UNTUK INDONESIA
Crossdressing Belum Tentu Penyimpangan Seksual
Para pelaku crossdressing belum tentu mengalami penyimpangan seksual karena banyak sekali motif di balik perilaku individu.
Harry Styles saat tampil "crossdressing" mengenakan atasan transparan Gucci dipadu celana potongan pinggang tinggi lengkap dengan sepatu berhak dan giwang dalam acara Met Gala pada Mei 2019. (Foto: Antara/REUTERS/Mario Anzuoni)

Jakarta - Para pelaku crossdressing belum tentu mengalami penyimpangan seksual karena banyak sekali motif di balik perilaku individu yang gemar berpenampilan layaknya lawan jenis kelamin itu. Demikian dikatakan Psikolog seksual Zoya Amirin. 

"Crossdressing belum tentu sungguh-sungguh transvetisme karena motif atau tujuan akhirnya kita tidak pernah tahu. Crossdressing itu lebih ke penyaluran ekspresi dan memang ada komunitasnya. Beberapa sudah coming out dan beberapa ada yang memang didukung pasangannya, misal ke kondangan ya sama-sama pakai kebaya itu ada," kata Zoya, di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 15 Oktober 2019.


Crossdressing belum tentu sungguh-sungguh transvetisme karena motif atau tujuan akhirnya kita tidak pernah tahu.


Penyimpangan perilaku seksual atau dalam istilah medis disebut paraphilia salah satunya adalah transvetisme, yakni orang yang mendapat kepuasan dari berbusana atau berpenampilan seperti lawan jenis kelaminnya.

Kendati demikian, perilaku crossdressing bisa jadi menyimpang jika pada akhirnya mendapatkan kepuasan tanpa hubungan seks dengan manusia

"Penyebabnya hampir sama seperti semua paraphilia yakni trauma pada masa lalu. Bisa saja di-kasarin sama lawan jenisnya. Jadi, dia merasa lebih nyaman dengan seksualitas lawan jenis dia," kata Zoya.

Agar perilaku menyimpang tidak terjadi, menurut Zoya, sebaiknya para orang tua mengajarkan pendidikan seksual sejak dini sehingga anak akan nyaman dengan seksualitas dia.

"Organ intim harus disebut sesuai namanya, bukan disebut dengan sebutan yang aneh-aneh misal penis jadi burung atau payudara jadi tete," katanya.

Zoya menuturkan pendidikan seksual sejak dini itu bertujuan agar anak tidak menganggap seksualitas sebagai sesuatu yang aneh, menakutkan, atau bahkan tabu sehingga mesti ditutup-tutupi dengan penyebutan lain.

"Ketika anak tidak menganggap seksualitas sebagai hal yang aneh, dia akan nyaman dengan seksualitas dia dan tidak akan bereksperimen sendiri dengan seksualitasnya," katanya. []

Berita terkait
Psikolog: Crosshijaber Penyimpangan Kejiwaan
Fenomena crosshijaber atau crossdressing laki-laki yang memakai pakaian wanita adalah perilaku menyimpan.
Aktivis: Keliru Penyebutan Laki-laki pada Crosshijaber
Belakangan ini dikabarkan banyak laki-laki yang memakai hijab dengan menyebut diri sebagai komunitas crosshijaber, kehadiran mereka menggemparkan
Arti dan Penjelasan Crosshijaber yang Bikin Heboh
Sebenarnya apakah arti dan bagaimana crosshijaber bisa berkembang?
0
Profil Lima Aktor Tersangka Jiwasraya
Profil lima aktor tersangka kasus dugaan korupsi Jiwasraya: Benny Tjokrosaputro, Hendrisman Rahim, Heru Hidayat, Hary Prasetyo, dan Syahmirwan.