Jakarta, (Tagar 21/3/2019) - Untuk melenggang kembali menjadi orang nomor satu di Indonesia selama 2 periode kepemerintahan, kubu petahana harus mempertahankan lumbung suaranya di Jawa Tengah (Jateng), Jawa Timur (Jatim) dan Papua.

Pada Pemilu 2014, paslon Joko Widodo-Jusuf Kalla meraup 66,65 persen di Jateng dengan total penyoblos 12.959.540 orang. Sementara di Jatim, mantan Walikota Solo dicoblos 11.0669.313 orang (53,17%). Kemudian di Papua, Jokowi, menang mutlak dengan persentase 70,3% atau 2.418.898 penduduk di sana memilihnya.

Menanggapi data di atas, juru bicara (Jubir) Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Suhud Alynudin, optimis elektabilitas capres-cawapres oposisi di wilayah basis Jokowi, yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur akan mengungguli Jokowi.

Alynudin makin yakin capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dapat merebut suara hati rakyat di lumbung suara Jokowi. Sebab, ia menyaksikan langsung antusiasme masyarakat saat menyambut kedatangan palson 02 di kedua daerah itu.

"Dalam satu bulan ini hingga menjelang waktu pemilihan, kami targetkan elektabilitas di sejumlah daerah sudah unggul, termasuk di basis Pak Jokowi di Jatim dan Jateng,” ucap Suhud.

"Kami optimistis target itu bisa tercapai jika melihat antusiasme masyarakat dalam menyambut kedatangan Pak Prabowo dan Pak Sandi di setiap daerah yang dikunjungi," tambahnya.

Senada dengan Suhud, Jubir BPN Sudirman Said menyebut, pasangan capres-cawapres nomor urut 02 menargetkan suara 50 persen lebih di provinsi Jawa Tengah. Misi tersebut bakal diperjuangkan semaksimal mungkin untuk menaklukkan incumbent.

Sudirman percaya bahwa politik berjalan dinamis. Dia berkaca pada Pilkada DKI Jakarta dan Jawa Tengah lalu. Sudirman menyebut hasil lembaga survei tidak sebanding dengan preferensi orang yang dinamis.

"Dan terhadap Jawa Tengah yang dikatakan disebut kandangnya kelompok tertentu sudah tidak benar sama sekali. Karena Pilkada kemarin membuktikan tidak begitu," ucap Sudirman.

"Memang saya tidak menang secara angka. Tapi semua orang, terutama kantong-kantong petahana itu mengatakan 'ah paling 20%, paling 15%, gitu kan?' tapi ternyata masyarakat Jawa Tengah bersikap berbeda," tambahnya.

JokowiPeta kekuatan Jokowi. (Infografis: Tagar/Rully Yaqin)

Mantan Menteri ESDM itu menambahkan, Prabowo-Sandi juga punya survei internal guna mengukur suara di Jateng. Kata dia, trennya terus membaik. Provinsi Jawa Tengah, lanjut dia, juga sebagai evaluasi dari kekalahan Prabowo di Pilpres 2014 silam. Dia yakin, Jateng menjadi kunci untuk memenangkan suara nasional.

"Karena itu kalau kita bisa memenangkan Jawa Tengah, Insya Allah secara nasional kita akan menang," pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya menilai, pasangan calon nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, memiliki pekerjaan rumah untuk mendongkrak elektabilitas di wilayah Jateng dan Jatim dalam kurun waktu singkat menuju Pemilu 2019.

Berdasarkan survei Charta Politica per Desember 2018, tingkat keterpilihan Prabowo-Sandiaga di Jawa Tengah adalah 13,8 persen. Sementara, Joko Widodo-Ma'ruf Amin 72,3 persen.

Sementara, di Jawa Timur, elektabilitas Prabowo-Sandiaga sebesar 30,6 persen dan Jokowi-Ma'ruf 54,8 persen.

"PR besar Prabowo-Sandi masih di Jawa Timur dan Jawa Tengah karena jarak suaranya dengan Jokowi-Ma'ruf sangat besar," ujar Yunarto pada wak media di Kantor Charta Politik, Kebayoran Baru, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Padahal, lanjut dia, Jawa Tengah dan Jawa Timur merupakan lumbung besar suara untuk Pilpres 2019.

"Makanya Jawa Tengah dan Jawa Timur jadi wilayah tempur bagi Prabowo-Sandi. Kedua daerah ini suaranya besar setelah Jawa Barat," pungkasnya. []