UNTUK INDONESIA
Cerita Mahasiswa Yogyakarta Ujian Skripsi Online
Bagi mahasiswa di Yogyakarta yang mengikuti ujian skripsi online tidak merasakan ada greget dan ketegangan.
Purnomo Bidu, 23 tahun, mahasiswa tingkat akhir di Yogyakarta menjalani ujian skripsi secara daring. (Foto: Tagar/Evi Nur Afiah).

Yogyakarta - Purnomo Bidu, 23 tahun, mahasiswa tingkat akhir Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Yogyakarta mengaku mendapat pengalaman baru saat menyelesaikan pendidikan Sarjana 1 (S1). Pengalaman yang tidak sama sekali pernah terfikirkan sebelumnya.

Setelah melewati perkuliahan hampir 4 tahun, satu momen sakral dalam mengerjakan skripsi adalah Seminar Proposal Skripsi alias Semprop, di mana mahasiswa mempresentasikan karyanya dihadapan dosen pembimbing dan penguji secara langsung.

Karena ada Covid-19 ujiannya melalui sistem online. Harusnya bisa tatap muka langsung dengan dosen.

Namun, sangat berbeda dengan semprop dilaluinya. Dirinya telah melakukan ujian secara online sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di satuan pendidikan.

Mahasiswa asal Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah ini mengaku ujian daring dirasa unik namun kurang greget lantaran tidak ada tantangan.

"Karena ada Covid-19 ujiannya melalui sistem online. Harusnya bisa tatap muka langsung dengan dosen. Tapi karena keadaanya tidak memungkinkan jadi mau tidak mau seperti itu (daring) lewat video call (VC)," kata Purnomo kepada Tagar.

Hal unik, dirinya rasakan saat semprop daring video call adalah ketika Purnomo tak repot-repot berpenampilan formal. Di mana ia harus memakai baju putih yang di double almamater. Lalu celana hitam berbahan kain, sampai urusan sepatu.

Namun hal itu tidak dilakukan sama sekali. Dirinya cukup berpenampilan seadanya dengan bermodalkan laptop serta headset.

"Sumpah ini lucu. Ujian seperti ini penampilan juga bisa dimanipulasi. Biasanya harus beli baju putih karena sudah hilang atau sudah kekecilan. Beruntungnya aku punya jas laboratorium warna putih terus dilapisi almamater," ucapnya.

Tak hanya baju putih, bahkan saat ujian dirinya hanya menggunakan celana pendek. Alasannya dosen tidak akan tahu karena posisi ujian yang diperlihatkan setengah bagian badan saja.

Budaya mahasiswa saat ujian adanya pemberian makanan atau buah tangah di meja dosen penguji dan pembimbing saat seminar tugas akhir, merupakan hal biasa. Memang bukan sesuatu yang harus dilakukan dan juga tidak dilarang. Namun bagi sebagian mahasiswa budaya itu bisa memberatkan biaya.

"Ujian online seperti ini juga lebih mengirit biaya. Enggak ada acara kasih makanan juga kepada dosen penguji. Apalagi lagi pandemi covid-19 itu mahasiswa juga lagi krisis ekonomi," ceritanya.

Hal lain yang hilang saat semprop daring juga sangat dirasakan Purnomo yakni, jam ujian yang relatif cepat. Saat ujian yang dilaksanakan pada, Kamis, 30 April 2020 sekitar pukul 15.00 WIB dilakukan selama 40 menit. Dibandingkan dengan waktu normal bisa mencapai 60 sampai 90 menit.

Para dosen penguji, kata Purnomo, mengajukan pertanyaan-pertanyaan inti dan kurang menantang. Bahkan dirinya merasa seperti mengikuti kuis saat di bangku kuliah. Saat ujian, Purnomo hanya disaksikan tiga dosen penguji dan satu temannya.

"Enggak sesuai ekspetasi saya. Kirain banyak pertanyaan sulit tapi ternyata pertanyaan kuliah biasa gitu. Waktunya juga hanya 40 menit. Bagi saya kurang greget saja," kata dia.

"Ujian seperti ini cocok bagi mahasiswa yang emang tegang di depan dosen. Karena buat saya emang gak ada tegang-tegangnya," imbuhnya.

Kendati demikian, Purnomo bersyukur karena bisa menyelesaikan ujian skripsinya. Seharusnya dirinya ujian pada awal Maret 2020. Karena virus corona sudah mulai menyebar diberbagai wilayah termasuk Yogyakarta, akhirnya ujian tersebut ditunda sampai April 2020.

Tentu banyak waktu yang terbuang sia-sia karena dampak dari wabah virus corona. Belum lagi setelah semprop selesai tahap selanjutnya adalah penelitian yang seharusnya bisa dilakukan setelah ujian. Namun bisa terlaksana pada Juli 2020. Sementara rencana jadwal wisudanya pada Oktober 2020.

"Sudah banyak buang-buang waktu sih. Mau bagaimana lagi ya kalau sudah begini yang penting jalani saja. Tapi semoga saja wisudanya enggak daring juga haha. Masa online lagi kan enggak lucu," ucapnya.

Purnomo menambahkan, meskipun ujian dilakukan secara online, dirinya tetap puas dengan apa yang sudah dilaluinya. Purnomo optimis bakal mendapat nilai bagus. Selain itu, Purnomo tetap mendapat dukungan dari teman-temannya.

"Optimis saja dapat nilai bagus. Biasanya kalau keluar ruangan ada yang nyambutkan yah. Kalau ini cukup teman teman kos sama ucapan selamat dari teman-teman melalui medsos," kata dia.

Purnomo menyebut salah satu tips sukses ujian daring yaitu ada pada kuota internet. 

"Kalau ujian daring harus dipastikan sinyal dan kuota internetnya aman yah. Jangan sampe di tengah jalan mati," ujarnya.

Berita terkait
Catatan soal UMKM Terdampak Covid-19 di Yogyakarta
UMKM termasuk sektor paling terdampak pandemi Covid-19. Namun, sektor ini belum banyak mendapat perhatian pemerintah, termasuk di Yogyakarta.
Yogyakarta Luncurkan Buku Saku Panduan Covid-19
Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 DIY meluncurkan buku saku Covid-19 yang akan disebarluaskan ke desa/kelurahan.
Positif Covid-19 di Yogyakarta Tambah 9 Orang
Update Senin, 1 Mei 2020 di Yogyakarta ada tambahan sembilan positif Covid-19, satu orang sembuh.
0
Cerita Mahasiswa Yogyakarta Ujian Skripsi Online
Bagi mahasiswa di Yogyakarta yang mengikuti ujian skripsi online tidak merasakan ada greget dan ketegangan.