Cerpen: Pencuri

Seorang laki-laki berjalan menyusuri gang sebuah perumahan. Ia tampak bukan orang penting. Badannya yang kerempeng terbungkus kemeja lusuh.
Ilustrasi. (Foto: Tagar/Pexels/Josh Hild)

Pencuri

Ditulis oleh Siti Afifiyah*


Seorang laki-laki berjalan menyusuri gang sebuah perumahan. Ia tampak bukan orang penting. Badannya yang kerempeng terbungkus kemeja lusuh. Celananya dekil. Dan sandal jepitnya sudah sangat tipis karena sudah ia pakai berjalan dalam waktu yang panjang. Ia memegang sesuatu di tangannya. Sesuatu yang dibungkus dengan kertas bekas. Sesuatu itu berbentuk kotak.

Satu dua orang yang berpapasan dengannya tampak membuang muka. Pura-pura tidak melihatnya. Sikap mereka seperti takut dimintai uang.

Lelaki kerempeng berjalan dengan pola yang sama. Berhenti di setiap rumah. Saat melihat rumah tampak sepi, ia menunggu beberapa saat. Ketika yakin tidak ada pergerakan dalam rumah, ia berjalan lagi.

Pagar-pagar di perumahan itu pada umumnya setinggi dada orang dewasa saja. Sehingga ia bisa melihat apakah rumah di depannya ada orangnya atau kosong.

Di depan sebuah rumah dengan pagar warna putih, lelaki kerempeng itu melihat ada perempuan agak tua duduk di ruang tamu.

Rumah itu sebenarnya terkunci, tapi bagian depannya kaca dengan gorden tersingkap. Sehingga perempuan agak tua yang duduk di sofa ruang tamu terlihat olehnya.

"Assalamualaikum," lelaki kerempeng mencoba menarik perhatiannya.

Perempuan agak tua itu sebenarnya mendengar. Ia langsung menyimpulkan laki-laki kerempeng dengan wajah hitam terbakar matahari itu pasti pengemis. Ia tidak mau membuka pintu. Lelaki kerempeng itu pasti bau. Begitu pikirnya.

Ia bangkit dan menutup gorden dengan rapat. Dengan pandangan menghindari tatapan mata si kerempeng. Ia benci pengemis. Menurutnya pengemis adalah pemalas. Tidak mau bekerja keras. Paling juga buat beli rokok. Begitu pikirnya. 

Ia juga berpikir, kalau ia memberi uang kepada pengemis, maka pengemis itu akan semakin rajin mengemis. Selamanya ia akan jadi pengemis. Tidak akan ada usahanya untuk mengubah hidup dengan cara bermartabat. Jadi menurutnya satu-satunya cara mendidik pengemis adalah dengan tidak memberi apa yang dimintanya.


***


Lelaki kerempeng terus berjalan. Dari gang ke gang. Berhenti dari satu rumah ke rumah berikutnya.

Hari itu siang menjelang sore. Panas matahari perlahan berganti mendung dan turun hujan. Lelaki kerempeng melihat semua rumah tertutup rapat. Ia berjalan ke luar gang, berjalan cepat ke sebuah warung makanan. Tapi ia tidak masuk ke dalam warung. Ia berteduh di emperan warung. 

Beberapa orang juga berteduh seperti dirinya. Tapi tak ada yang mengajaknya berbicara. Ia juga tidak ingin membuka pembicaraan. Ia mendekap bungkusan yang dipegangnya. Memastikan bungkusan itu tidak terkena air hujan.

Lelaki kerempeng sibuk dengan pikirannya sendiri. Tadi pagi ia naik bus dari kampungnya di Majalengka. Di dalam bus menuju Jakarta, ia tertidur sebentar. Saat bangun, ia mendapati tasnya hilang. Semua uang yang tak seberapa ada di dalam tas itu. Juga ponselnya. Semua hilang. 

Uang yang tak seberapa yang hilang itu tadinya ia rencanakan untuk belanja buah. Ia mau menjadi pedagang buah dengan gerobak keliling seperti yang dilakukan Asep, temannya satu kampung. Ia ingin meminjam ponsel pada penumpang lain untuk menghubungi Asep, tapi ia tidak ingat nomor teleponnya. 

Asep beberapa tahun lalu menjadi pedagang buah dengan gerobak keliling di Jakarta. Asep yang kemudian menjadi sukses. Punya lapak buah sendiri di sebuah pasar di Pulo Gadung. Dagangan buahnya banyak. Asep kemudian merekrut anak-anak muda di kampung untuk menjadi pedagang buah dengan gerobak keliling di Jakarta. 

Ia juga ditawari pada waktu itu, tapi ia tidak tertarik. Saat itu ia sedang semangat membangun usahanya. Ternak ayam. Sampai suatu hari semua ayamnya mati karena virus yang ia tidak mengerti, ia ingat Asep. Ia pun memutuskan merantau ke Jakarta untuk membuat sejarah baru.

Lelaki kerempeng ingin menjadi sukses seperti Asep. Menjadi dermawan. Dihormati orang-orang seluruh kampung. Semua orang membicarakan kebaikan hati Asep. Orang-orang mendoakannya semakin sukses. Orang-orang kampung yang dibangunkan masjid oleh Asep.


***


Bebarapa saat hujan reda, si lelaki kerempeng melanjutkan perjalanan. Masuk ke dalam gang perumahan. Berhenti di satu rumah ke rumah berikutnya. Lebih banyak rumah sepi. Tak ada yang menyahut saat ia mengucap salam.

Sampai kemudian ia melihat seorang perempuan tua sedang menata pot bunga di depan rumah. Perempuan itu tampak khusyuk mencabuti rumput yang tumbuh di sisi-sisi bunga kamboja dalam pot.

Si lelaki kerempeng membuka bungkusan, dan tampak buku tipis berjudul "Tuntunan Salat Tahajud" di tangannya. Lelaki kerempeng mendekati perempuan tua, menyodorkan buku itu. 

Perempuan itu kaget dengan kedatangan si lelaki kerempeng yang tiba-tiba. 

"Seikhlasnya, Bu Haji," kata si lelaki kerempeng. 

Perempuan tua itu menyimpan kesal dalam hati. Ia tidak suka dipanggil Bu Haji. Ia memang memakai kerudung, tapi ia belum pernah menunaikan ibadah haji. Menurutnya orang yang memanggil Bu Haji itu sok tahu. Sok cari muka. 

Lagipula perempuan tua itu sudah punya buku semacam itu. Banyak. Hanya menjadi tumpukan yang disarangi debu. Lagipula ia juga bisa mendapat informasi semacam itu di internet. 

Ia ingin menghindar, tapi ia sudah ketangkap basah. Dengan terpaksa ia masuk ke dalam rumah, mencari uang recehan dalam dompet. 

"Terima kasih, Bu Haji. Semoga berkah," lelaki kerempeng menerima lembaran lima ribu rupiah.

Perempuan tua itu mencoba tersenyum dengan terpaksa. 

Si lelaki kerempeng berjalan keluar dari gang. Berhenti di sebuah warung sembako. Ia membeli roti murahan dan segelas air mineral. Ia mengunyah roti sambil memikirkan bagaimana perjalanan selanjutnya untuk bertemu Asep.

Tadi siang setelah tasnya hilang, ia turun dari bus. Ia lapar tapi tak punya uang serupiah pun. Saat melintasi penjual buku yang membuka lapak di emperan toko, ia mencuri buku berjudul "Tuntunan Salat Tahajud" itu. Buku curian yang terjual lima ribu untuk membeli roti dan segelas air mineral.


****


Si lelaki kerempeng berjalan menembus malam. Sampai kemudian ia tiba di sebuah pasar yang ia yakini adalah tempat Asep menjual buah.

Beberapa orang yang ia tanyai membawanya pada sebuah toko buah. Toko itu merupakan gedung tiga lantai.

Toko sudah tutup. Dan tampak sepi. Tak ada orang. Lelaki kerempeng mengikuti nalurinya. Dalam gelap menaiki tangga di samping toko. Ia mendengar suara. Ia mengikuti suara yang kemudian membawanya ke lantai paling atas. 

Berhenti di ujung tangga, ia melihat Asep dan tiga orang sedang berbicara di ruangan terbuka. 

"Ini pekerjaan mudah. Rumah itu kosong. Orang tua tuli, kikir, yang suka menyimpan uang di bawah bantal. Kita pasti berhasil. Sesuai rencana, sendiri atau bersama kalian, aku bergerak malam ini," kata seorang lelaki bertubuh gempal.

"Kamu bodoh atau apa. Polisi sedang mengincar kita. Tahan diri dulu beberapa saat. Pekerjaan kita kemarin sedang ramai jadi berita. Kamu mau masuk penjara?" kata seorang laki-laki berbadan ceking.

"Aku setuju sama si Gempal. Ini kesempatan. Kenapa harus ditunda," kata yang seorang lagi dengan rambut gondrong.

Asep menengahi perdebatan itu,"Kita tunggu Memet. Harusnya dia sudah datang. Aku ingin dia belajar sesuatu dengan proyek ini."

Lelaki kerempeng terkesiap. Namanya: Memet, disebut Asep. Ia akan diajak menjadi bagian dalam gerombolan pencuri. Refleks ia membalik badan. Mengendap-endap menuruni tangga. Berjalan lagi menembus gelap malam. []


*Pemimpin Redaksi Tagar.id


KARYA FIKSI LAIN: Novel Bagian 1 : Kebas





Berita terkait
Dongkrak Imajinasi Penulis, Cabaca Gelar Lomba Menulis Cerpen
Platform penerbitan digital Cabaca, mengadakan lomba menulis cerpen untuk meningkatkan daya imajinasi anak muda Indonesia.
Definisi, Karakteristik, dan Sejarah Cerita Pendek atau Cerpen
Cerita pendek atau disingkat cerpen merupakan salah satu bentuk narasi prosa fiksi yang lebih singkat dan pendek dari novel.
Bahagia Kayla saat Ganjar Luncurkan Cerpen Karyanya
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menghadiri peluncuruan karya cerpen Kayla dan temannya di SD Marsudirini 77 Salatiga.
0
Novel Bagian 1 : Kebas
Cici sama sekali tidak meneteskan air mata, melihat Surono, suaminya, tengkurap di lantai dengan bersimbah darah - Novel Kebas karya Siti Afifiyah.