Jakarta, (Tagar 13/3/2019) - Penyebab utama penyakit ginjal kronis adalah diabetes dan hipertensi, selain itu merokok juga dapat mengakibatkan penyakit kronis.

Penyakit ginjal timbul akibat berbagai faktor, misalnya infeksi, tumor, kelainan bawaan, penyakit metabolik atau degeneratif, dan lain-lain. Sementara, penyakit ginjal kronis timbul secara perlahan dan sifatnya menahun.

Data Global Burden of Disease tahun 2010 menunjukkan, penyakit ginjal kronis merupakan penyebab kematian ke-27 di dunia pada tahun 1990, dan meningkat menjadi urutan ke 18 pada tahun 2010. 

Lebih dari 2 juta penduduk di dunia mendapatkan perawatan dengan dialisis atau transplantasi ginjal, hanya sekitar 10% yang benar-benar melakukan perawatan tersebut.

Rokok diketahui banyak membawa pengaruh buruk bagi kesehatan. Diduga merokok juga bisa memperburuk fungsi ginjal. 

Menurut dr Parlindungan Siregar, SpPD-KGH, pola hidup masyarakat yang tidak sehat bisa merusak fungsi ginjal. Kebiasaan tidak sehat yang masih dilakukan beberapa orang adalah meminum alkohol, makan makanan berlemak, merokok, serta tidak berolahraga.

Sementara, menurut dr Tunggul D Situmorang, SP.PD-KGH, dampak merokok pada kesehatan ginjal belum bisa dipastikan dan masih diperdebatkan. Namun kemungkinan gangguan fungsi ginjal akibat merokok tetap ada.

"Masalah rokok masih berdasarkan data statistik saja, ini belum bisa dipastikan dan masih diperdebatkan. Kemungkinan ada tetapi masih tergantung, belum bisa dipastikan," ujar dr Tunggul, Rabu (13/3).

dr Tunggul mengatakan, merokok dapat mengganggu obat-obatan yang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi. Penyebab utama penyakit ginjal terletak pada tekanan darah yang tidak terkontrol. Sedangkan merokok memperlambat aliran darah ke organ vital dan dapat memperburuk penyakit ginjal yang sudah ada.

"Jangan khawatir kalau obatnya bikin rusak tapi obat darah tingginya atau obat kencing manisnya, jauh lebih berbahaya kalo tekanan darahnya tidak terkontrol," tambah Ketua Umum Perhimhpunan Neflologi Indonesia (PERNEFRI), dr Aida Lydia, PhD., Sp. PD-KGH. []