidak melakukan banyak komunikasi, terutama kepada organisasi masyarakat yang sudah lama ada, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Yang terjadi adalah NU dan Muhammadiyah mundur dari program POP itu, meski sudah ditetapkan untuk menerima dana Rp 20 miliar.

Akhirnya sebelum polemik panjang, Nadiem Makarim pun meminta maaf kepada NU, Muhammadiyah, dan PGRI.

Baca juga: Alasan Nadiem Makarim Libatkan Sampoerna dan Tanoto

Saya juga tidak tahu alasan sebenarnya, tapi banyak media mengatakan mundurnya NU dan Muhammadiyah sebagai aksi protes karena dianggap seleksinya tidak transparan sehingga memenangkan dua lembaga seperti Putra Sampoerna Foundation dan Tanoto Foundation yang juga mendapat dana seperti mereka. PGRI juga ikut-ikutan mundur. Kalau ini sih sudah saya duga, karena kalau dilihat dari track record, mereka pasti mendukung apa pun yang menentang Nadiem.

Nadiem yang sejak remaja banyak di luar negeri mungkin lupa kultur budaya kita yang masih menganut konsep unggah-ungguh dalam melakukan sesuatu. Dia lupa menuakan NU dan Muhammadiyah karena terbiasa di luar negeri dalam mengambil keputusan. Kalau gaya begini, saya harus angkat kopi untuk Jokowi, yang bisa berlaku tegas ke satu sisi, tapi tetap hormat kepada hirarki.

Akhirnya sebelum polemik panjang, Nadiem Makarim pun meminta maaf kepada NU, Muhammadiyah, dan PGRI. Sebuah kebesaran jiwa yang luar biasa dari seorang Nadiem Makarim dalam posisinya sebagai menteri dan punya kekayaan lebih dari Rp 1 triliun itu.

Nadiem pun meminta Putra Sampoerna dan Tanoto Foundation untuk tidak menerima dana dari Kementerian Pendidikan, tapi tetap meminta mereka untuk ikut serta dalam program ini dengaan dana mereka sendiri. Dan dua lembaga itu setuju, karena tujuannya bukan untuk kepentingan pribadi tapi demi masa depan bangsa ini.

Seharusnya NU dan Muhammadiyah sebagai orang tua bisa menerima permintaan maaf Nadiem Makarim dan duduk bersama membangun sistem yang benar supaya kualitas pendidikan kita lebih bagus ke depan. Niat Nadiem bagus, tapi mungkin ada hal yang harus diperbaiki dalam pelaksanaannya.

Anggap saja ini bagian dari perjuangan, karena penjajahan terbesar dari suatu bangsa adalah kebodohan.

Jalan terus, Mas Menteri. Anda dipercaya Jokowi untuk merevolusi dunia pendidikan kita. Dan persis apa yang pernah dialami Jokowi dulu, Anda akan menerima penentangan di mana-mana. Jangan dilawan, tapi komunikasikan.

Karena banyak terjadi kesalahpahaman bukan karena jeleknya apa yang dilakukan, tapi mungkin karena buruknya cara penyampaian.

Saya titip pendidikan anak-anak saya agar kelak minimal bisa seperti Anda, menjadi orang yang berguna. 

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga: Nadiem Makarim: Dengan Rendah Hati Saya Minta Maaf

Berita terkait
Soal Tunjangan Guru SPK dan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Soal tuntutan tunjangan sertifikasi, Anita menyarankan agar para guru sebaiknya membicarakan hal ini secara kekeluargaan dengan yayasan.
Tunjangan Sertifikasi Bukan untuk Guru Satuan Pendidikan Kerja Sama Asing
Tunjangan sertifikasi guru bukan PNS hanya berhak untuk guru-guru dari sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat.
Sekolah di Zona Hijau Wajib Tutup Kembali Jika Risiko Berubah
Begitu ada penambahan kasus Covid-19, atau level risiko daerah naik, pembelajaran tatap muka di sekolah harus dihentikan. Mendikbud Nadiem Makarim.
0
Denny Siregar: Nadiem Makarim di Antara NU dan Muhammadiyah
Di tengah polemik Program Organisasi Penggerak (POP), Nadiem Makarim meminta maaf kepada NU, Muhammadiyah, dan PGRI. Denny Siregar.