Oleh: Denny Siregar*

"Wah, Indonesia bisa seperti Sri Lanka ini. Akhirnya negara digadaikan ke China karena gak bisa bayar utang!!"

Begitu saya baca status seseorang dengan komen-komen yang riuh rendah mirip kampret yang keluar goa menyambut datangnya malam. Dan si pembuat status menayangkan video Nas Daily - seorang vlogger - tentang Money Trap atau jebakan utang China pada Sri Lanka.

Inti cerita di Nas Daily itu begini. Sri Lanka pinjam duit ke China dengan proyek ambisius membangun infrastruktur seperti bandara dan pelabuhan. Nah, ternyata pemerintah Sri Lanka kemudian gagal bayar utang mereka ke China, sehingga akhirnya menjual pelabuhan yang dibangun dengan utang dari China itu.

Tragis memang. Tetapi ada fakta tentang Sri Lanka yang tidak disampaikan oleh Nas Daily dalam vlog pendeknya itu.

Pertama, pemerintahan Sri Lanka korup sehingga kesejahteraan ekonomi masyarakat di sana hanya dinikmati segelintir orang yang dekat dengan kroni perdana menterinya. Kedua, pembangunan bandara dan pelabuhan itu sejatinya hanya untuk pencitraan daripada fungsinya. Terbukti bandara Mattala Rajapaksa disebut sebagai bandara tersepi di dunia, karena meski megah tapi tidak ada kegiatan di sana layaknya bandara.

Kenapa? "Letak bandaranya salah," kata seorang ekonom senior di Kolombo.

Ketiga, wajar Sri Lanka gagal bayar utang karena nilai utangnya sebesar 77 persen dari PDBnya. Sederhananya begini, kamu punya gaji bulanan tapi 77 persen dari gaji yang kamu terima harus buat bayar utang. Mampus, kan??

Nilai utang Indonesia dari PDBnya hanya 29 persen. Masih kecil. Pendapatan kita masih lebih besar daripada utang kita. Ibaratnya, gajian tiap bulan 29 persennya untuk bayar utang, 71 persennya masih bisa dimakan

Jadi apa yang dilakukan China mirip waktu kamu kredit motor tapi gak bisa bayar. China menyita pelabuhan Sri Lanka, tapi nanti dikembalikan ke pemerintah Sri Lanka sesudah 99 tahun lagi.

Terus apa Indonesia bisa seperti Sri Lanka, kan kita juga punya banyak utang ke China??

Ya, jauhlah. Nilai utang Indonesia dari PDBnya hanya 29 persen. Masih kecil. Pendapatan kita masih lebih besar daripada utang kita. Ibaratnya, gajian tiap bulan 29 persennya untuk bayar utang, 71 persennya masih bisa dimakan.

Lagian jumlah utang Indonesia ke China cuman 22 triliun rupiah dari seluruh utang kita ke banyak negara, atau cuman 0,50 persen saja.

Tapi ya itu, kalau udah denger nama China, para kampret kayak ketakutan dengan wajah panik dan teriak-teriak sok pintar. Padahal utang Indonesia paling besar bukan ke China, tapi justru ke Singapura dan Jepang. Malu, kan?

Gorengan isu anti China ini kemudian dimanfaatkan pada tahun politik dengan bahasa yang dibesar-besarkan seolah-olah negara kita sedang dalam posisi bangkrut. Padahal tahun 2018, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru berada pada titik tertinggi dalam 5 tahun terakhir.

Mendingan memang para kampret aja yang digadaikan ke China. Kampret itu punya potensi ekonomi yang tinggi, karena selain kotorannya yang bisa dibuat pupuk, juga otaknya bisa didonorkan dengan harga tinggi sebab jarang di-pake dan orisinil.

Tapi nanti susah juga ya. Penerima donor otak itu bisa-bisa setiap hari mereka mengeluh, "Ini salah Jokowi." Kacau, kan ?

Seruput....

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga: