UNTUK INDONESIA
Bayi Angkot Semarang Huni Rumah Kontrakan Seadanya
Bayi yang ikut ayahnya narik angkot di Semarang ternyata menghuni rumah memprihatinkan. Seperti apa kondisinya?
Rumah kontrakan yang dihuni bayi yang diajak narik angkot oleh ayahnya di Semarang, Jawa Tengah. Sebuah rumah yang sederhana, seadanya cenderung memprihatinkan. (Foto: Tagar/Sigit AF)

Semarang - Bilqis Choirun Nisa, bayi berusia 3,5 bulan di Kota Semarang, Jawa Tengah yang diajak ayahnya narik angkot hingga saat ini masih menjadi perhatian warganet. Ternyata bayi itu menghuni rumah kontrakan seadanya cenderung memprihatinkan. 

Banyak pihak yang tersayat hatinya, membaca kisah pilu Bilqis yang sejak usia 21 hari sudah ditinggal ibunya menghadap Sang Kuasa. Bilqis hidup hanya dengan kasih sayang seorang ayah.

Namun, sebagai tulang punggung keluarga, ayah Bilqis, Nurul Mukminin tak punya pilihan selain membawa buah hatinya itu bekerja narik angkot dari pagi hingga malam.

Tagar berkesempatan mengunjungi kediaman Bilqis di Karangsari Timur, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Rumah berukuran 3x5 meter itu dalam kondisi yang cukup memprihatinkan.

Papan yang digunakan sebagai dinding rumah sudah terlihat banyak lubang. Keadaan yang sama juga terlihat di asbes yang digunakan sebagai atap rumah.

Saya baru bayar separuhnya. Jadi kemarin ditagih.

Mukminin bercerita, kerap kali jika hujan datang ia harus siap sedia ember dan barang apapun yang bisa digunakan menampung air hujan hasil kebocoran rumahnya.

"Ya bocor. Apalagi ini musim hujan. Bilqis dan kakaknya sering kedinginan. Kan angin juga masuk," katanya, Sabtu, 8 Februari 2020.

Meski dalam keadaan yang memprihatinkan, ternyata rumah tersebut bukan milik Mukminin sendiri. Ia mengontrak rumah tersebut dengan membayar Rp 1,5 juta per tahun.

"Ini rumah ngontrak. Sudah tujuh bulan kami tempati," ujarnya.

Dengan berat hati, pria perantauan dari Bengkulu mengatakan belum lama ini sang pemilik rumah menemui Mukminin. Pemilik rumah menagih sisa uang yang belum dibayarkan.

"Saya baru bayar separuhnya. Jadi kemarin ditagih," tuturnya.

Saat itu ia mengalami kebingungan. Penghasilannya sebagai sopir angkot sebesar Rp 50 ribu sampai dengan Rp 70 ribu, hanya cukup untuk kebutuhan Bilqis dan satu putrinya lagi yang sedang duduk di bangku sekolah dasar.

"Ini saja dicukup-cukupkan. Sudah tak ada sisa. Saya biasanya merokok juga berhenti, saya paksa berhenti," katanya.

Bayang-bayang terusir dari rumah kontrakannya sering menghinggapi kepala Mukminin. Ia hanya punya saudara di Kota Semarang, tapi tidak mungkin akan hidup satu rumah bersamanya.

"Saudara ada. Tapi ya tidak mungkin tinggal satu atap," katanya.

Saat Tagar mengkonfirmasi keadaan Mukminin sekeluarga pada Minggu, 9 Februari 2020, ternyata ada kabar gembira. Ia mengaku, lewat pemberitaan yang viral di media sosial, ada orang baik yang membantu kehidupan keluarganya.

"Tadi malam ada orang baik, yang datang ke rumah dan memberi kami uang Rp 1 juta. Alhamdulillah," katanya.

Ia berencana menggunakan uang tersebut untuk melunasi sisa sewa rumah yang belum dibayarkan. "Akan saya gunakan untuk membayar kontrakan," imbuh dia. []

Baca juga: 

Berita terkait
Bayi 3,5 Bulan di Semarang Ikut Ayah Narik Angkot
Nasib pilu dialami bayi berusia 3,5 bulan di Kota Semarang, Jawa Tengah, yang saban hari harus hidup di jalanan.
Catatan Kesehatan Bayi yang Diajak Ayah Narik Angkot
Warga Semarang dibuat terharu sekaligus cemas menyaksikan bayi berusia 3,5 bulan yang diajak ayahnya narik angkot.
Banyak Pasutri Ingin Adopsi Bayi Angkot di Semarang
Bilqis Choirun Nisa, berusia 3,5 bulan yang diajak ayahnya narik angkot di Kota Semarang, memunculkan empati banyak pihak.
0
Dampak Corona, Bank Apresiasi Pelonggaran Kebijakan
Pelaku industri perbankan merespon positif pelonggaran kebijakan pada sektor finansial pasca merebaknya virus corona jenis COVID-19.