UNTUK INDONESIA
Cara yang Ditempuh TNI Menangani Krisis Informasi
Pejabat penerangan di TNI harus bertindak cepat dan responsif dalam menghadapi manajemen krisis terutama dalam pengelolaan manajemen informasi
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (TNI AD), Brigjen TNI Nefra Firdaus (Foto: Tagar/Dispenad TNI)

Bandung - Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat, Brigjen TNI Nefra Firdaus, meminta pejabat penerangan di TNI harus bertindak cepat dan responsif dalam menghadapi manajemen krisis terutama dalam pengelolaan manajemen informasi. “Krisis di sini bukan krisis keuangan atau krisis moneter, tetapi suatu kejadian di wilayah yang melibatkan satuan atau personel TNI AD harus segera direspon dengan cepat oleh pejabat penerangan,” pinta Brigjen Nefra dalam keterangan tertulis yang diterima Tagar di Bandung, 23 September 2020.

Ada beberapa langkah atau upaya yang harus dilakukan TNI di jajaran penerangan dalam menghadapi krisis informasi atau sikap yang harus dilakukan saat ada kejadian yang melibatkan satuan atau personel TNI AD. “Bagaimana langkah-langkah dalam manajemen informasi pada saat krisis,” ujarnya.

Ada lima langkah yang harus dilakukan pejabat atau jajaran penerangan TNI apabila dalam kondisi tersebut, yaitu: pertama, harus jujur kepada publik dalam memberikan informasi apa adanya (tidak ditutup-tutupi). Kedua, harus menyampaikan informasi yang bermanfaat. Ketiga, membuat rencana manajemen krisis, dan masukkan serta mampu berhubungan baik dengan media. Keempat, menyiapkan juru bicara, kapten harus bisa jadi juru bicara satuan.

“Siap tidaknya juru bicara dalam memberikan keterangan akan mempengaruhi opini masyarakat secara luas,” katanya.

Kelima terang dia, bisa menjalin kerjasama baik dan berkelanjutan dengan para media. Adapun, ada hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh para pejabat atau jajaran penerangan diantaranya; jangan menganggap media sebagai musuh. Meskipun dalam mendapatkan informasi tidak tergantung pada media, tetapi media bisa menjadi salah satu sumber informasi.

“Tidak melupakan prajurit atau personel TNI AD sebagai sumber informasi yang akurat tentang suatu peristiwa,” ujar Brigjen Nefra.

Dia juga mengingatkan, dalam manajemen informasi terutama saat krisis bukanlah hal yang spontan tetapi harus dipersiapkan, direncanakan dan dipelihara. Public Relation (PR) dalam situasi krisis memerlukan keahlian yang harus dipelajari, dan dilatih. Sehingga informasi yang disampaikan bermanfaat dan bukan menjadi bumerang.

Pejabat penerangan harus berhati-hati dalam memberikan informasi yang penting, tapi tidak membatasi akses informasi secara total karena dapat menimbulkan asumsi yang keliru dalam persepsi berita. Dalam menyampaikan informasi harus memerhatikan hal-hal yang sudah menjadi protokol atau ketentuan yang ada. “Yang lebih penting hubungan dengan media harus terus dijaga, dan bukan sebagai hubungan jangka pendek dan kasuistis tapi direncanakan secara baik,” kata Brigjen Nefra. []

Berita terkait
Dispenal Klarifikasi Perwira TNI AL Punya Ramuan Anti Corona
Kadispenal Laksma TNI Mohamad Zaenal mengklarifikasi pemberitaan yang beredar tentang personel TNI AL bernama Laksma TNI Suradi A.S.
0
Hutan Bakau Lubuk Kertang di Langkat Dirusak 104 Pabrik Arang
Kelompok Tani dan Nelayan Lestari Mangrove di Langkat, Sumatera Utara, meminta petugas kepolisian menangkap pelaku pencurian kayu bakau.