UNTUK INDONESIA
Denny Siregar: Corona Hapus Keangkuhan Donald Trump
Akhirnya Amerika minta bantuan juga pada China. Keangkuhan Donald Trump dan pernyataan rasis virus China, bukan corona, ia telan. Denny Siregar.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pandemi virus corona Covid-19 sebagai darurat nasional saat Wakil Presiden Mike Pence mneyimak dalam konferensi pers di Rose Garden Gedung Putih di Washington, Amerika Serikat, Jumat, 13 Maret 2020. (Foto: Antara/Reuters/Jonathan Ernst)

Lihatlah kita semua sama. Akhirnya Amerika minta bantuan juga kepada China. Keangkuhan Donald Trump dan pernyataan-pernyataan rasisnya dengan perkataan "virus China" bukan corona, akhirnya dia telan sendiri mentah-mentah.

AS sendiri sekarang berada di posisi pertama, sesudah China dan Italia, dari jumlah orang yang positif corona. Lebih dari 85 ribu orang. Yang meninggal lebih dari 1.000 orang.

Tidak ada negara, sekuat apa pun dia, yang bisa bertahan dengan situasi ini.

Amerika CoronaMobil berbaris saat warga menunggu untuk melakukan uji virus corona Covid-19 di tempat pengujian lantatur (drive-thru) di Denver, Colorado, Amerika Serikat, Sabtu, 14 Maret 2020. (Foto: Antara/Reuters/Drone Base)

Mau menerapkan lockdown seperti di Wuhan, China, juga enggak mungkin. Amerika negara demokrasi. Lockdown bisa menimbulkan kerusuhan dan penjarahan.

Atau mau main sabet-sabet penduduk yang bandel kayak di India? Juga enggak mungkin. Sebagai negara HAM, pasti banyak LSM yang teriak-teriak memaki pemerintah tidak berperikemanusiaan.

Tidak ada negara, sekuat apa pun dia, yang bisa bertahan dengan situasi ini. Ribuan triliun rupiah dikucurkan untuk melawan virus dan membangun jaring pengaman ekonomi mereka. Sama seperti Indonesia. Kita semua ini sejatinya rapuh seperti jaring laba-laba, hanya merasa kuat saja.

Tapi dari sini kita bisa ambil hikmah yang terdalam.

Semua negara saling bantu, tidak peduli apa warna kulitnya, apa agamanya, apa tingkat sosialnya. Semua merasa lemah, dan ketika lemah kita condong meminta bantuan tanpa ada rasa kesombongan.

Tuhan mengajarkan kita sejenak, supaya saling berjabat tangan. Jika tidak bisa diingatkan, sebuah virus bisa jadi pelajaran.

Saya jadi ingat film berjudul Volcano, kalau tidak salah.

Di akhir cerita, ketika situasi terburuk sudah mulai mereda, seorang anak kecil yang seluruh badannya tertutup debu, melihat sekeliling dan melihat kenyataan bahwa semua orang sama seperti dirinya, bermandikan debu. Semua orang. Termasuk ayahnya.

Yang kulit putih, hitam, kuning dan cokelat. Semua jadi berwarna abu-abu.

Dia lalu berbicara pada ayahnya, "Lihat, Yah, kita semua ternyata sama."

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga:

Berita terkait
Gawat, Amerika Bisa Jadi Episentrum Covid-19
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan, Amerika Serikat bisa menjadi pusat (episentrum) pandemi global virus corona Covid-19.
Amerika Serikat Uji Coba Vaksin COVID-19
Amerika Serikat (AS) memulai uji coba klinis vaksin virus corona. Uji coba itu dilakukan kepada kalangan terbatas.
Amerika Latin Kerahkan Militer Berlakukan Jam Malam Atasi Virus Corona
Amerika Latin memperketat pengawasan terhadap penyebaran virus corona, COVID-19, mulai Senin, 16 Maret 2020.
0
Satgas Covid-19 Tes PCR Buruh Pabrik Sampoerna
Pasca meninggalnya dua buruh PT Sampoerna akibat terinfeksi virus Covid-19, tim kuratif gugus tugas melakukan tes PCR terhadap 46 buruh.