Belasan Anak Banyuwangi Lepas Liarkan Ratusan Belut

Belasan anak di Banyuwangi, Jawa Timur, melepasliarkan ratusan ekor belut ke habitat asli mereka di sawah.
Pendiri Rumah Inspirasi Eris utomo mengajak anak- anak untuk melepas belut di sawah. (Foto: Tagar/Hermawan)

Banyuwangi – Beberapa anak kecil pria dan wanita berdiri berjejer di pematang sawah. Masing-masing jemari tangan mereka menggenggam kantung plastik berisi binatang panjang licin dan berlendir, belut.

Anak-anak itu ditemani oleh dua orang dewasa, raut wajah mereka terlihat bahagia. Sebagian tampak tertawa lepas sambil tetap menggenggam kantung plasti berisi belut.

Pagi itu, Minggu, 20 September 2020, cuaca tempat itu, wilayah Kota Banyuwangi, Jawa Timur, cukup cerah. Meski jarum jam masih menunjukan pukul 08.00 WIB, matahari bersinar cukup hangat menemani keceriaan anak-anak itu.

Anak-anak itu merupakan anak-anak yang sedang belajar konservasi di Rumah inspirasi Banyuwangi, yang terletak di komplek Perumahan Brawijaya Regensi, Kecamatan Banyuwangi Kota.

Rumah berkururan 7x10 meter tersebut, tempat berkumpulnya anak-anak usia sekolah mulai dari TK, SD hingga SMP untuk belajar konservasi. Salah satunya konservasi belut, yang diawali dengan perawatan belut sakit di klinik belut.

Klinik Belut Untuk Pemulihan

Pendiri Rumah Inspirasi Eris Utomo, menjelaskan, anak-anak dari berbagai kelompok usia itu, belajar mengenai manfaat belut untuk konservasi lingkungan.

Eris dan belasan anak itu segera menuju ke salah satu tempat. Di situ terdapat tong sampah yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, yang diberi nama klinik belut. Tong sampah itu berisi ratusan belut sawah.

Cerita Belut Banyuwangi (2)Pendiri Rumah Inspirasi Banyuwangi Eris Utomo mengontrol belut yang hendak dilepaskan di sawah, di Klinik Belut. (Foto: Tagar/Hermawan)

Sejak dua bulan lalu, belut-belut itu dipulihkan kesehatannya setelah ditemukan di pinggir sawah dalam kondisi hampir mati akibat perburuan belut besar-besaran yang dilakukan oleh masyarakat.

Setelah dua bulan masa pemulihan di klinik belut milik Rumah Inspirasi Banyuwangi, sekitar 700 belut tersebut pun rencananya dilepasliarkan di sejumlah titik area persawahan yang ada di wilayah pinggiran kota Banyuwangi, dengan melibatkan anak-anak usia sekolah pada saat pelepasliarannya.

Alfauza Hasan Salami 10 tahun, salah satu anak yang nampak antusias mengikuti konservasi lingkungan dengan melepasliarkan belut di sawah.

Kasihan masih kecil-kecil, lagian belut ini kan bisa membuat sawah lebih subur.

Anak yang baru duduk dibangku kelas 3 sekolah dasar ini mengaku sangat senang bisa ikut melepas belut disawah. Karena dia mengaku ingin mengatahui apa kegunaan belut jika dilepaskan di area persawahan.

“Saya baru dua kali ini ikut melepas belut disawah, sangat senang sekali bisa ikut melepas belut ini, mudah-mudahan tidak ada yang mengambil," ujar Hasan, sapaan akrab Alfauza Hasan Salami. 

Hasan mengaku, selama ini dia melihat belut-belut itu ketika sudah digoreng untuk dimakan. Dia tidak mengetahui bahwa belut juga berfungsi untuk menyuburkan ekosistem sawah. 

“Selama ini saya tahunya belut yang sudah digoreng, terkadang saya makan enak sih, tapi kalau tahu belut itu bisa menyuburkan sawah lebih baik jangan diambil biar sawahnya lebih subur dan hasil padinya bagus,” kata Hasan

Hasan meminta agar belut yang ada disawah agar tidak semuanya diambil untuk dimakan. Karena jika terus diambil maka akan habis, bahkan teancam punah.

”Kalau cari belut itu, jangan yang kecil-kecil juga diambil, nanti malah habis. Kalau habis kan nanti kesuburahan sawahnya akan berkurang, yang rugi kan kita sendiri,” ujar Hasan sembari memegang belut-belut yang hendak dilepasnya ke area pesawahan.

Sementara itu, Kailah Rahmanisyah 12 tahun, mengatakan, melepas belut di sawah, merupakan pengalaman pertamanya. Anak yang masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar ini awalnya takut untuk ikut melepas belut tersebut, karena bentuknya yang mirip ular. 

Namun setelah mendapatkan penjelasan dari pendiri Rumah Inspirasi Banyuwangi yang mendampinginya dai mulai memberanikan diri untuk memegang belut itu.

“Awalnya saya takut sekali dengan belut, kan seperti ular itu, ditambah berlendir kaya gitu, jadi kayak geli gitu megangnya. Tapi tadi dijelaskan oleh pak Eris bahwa belut itu tidak berbahaya. Jadi saya coba dan akhirnya berani,” ujar Kailah sambil tertawa

Berbeda dengan Hasan yang pernah memakan belut dengan cara digoreng, Kailah justru tidak suka dengan belut, karena baunya yang amis. Meski begitu, dia senang bisa ikut andil untuk melepas liarkan belut ke sawah untuk konservasi lingkungan, terutama untuk menambah kesuburan sawah.

“Jujur saya tidak suka dengan belut, tidak pernah makan saya, karena baunya amis. Tapi saya senang sekali hari ini bisa ikut melepas belut ke sawah, ini merupakan pengelaman pertama saya. mudah-mudahan belutnya bisa bertahan hidup sampai besar ya,” kata Kailah

Senada dengan Hasan,Kailah juga meminta kepada masyarakat untuk tidak memburu belut dengan jumlah banyak, terlebih lagi belut yang masih kecil juga ikut diambil. Dia khawatir jika terus diambil dengan jumlah besar, kesuburan area persawahan akan semakin menurun,”Jangan diambil dengan berlebihan biar sawah tetap subur,” ujar Kailah

Berawal Perburuan Besar-besaran

Eris Utomo mengatakan, metode konservasi lingkungan dengan melepasliarkan belut ke area persawahan itu, mulai dilakukan pada 4 tahun yang lalu. kata dia, hal itu berawal dari bentuk keprihatinanya terhadap keberadaan belut di area persawahan yang semakin langka. Sedangkan perburuan terhadap hewan yang mempunyai nama latin Monopterus Albus ini sangat tinggi.

Cerita Belut Banyuwangi (3)Sejumlah anak bersiap melepasliarkan belut ke sawah. (Foto: Tagar/Hermawan)

“Peburuan belut saat ini sangat besar, dan itu rata –rata tidak ramah lingkungan, sehingga semua jenis dan ukuran belut ikut diburu. Coba sekarang kita ke area persawahan cari belut pasti sulit, padahal dulu waktu kita masih kecil ketika para petani membajak sawah, dengan mudahnya kita menemukan belut di area persawahan. Ini menandakan keberadaan belut terus berkurang. Dan jika ini dibiarkan tidak menutup kemungkinan belut akan punah. Padahal belut itu kan juga bisa menyuburkan sawah,” ujar Eris Utomo.

Eris mengaku, belut-belut yang digunakan untuk konservasi lingkungan itu, hasil dari tangkapan warga yang tidak ramah lingkungan dengan menggunakan listrik atau potasium. Sedangkan belut yang diambil kata dia, hanya belut yang besar- besar saja, sedangkan belut yang berukuran kecil dibuang begitu saja.

“Melihat hal itu, kami Rumah Inpirasi Banyuwangi, berinisiatif mengambilnya dan kami lakukan pemulihan di klinik belut yang kami miliki. Ditempat konservasi atau pemulihan, belut-belut itu kita beri lumpur dan makanan, sehingga bisa beradaptasi kembali sebelum nantinya dilepas liarkan kembali ke area persawahan,” kata Eris.

Kata Eris, untuk masa pemulihan belut-belut itu membutuhkan waktu 2 bulan. Selama masa pemulihan di klinik, belut-belut itu juga digunakan untuk media pembelajaran tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan terhadap masyarakat terutama anak- anak.

“Selama masa konsevasi belut, kita juga mengajarkan kepada anak- anak bahwa belut ini bisa dijadikan indikator pencemaran lingkungan. Karena belut mudah beradaptasi. Jadi jika belut ini sudah tidak ditemukan di sawah maka tidak menutup kemungkinan lingkungan di sekitarnya sudah rusak,”kata Eris

Konservasi lingkungan melalui metode pelepas liaran belut ke sawah ini, diharapkan tidak hanya untuk mengedukasi anak-anak. Akan tetapi kegiatan tersebut juga bisa mengubah prilaku penangkapan belut yang tidak ramah lingkungan.

“Jika diingatkan langsung ini akan menjadi masalah. Tapi dengan adanya kegiatan anak- anak ini bisa menyadarkan masyarakat untuk mengcari belut dengan ramah lingkungan,” kata Eris.

Cerita Belut Banyuwangi (4)Sejumlah anak menunjukkan belut yang akan dilepasliarkan di sawah. (Foto: Tagar/Hermawan)

Sementara itu, Pemerhati Lingkungan dari Universitas Jember, Jawa Timur, Agung Kurnianto Faperta menbenarkan, bahwa belut merupakan salah satu mamalia yang juga ikut andil menyuburkan lahan persawahan. Karena belut ketika berada di sawah akan memakan sejumlah hama. Sehingga jika semakin banyak belut di sawah, kemungkinan tingkat kesuburanya semakin tinggi.

“Meski bukan mamalia yang utama, belut juga ikut andil dalam menyuburkan sawah. Karena belut akan memakan sejumlah jenis serangga yang menjadi hama tanaman di sawah terutamanya padi. Sehingga jika ada kelompok masyarakat yang mempunyai metode pelepas liaran belut di sawah itu cukup membantu meningkatkan kesuburan sawah asalkan dilakukan secara berkesinambungan,”kata Agung

Namun demikian kata Agung, tidak semua jenis belut bisa menyuburkan sawah. Kata dia, Ada juga belut yang justru merusak sawah. Sehingga kata dia, belut yang dilepas liarkan di area persawahan itu, harus belut yang berasal dari area persawahan yang sama atau jenis yang sama.

“Tapi tidak semua belut bisa menyuburkan, harus hati-hati. yang dilepas liarkan jangan belut dari Australia yang besar-besar itu, malah justri merusak tanaman, karena dia akan justru memakan tanaman di sawah. Harus belut yang jenisnya sama sehingga adaptasinya juga cepat,”kata Agung.

Agung menambahkan, belut bukan mamalia yang utama untuk menyuburkan area persawahan. kata dia yang paling utama untuk penyuburan tanah atau sawah adalah cacing.

“Akan tetapi belut seditdaknya juga ikut andil untuk ikut menjaga kesuburan sawah selama ini,” ucapnya. []

Berita terkait
Selera Rokok yang Terpaksa Berubah Akibat Pandemi
Sejumlah warga di Kabupaten Banyuwangi mengubah selera rokoknya dari rokok pabrikan menjadi rokok tembakau lintingan sendiri akibat pandemi.
Cerita Ibu yang Lihat Lubang Peluru di Wajah Anaknya
Seorang ibu di Makassar harus kehilangan salah satu anaknya dengan cara yang cukup menyakitkan, yakni tertembak pada wajahnya.
Pembuat Kelapa Jeli di Aceh Enggan Gunakan Mesin
Seorang pembuat kelapa jeli di Aceh Barat, Agus, 37 tahun, enggan menggunakan mesin dalam proses pembuatan, agar tenaga manusia tetap dipakai.
0
Dugaan Penipuan Jumlah Tes Covid-19 di Jerman
Dugaan penipuan jumlah tes Covid-19 di Jerman meningkat, otoritas keseharan Jerman membahas mekanisme kontrol jumlah tes