UNTUK INDONESIA
Candi Peradaban Kerajaan Hindu-Buddha Terbaru di Jawa
Candi di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur ditemukan di Brebes. Diduga riwayat dari kerajaan Galuh, Sunda kuno.
Warga melihat arca dan batu bata yang diduga bagian dari bangunan peninggalan kerajaan kuno di Desa Galuhtimur, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Selasa, 23 Juli 2019. (Foto: Tagar/Farid Firdaus).

Brebes - Sejak dahulu, tanah Jawa tersohor hingga ke seantero negeri sebagai salah satu pusat peradaban Kerajaan Hindu-Buddha terbesar di dunia. Banyak tapak tilas yang belum semuanya terkuak ke publik. Hal di mana menjadi magnet bagi para peneliti sejarah guna mengungkap keberadaan candi yang masih tertimbun tanah, untuk selanjutnya digali menjadi bekal ilmu pengetahuan faktual bagi generasi yang akan datang.   

Muhajir, warga Desa Galuh Timur, Tonjong, Brebes, meyakini jika di desa tempat ia tinggal saat ini masih menyisakan jejak peninggalan sejarah Kerajaan Galuh yang belum terkuak seutuhnya. 

Bersama warga setempat, ia menyepakati menggali tanah di lokasi tersebut, meskipun tanpa suplai satu pun pemodal. Motivasinya hanya satu, yakni menelusuri sisa peradaban lama demi kemajuan daerah setempat.

Menurutnya, Kawasan Galuh Timur masih rekat kaitannya dengan jejak peradaban Kerajaan Galuh yang terpeta hingga ke perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah. Maka itu ia putuskan melakukan penggalian perdana, pada 29 Juni 2019.

"Niatnya hanya ingin nguri-nguri (melestarikan). Ingin tahu sejarah desa," kilah pria yang mengemban jabatan sebagai Sekretaris Desa Galuh Timur ini.

Ternyata upaya yang ia genjot tidak berakhir sia-sia. Sudah susah payah, di hari penggalian keempat, Muhajir beserta rekannya, terkejut karena berhasil mengangkat bata-bata merah yang dipandang sebagai harta berharga warisan leluhur. 

Penemuan itu membuat mereka kian trengginas mengerahkan energi mencangkul bumi, guna menjawab misteri yang kadung terbersit menghinggapi pikiran Muhajir dan rekannya.

Kami juga menemukan altar untuk berdoa atau persembahan, dan umpak (alas untuk tiang pondasi).

Jerih payah itu pun terbayar lagi, dengan mata kepala sendiri, Muhajir, menemukan batuan lain yang diduga kuat menjadi bagian dari Arca Dwarapala atau patung penjaga gerbang, yang selama ini memang dicari-cari.

"Kami juga menemukan altar untuk berdoa atau persembahan, dan umpak (alas untuk tiang pondasi)," kata Muhajir kepada Tagar, Selasa, 23 Juli 2019.

Muhajir menilai, bata-bata merah dan bebatuan yang ia temukan mirip dengan struktur bangunan kerajaan-kerajaan kuno zaman Hindu-Buddha. Saat menggali lubang, firasatnya mengatakan, masih ada bangunan candi yang tertimbun tanah di bawah sana dan belum ditemukan. 

Di antara ilham yang membisikinya, kian dikuatkan lagi dengan penemuan kolam pemandian sisa-sisa peradaban lama. "Warga yang tahu menyebutnya Candi Gagang Golok. Selain itu, mungkin juga ada bangunan semacam sendang untuk mandi karena di situ juga kami temukan ada sumurnya," kata dia.

Menemukan situs bersejarah di sana, Muhajir mengaku baru menggali tanah sedalam 1,5 meter, belum menggali maksimal. "Sementara perkiraan luas situsnya ‎bisa lebih dari itu 8x8 meter," ucapnya.

Membisiki Pemerintah

Muhajir tidak ingin serakah, oleh sebab itu ia lempar bola supaya penemuan ini dikaji lebih mendalam agar berguna bagi ilmu pengetahuan dan untuk masyarakat sekitar. 

Pertama, ia membisiki penemuan dugaan candi ke Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Selain itu, dia melapor pula ke Pemerintah Kabupaten Brebes dan Perhutani tertanggal 15 Juli 2019. 

Setelah melihat ke lokasi penemuan BPCB meminta penggalian dihentikan sementara, karena temuan hasil penggalian akan diteliti lebih dulu.

Tiga hari kemudian, staf dari BPCB Jawa Tengah serta Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Brebes pun merespons langsung mendatangi lokasi yang digadang-gadang sebagai jejak peradaban Kerajaan Galuh.

"Setelah melihat ke lokasi penemuan BPCB meminta penggalian dihentikan sementara, karena temuan hasil penggalian akan diteliti lebih dulu," jelasnya.

Melihat makin ramainya kunjungan orang pemerintahan, membuat warga sekitar kian penasaran untuk mendekat ke kawasan hutan jati di Petak 144 A1 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Tonjong, Badan Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Pengarasan, di Desa Galuh Timur, tempat ditemukannya reruntuhan Kerajaan Galuh.

‎Perhatian penduduk sekitar terpusat pada tumpukan batu bata yang telah diangkat dan diletakkan di atas tanah, yang saat ini dipagari bambu serta telah dipasangi garis polisi

Alhasil, pengunjung hanya bisa melongok sambil berdiskusi dari luar pagar, tidak bisa menyentuh reruntuhan bangunan dan batuan yang bernilai sejarah ini.

Mendekati jantung galian, pendatang akan disuguhi dengan rimbunnya kawasan hutan jati. Rapat dedaunan di sana bahkan menutupi bias sinar matahari yang panasnya tiap hari membakar bumi.

Diduga Peninggalan ‎Abad ke-7

Kepala Seksi Sejarah, Purbakala dan Permuseuman Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Brebes, Umar Basah menjelaskan, ia tak ingin warga menjamah kawasan tersebut karena masih ada tahapan observasi dan pendataan ke depan. Ia menduga penemuan ini bisa jadi adalah Candi di area Brebes.

Situs itu menjadi temuan cagar budaya yang terbesar. Sebelumnya yang ditemukan baru bagian-bagian kecilnya saja, seperti arca, tapal batas, dan tempat persembahan. Lokasinya terpisah-pisah. 

Umar menegaskan, kawasan penggalian saat ini dalam pengawasan ketat oleh BPCB Jawa Tengah. "Aktivitas penggalian situs yang selama ini dilakukan oleh warga dihentikan untuk sementara waktu agar tidak merusak bagian-bagian situs yang sedang diteliti," kata dia, saat dikonfirmasi, Selasa, 23 Juli 2019.

Ia mengharapkan dengan penemuan situs bersejarah, ke depannya tempat ini dapat menjadi cagar budaya yang teregistrasi, sekaligus menjadi yang terbesar di Kabupaten Brebes. Karena sejauh ini, kata Umar, belum ditemukan candi di kawasan Brebes. 

"Sejauh ini, situs itu menjadi temuan cagar budaya yang terbesar. Sebelumnya yang ditemukan baru bagian-bagian kecilnya saja, seperti arca, tapal batas, dan tempat persembahan. Lokasinya juga terpisah-pisah," tutur dia.

Berdasarkan catatan Dinas Pariwisata Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Brebes, hingga saat ini di Kabupaten Brebes terdapat 67 cagar budaya yang sudah teregistrasi. Beberapa di antaranya adalah tempat persembahan atau semacam altar yang terletak di Desa Wanatirta, Kecamatan Paguyangan serta makam kuno di daerah selatan Kecamatan Paguyangan.

Secara terpisah, Staf BPCB Jawa Tengah Wahyu Kristanto menjelaskan situs yang ditemukan warga di Desa Galuh Timur, Brebes diduga kuat merupakan bagian dari bangunan candi dari abad ke-7 hingga ke-14. Periode itu kerap disebut sebagai periode klasik. 

"Berdasarkan hasil observasi sementara, situs yang ditemukan diduga candi yang berasal dari periode pengaruh Hindu dan Budha atau sekitar abad ke-7 hingga ke-14," kata Wahyu saat dihubungi, Selasa, 23 Juli 2019.

Wahyu menuturkan, pihaknya tengah menyusun hasil identifikasi yang lebih rinci tentang temuan di lokasi situs tersebut untuk diserahkan sebagai rekomendasi ke Badan Arkeologi agar dikaji mendalam.

‎"Setelah hasil penelitian keluar kita akan tahu kira-kira situs itu berasal dari zaman apa dan dahulu fungsinya sebagai apa," kata dia.

Warga Berharap Jadi Tempat Wisata

Sejak ditemukan dan menjadi pembicaraan hangat warga sekitar, situs yang diduga kompleks ‎candi di Desa Galuh Timur setiap hari menjadi santapan warga dari luar desa yang lapar akan pengetahuan, bahkan dari luar kota pun datang menghampiri. 

Pengunjung yang menginjakkan kaki di sana penasaran hendak menyaksikan langsung candi yang disebut-sebut telah tertimbun tanah berabad-abad itu. 

Karena belum terkelola penuh dalam aspek pariwisata, maka warga setempat akhirnya berinisiatif sendiri membersihkan area situs ini dan menyediakan lokasi parkir bagi pengunjung. 

Candi BrebesSumur yang diduga bagian dari bangunan peninggalan kerajaan kuno di Desa Galuhtimur, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Selasa, 23 Juli 2019. (Foto: Tagar/Farid Firdaus).

Papan penunjuk arah sementara sudah dipasang guna memudahkan pendatang mengakses lokasi tersebut. Warga setempat sudah menyiapkan warung yang menyediakan makanan dan minuman ringan untuk menjamu pendatang. Area situs dapat dikatakan layaknya 'obyek wisata' dadakan.

Suripto, 52 tahun, mengaku sengaja mendatangi objek candi di Brebes karena dinaungi rasa penasaran ingin menyaksikan langsung candi yang menjadi buah bibir masyarakat. 

"Tahunya dari media sosial dan cerita orang. Penasaran ingin melihat langsung," kata dia saat diwawancarai, Rabu 24 Juli 2019.

Sang penggasan galian, Muhajir, mengakui padatnya warga yang penasaran menyambangi situs ini tak terpengaruh dengan akses transportasi meski lokasinya berada di tengah-tengah hutan milik Perhutani. 

Menurut dia, Sabtu dan Minggu menjadi waktu yang paling ramai dikunjungi oleh pendatang “Akhir pekan paling ramai pengunjung," katanya. 

Hingga saat ini pengunjung yang datang belum ditagih retribusi. Masyarakat sekitar berharap bantuan seikhlasnya.

“Ada kotak amal yang sediakan, tetapi seikhlasnya saja kalau ada yang mau memasukkan uang. Warga sini juga berinisiatif menjaga,” kata Muhajir.

Muhajir mengharapkan, kawasan situs ini nantinya dapat menjadi obyek‎ wisata yang bisa dikunjungi masyarakat luas. Selain bisa menjadi upaya melestarikan cagar budaya, kawasan ini ia inginkan juga bisa menggerakkan perekonomian masyarakat setempat. 

"Situs memiliki potensi sebagai tempat wisata, terutama wisata edukasi yang bisa memberi pengetahuan tentang sejarah. Dampak ekonominya juga bisa dirasakan masyarakat," kata dia. []

Baca juga:

Berita terkait
0
Sumbar Raih Penghargaan TPID Terbaik se-Sumatera
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat meraih penghargaan TPID terbaik 2020.