Jakarta - Film Dokumenter Sexy Killers telah ditonton lebih dari 1,2 juta kali, selama dua hari penayangannya di situs berbagi video YouTube, sejak tanggal 13 April 2019 kemarin. Dandhy Dwi Laksono, merupakan sosok dibalik pembuatan film.

Sexy Killers merupakan satu dari 12 film oleh-oleh Dandhy dan Ucok Suparta, dari perjalanannya mengelilingi Indonesia dalam ekspedisi Indonesia Biru, yang dilakukan sepanjang tahun 2015. Sebelum merilis di YouTube, film telah diputar terlebih dulu di 476 titik Nobar (nonton bareng), pada tanggal 5-11 April 2019.

Film berlatar penambangan batu bara itu, dikerjakan dengan mengambil lokasi Kalimantan Timur. Sementara pengembangan cerita, disebut Dandhy dilakukan di beberapa daerah seperti Jawa, Bali, dan Sulawesi dengan melibatkan videografer lain di daerah-daerah itu.

Dandhy merupakan jurnalis senior yang disegani. Dia dikenal sebagai wartawan, aktivis, sekaligus pendiri rumah produksi film dokumenter WatchDoc. Sebagai wartawan, pria gempal ini diketahui pernah bekerja di beberapa media cetak, radio, online dan televisi. Dia juga merupakan penulis buku berjudul Indonesia for Sale dan Jurnalisme Investigasi.

Sebelum menggarap Sexy Killers, Watchdoc yang dia dirikan bersama rekan sesama wartawan bernama Andhy Panca Kurniawan, telah memproduksi sebanyak 125 episode dokumenter dan 540 feature televisi. 40 video di antaranya pernah diganjar berbagai penghargaan.

Karya video dokumenter besutan Watchdoc terkenal kerap mengangkat tema-tema sosial, salah satunya adalah video dokumenter berjudul Jakarta Unfair yang bercerita soal penggusuran yang dilakukan oleh Pemerintah DKI Jakarta, dokumenter Samin vs Semen tentang protes pabrik semen, dan dokumenter Kala Benoa tentang aksi tolak reklamasi.

Selain garang mengkritik kebijakan pemerintah melalui film, Dandhy juga dikenal pedas dalam berceloteh di media sosial. Lantaran itu, pemilik akun Twitter @Dandy_Laksono pernah dilaporkan ke polisi oleh organisasi sayap PDI Perjuangan, Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) Jawa Timur, pada tahun 2017 lalu.

Dandhy dilaporkan, karena artikel yang diunggahnya di status media sosial Facebook dianggap menghina Presiden keempat Megawati Soekarno Putri. Lewat status, pemilik nama akun Dandhy Dwi Laksono itu menulis:

"Tepat setelah Megawati kembali berkuasa dan lewat kemenangan PDIP dan terpilihnya Presiden Jokowi yang disebutnya sebagai petugas partai (sebagaimana Aung San menegaskan kekuasaannya), jumlah penangkapan warga di Papua tembus 1.083".

Namun pelaporan tak menyurutkan langkah Dandhy dalam berkarya dan berceloteh kritis. Pria yang hobi bermain gitar itu, tetap rajin menulis kritik dan menyuarakan ketimpangan sosial melalui karya-karta audio visual bersama Watchdoc. []