UNTUK INDONESIA
Denny Siregar: Jakarta Banjir, Anies Baswedan Sibuk Pilpres 2024
Warga Jakarta dijadikan injakan Anies Baswedan untuk menaikkan popularitas. Soal kerja nanti dulu, ambisinya jadi presiden. Opini Denny Siregar.
Anies Baswedan. (Foto: Instagram/Anies Baswedan)

Kalau ingin melihat sinetron berseri, lihatlah Jakarta sekarang ini. Sejak awal banyak meragukan seorang Anies Baswedan mampu menjadi kepala daerah yang baik, yang bisa menjadi eksekutor dari banyaknya masalah di Jakarta. Anies bukan tipikal pekerja. Ia tipe motivator yang bisa sukses dengan jadi pembicara. Susunan kata-katanya bagus, teratur dan karena itu banyak yang suka padanya.

Jokowi juga dulu suka sama Anies karena kemampuannya berbicara dan kemudian akhirnya menjadikan ia sebagai Menteri Pendidikan. Tapi soal kerja? Ow, nanti dulu. Itu ranah yang berbeda. Kerja itu butuh eksekutor, bukan motivator. Seorang kepala daerah harus mampu dengan cepat menyelesaikan masalah, memenej ribuan pekerja di bawahnya dan mencapai target setahap demi setahap. Itulah kenapa Jokowi dulu memecatnya jadi menteri. Karena menteri itu harus berkarakter eksekutor, bukan hanya motivator.

Dan Anies tidak mampu sedikitpun memenuhi harapan Jokowi dalam bekerja. Tapi kelemahan Anies tertutup oleh ambisi besarnya. Ia ingin jadi presiden. Ingin menorehkan sejarah dalam kehidupannya. Dan untuk bisa ke sana, ia bisa menghalalkan segala cara.

Lihat saja Pilgub DKI 2017 yang ia menangkan. Pilgub paling brutal dalam sejarah karena menjual ayat dan mayat dibiarkan Anies karena itu menguntungkannya secara politik. Dan ia menang di atas robeknya kebhinekaan, tanpa sedikit pun mau bersuara untuk melarang pendukungnya melakukan hal yang salah.

Bahkan sesudah dilantik, ia masih bermain politik identitas dengan memainkan narasi "pribumi" untuk mengamankan serangan terhadap dirinya. Padahal ia sendiri juga bukan pribumi, tapi warga negara Indonesia keturunan Arab.

Ia sudah mendudukkan posisinya sendiri untuk Pilpres 2024. 

Banjir di PancoranSeorang murid duduk di depan ruang kelas saat banjir di SDN Pancoran 03 Pagi, Jakarta, Selasa, 25 Februari 2020. (Foto: Antara/Aprillio Akbar)

Banjir besar yang melanda Jakarta pada awal Januari 2020 pun ia mainkan secara politik. Bukannya sibuk berbenah dan waspada terhadap datangnya banjir ke depan, Anies malah sibuk ingin berdebat masalah naturalisasi dan normalisasi. Padahal inti sebenarnya sama, yaitu pelebaran sungai. Bedanya, Anies kurang berani memindahkan ratusan ribu warga yang sudah puluhan tahun tinggal di bantaran Sungai Ciliwung.Kenapa? Ya, sekali lagi, ia butuh suara dari orang-orang itu. Beda dengan Ahok yang dulu dengan berani memindahkan mereka ke rumah susun demi kepentingan penduduk Jakarta yang lebih besar.

Anies juga lebih sibuk mencitrakan dirinya saat namanya terpuruk akibat banjir besar yang menyebabkan puluhan orang tewas dan kerugian ditaksir sekitar 10 triliunan rupiah, daripada sibuk mencari solusi apa yang harus diperbaiki.

Buzzer-buzzernya secara masif membangun panggung Anies dengan menyebutnya "Good bener" dan "Gubernur Indonesia". Tim TGUPP-nya disebar untuk membenarkan apa yang dilakukan Anies. Dan lihat cara Anies berkelit dari masalahnya. Siapa yang ia salahkan? Ya, pusat.

Anies sengaja bermain dengan narasi menyalahkan pusat dengan maksud menaikkan namanya ke panggung nasional. Apalagi ketika ia memainkan narasi membantah Jokowi masalah sampah. Anies ingin meraih pendukung lebih besar karena lebih gagah melawan Jokowi, daripada melawan menterinya.

Ia sudah mendudukkan posisinya sendiri untuk Pilpres 2024. Anies tahu dua tahun lagi ia tidak punya panggung sebagai gubernur karena pilpres baru akan dilaksanakan 2024. Karena itu ia memanfaatkan situasi sekarang ini untuk menabung suara dan memainkan peran sebagai orang benar yang melawan kezaliman pemerintah pusat. Pusing, kan? Jokowi saja pusing, apalagi kita.

Yang kasihan warga Jakarta pastinya, tanpa sadar sudah dijadikan injakan Anies untuk menaikkan popularitasnya. Anies juga seperti tidak peduli masalah besar yang ia hadapi. Yang penting citra, citra, dan citra.

Melihat Anies Baswedan seperti melihat sinetron berseri yang tidak ada habisnya. Penuh intrik dan cara yang tidak elegan dalam menyelesaikan banyak masalah.

Masalahnya, banyak juga politikus yang mengincar Anies dan mendorongnya. Mereka butuh suara juga. Mereka tahu Anies tidak bisa bekerja, tapi bukan itu yang penting. Yang penting adalah bagaimana bisa memenangkan Pemilu dan meraih suara.

Para politikus itu tahu, banyak pemilih emosional yang tidak peduli pemimpinnya bekerja atau tidak. Yang penting ia santun, seiman dan muncul di media-media sebagai pahlawan. Kerja itu belakangan.

Mau banjir sepaha kek, sedada kek, tenggelam kek, yang penting pilih Anies dan biarkan Tuhan yang bekerja menyelesaikan masalahnya. 

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Tulisan ini sebelumnya telah di-publish dalam bentuk video di Cokro TV dengan judul Mending Jadi Youtuber Aja, Anies

Baca juga:

Lihat foto:

Berita terkait
Jalanan di Jakarta Timur yang Kebanjiran
Sejumlah ruas jalan di wilayah Jakarta Timur tidak bisa dilintasi kendaraan. Ketinggian banjir bervariasi. Diimbau untuk berhati-hati.
Hati-hati, 12 Lintasan Tol Jasa Marga Kebanjiran
Jasa Marga mencatat sebanyak 12 titik ruas jalan tol yang kebanjiran karena curah hujan yang tinggi sejak Selasa dini hari, 25 Februari 2020.
PLN Jakarta Raya Padamkan Listrik Karena Banjir
PLN Jakarta Raya memadamkan sejumlah gardu listrik karena banjir di beberapa lokasi di Jakarta dan sekitarnya.
0
Dinkes Kota Tangerang Bantah Warga Kena Corona
Dikabarkan salah satu warganya terkena virus corna, Dinkes Kota Tangerang membantah, warga itu hanya lakukan pemeriksaan biasa