UNTUK INDONESIA
Beredar Video Anies Baswedan Kasih Efek Kejut 'Corona'
Beredar video pernyataan Anies Baswedan ingin memberikan efek kejut kepada masyarakat terhadap virus corona (Covid-19), dengan kebijakan transport.
Anies Baswedan. (Foto: Instagram/Anies Baswedan)

Jakarta - Demi mencegah penularan virus corona jenis baru atau Covid-19, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengimbau agar diterapkan social distancing, salah satunya dengan cara membatasi operasional transportasi umum di ibu kota. Kebijakan ini hanya berlaku sehari.

Namun, belakangan terungkap dalam video bahwa tujuan Anies Baswedan bukan untuk mengurangi pergerakan masyarakat, melainkan untuk memberikan efek kejut kepada seluruh penduduk DKI Jakarta bahwa yang dihadapi saat ini adalah Covid-19.

Baca juga: Jokowi Singgung Kebijakan Transportasi Anies Baswedan

Kalau kita tidak mengirimkan pesan efek kejut, penduduk di kota ini masih tenang-tenang saja.

Cuitan KurawaCuitan Kurawa soal Anies Baswedan. (foto: Twitter/@kurawa).

Hal tersebut menjadi perbincangan warganet tatkala potongan video pernyataan Anies beredar di Twitter. Video berdurasi 44 detik itu memerlihatkan Gubernur DKI sedang memimpin rapat.

"Tadi pagi kendaraan umum dibatasi secara ekstrem. Apa sih tujuannya? Tujuannya mengirimkan pesan kejut kepada seluruh penduduk Jakarta," kata Anies.

Melihat membludaknya masyarakat di stasiun MRT dan shelter Transjakarta, Anies menyebut ketika hal itu sudah terjadi maka akan menyadarkan masyarakat terhadap virus corona.

"Bahwa kita berhadapan dengan kondisi ekstrem. Jadi ketika orang ngantre panjang, baru sadar, oh iya Covid-19 itu bukan fenomena yang jauh sana. Ini ada di depan mata kita," ujarnya.

Dia menegaskan, jika hal itu tidak dilakukan, maka penduduk DKI Jakarta tidak akan mengerti begitu bahayanya virus yang berasal dari Wuhan, China tersebut.

"Kalau kita tidak mengirimkan pesan efek kejut, penduduk di kota ini masih tenang-tenang saja," ucap Anies.

Baca juga: Patuhi Jokowi, Anies Pulihkan Transportasi Jakarta

Cuitan Rudi ValinkaCuitan Rudi Valika soal Anies Baswedan. (foto: Twitter/@kurawa).

Video itu awalnya disebarluaskan akun @kurawa atau Rudi Valinka. Dalam cuitannya dia mengaku mendapatkan video pernyataan Anies, yang ditudingnya secara sengaja melakukan penumpukan antrean penumpang Transjakarta, dengan keminiman jumlah transportasi yang disediakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

"Gue dapat video rekaman gubernur DKI soal penumpukan antrean penumpang Transjakarta Senin kemarin. Ternyata memang DISENGAJA agar mendapat perhatian," tulisnya.

Lantas, dia menyarankan warga DKI dapat melayangkan class action apabila dalam beberapa minggu ke depan penderita Covid-19 di ibu kota makin bertambah.

"Ya Tuhan, jika dalam 2 minggu ke depan ada lonjakan penderita Covid-19 di DKI, maka silakan class action!" kata @kurawa.

Tak lama berselang, video yang telah disebarkannya itu malahan dihapus dari akun Twitter pribadinya. Dia mengaku enggan video tersebut menjadi bahan perdebatan panjang yang berujung pada keributan.

"Gue harus twit video tadi untuk menjaga persatuan dan kesatuan negara dalam memberantas Covid-19. Segala kebodohan yang sudah terjadi jangan diulangi lagi. Sekali lagi kita harus bersatu. Terima kasih," kata @kurawa.

Banyak netizen yang nampak naik pitam melihat pernyataan Anies Baswedan soal kebijakan penurunan angkutan umum di DKI. Namun, tak sedikit juga yang mendukung langkah @kurawa untuk menghapus video tersebut.

Dalam pantauan Tagar, video itu sudah mulai beredar dibeberapa media sosial, seperti Twitter, Facebook dan Instagram. []

Berita terkait
Kebijakan Transportasi Anies Implementasinya Jongkok
Kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membatasi armada tiga moda transportasi umum di Ibu Kota pelaksanaanya berantakan.
5 Kebijakan Cegah Corona Anies, 1 Kontroversial
5 kebijakan Anies Baswedan untuk menekan penyebaran corona di Jakarta, salah satunya dianggap kontroversial.
Pak Anies Tak Semua Warga Punya Kendaraan Pribadi
Direktur Eksekutif Charta Politika mengkritik keras kebijakan Anies Baswedan membatasi jam operasi 3 transportasi umum di Jakarta.