UNTUK INDONESIA
Cek Fakta: Benarkah Kokain Sembuhkan Penyakit Corona?
Di tengah pandemi corona Covid-19 beredar klaim bahwa kokain bisa membunuh virus berbahaya tersebut. Benarkah? Cek faktanya.
Ilustrasi - Kokain adalah satu di antara narkoba yang membuat banyak kerusakan fisik dan mental, risiko fatal kecanduan adalah kematian. (Foto: Pixabay/sammisreachers)

Jakarta - Jawabannya adalah tidak benar. Salah. Di tengah pandemi corona Covid-19 beredar klaim bahwa kokain bisa membunuh virus berbahaya tersebut. Klaim tersebut dilansir kawalcovid19.id berbunyi, "Kokain membunuh coronavirus, para ilmuwan terkejut menemukan obat ini dapat memerangi virus."

Fakta

Melalui hasil penelusuran, konten tersebut merupakan hasil rekayasa gambar dengan menggunakan peranti digital di breakyourownnews.com. Hal itu terlihat dari persamaan templat pada gambar sumber dengan tampilan awal dari peranti digital. Selain itu, gambar “kokain” dalam gambar berasal dari stok foto dari laman bigstockphoto.com.

Perihal klaim kokain dapat membunuh virus SARS-CoV2, atau corona Covid-19, tidak ditemukan faktanya. Melansir dari Politifact, kokain merupakan zat adiktif yang dapat menyebabkan masalah pernapasan jangka panjang dan gangguan pergerakan pada tubuh manusia.

Bahkan, isu mengenai kokain dapat membunuh virus corona baru, mendapat respons dari Kementerian Kesehatan Perancis. Melalui akun Twitternya (@MinSoliSante), Kemenkes Perancis menyatakan bahwa kabar kokain dapat membunuh SARS-CoV2 / coronavirus adalah tidak benar.

Sejarah Kokain

Kokain adalah satu di antara narkoba atau narkotika dan obat berbahaya. Kokain adalah obat stimulan kuat yang sangat adiktif. Seperti kebanyakan stimulan, zat satu ini dapat langsung mempengaruhi fungsi otak penggunanya. Kecanduan jangka panjang menyebabkan berbagai masalah fisik dan psikologis yang parah hingga kematian.

Benda ini diekstraksi dari daun Erythroxylon coca atau lebih dikenal dengan daun koka. Daun ini banyak tumbuh di negara bagian Amerika Selatan, seperti Peru, Bolivia, dan Colombia. Selama berabad-abad, daun koka sering digunakan untuk mengatasi penyakit ketinggian dan meningkatkan energi di banyak suku asli Amerika Selatan. Di beberapa daerah terpencil Amerika Selatan, daun koka juga sering digunakan dalam upacara-upacara keagamaan.

Sejarah mencatat Amerika Serikat juga menggunakan kokain sebagai tonik dan ramuan untuk mengobati berbagai macam penyakit pada awal 1900-an. Karena khasiatnya itulah, kokain menjadi senyawa yang sangat populer dan sering digunakan dalam obat-obatan, seperti pelega tenggorokan dan tonik. Bahkan, zat ini juga sempat menjadi bahan utama untuk salah satu merek minuman soda yang paling terkenal, meski kini akhirnya kandungan kokain sama sekali dihilangkan dari minuman tersebut.

Dalam perkembangannya, khasiat kokain sering disalahgunakan. Beberapa orang menjual zat ini secara ilegal sebagai bubuk putih halus yang dimurnikan dan dicampur dengan zat lain seperti tepung maizena, bedak talek, atau gula. 

Beberapa orang juga ada yang mencampurnya dengan heroin atau amphetamine, dikenal sebagai speedball. Akibatnya, kasus kecanduan, perilaku psikotik, kejang, dan kematian pun meningkat. Akhirnya, pada tahun 1914, Harrison Narcotics Tax Act Amerika Serikat melarang penggunaan zat ini dalam produk yang dijual bebas dan membuatnya hanya tersedia dengan resep dokter.

Sebagai obat yang dimurnikan, kokain masuk ke dalam salah satu zat yang paling sering disalahgunakan selama lebih dari 100 tahun. []

Baca juga:

Berita terkait
Cek Fakta: Pasar Tanah Abang Ditutup karena Corona
Beredar kabar yang menyebutkan bahwa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melakukan penutupan pasar regional Tanah Abang karena virus corona.
Cek Fakta: Bali Bakal Lockdown karena Virus Corona
Baru-baru ini, media sosial diramaikan dengan informasi mengenai adanya kebijakan lokcdown alias penutupan seluruh wilayah di Pulau Bali.
Cek Fakta: Warga China Nonmuslim Takut Corona Salat?
Warga China nonmuslim yang takut virus corona menunaikan salat menjadi viral, benarkah?
0
Jenis Olahraga yang Aman Selama Puasa
Namun, saat menjalani puasa Ramadan banyak orang yang malas berolahraga karena takut kelelahan, dan batal puasanya.