UNTUK INDONESIA
Batik Nitik Akan Jadi Produk Indikasi Geografis DIY
Batik tulis Nitik Yogyakarta dengan morif nitik sebagai indikasi geografis Yogyakarta didaftarkan ke Kemenkumham untuk HKI
Ketua Paguyuban Batik Tulis Nitik Yogyakarta, Afif Syakur menunjukkan motif batik nitik yang saat ini sedang diajukan memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa Indikasi Geografis. (Foto: Tagar/Ratih Keswara)

Yogyakarta - Paguyuban Batik Tulis Nitik Yogyakarta mengajukan batik dengan motif nitik untuk memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa Indikasi Geografis. Dengan HKI ini nantinya batik nitik akan dikenal sebagai Produk Indikasi Geografis DIY.

Hal ini diungkapkan Ketua Paguyuban Batik Tulis Nitik Yogyakarta, Afif Syakur, usai bertemu dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, di Gedhong Wilis, Komplek Kepatihan, Yogyakarta, Senin 30 September 2019. Dikatakan Afif, batik nitik memang layak menjadi salah satu produk indikasi geografis untuk DIY.

Diharapkan dengan  jadi indikasi geografis DIY, batik nitik bisa lebih dikenal dan dipahami oleh masyarakat nasional maupun internasional. "Pengajuan ini pun kami lakukan karena batik nitik memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh batik lainnya,” ujar Afif.

Afif menjelaskan, kekhasan batik nitik hingga pantas menjadi Produk Indikasi Geografis DIY ialah bentuk cantingnya yang khusus dan cara membatiknya juga khusus. Canting untuk membuat batik nitik sangat khas karena ujungnya harus dibelah menjadi segi empat. Sedangkan cara membatiknya pun memiliki khas yang tidak dilakukan di tempat lain.

“Kedua hal ini yang kami anggap menjadi sesuatu yang khas dan bisa dibanggakan oleh pengrajin batik nitik sebagai produk asal Yogyakarta," kata Afif. Batik nitik ini bahkan menjadi produk motif batik pertama yang diajukan menjadi indikasi geografis. Semoga ke depan semakin banyak motif batik yang diajukan.

Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik DIY, Titik Purwati Widowati, mengatakan pengajuan batik nitik menjadi Produk Indikasi Geografis DIY kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) RI ini telah diajukan pada 29 Juli 2019. Pengajuan ini memang harus dilakukan oleh masyarakat, bukan lembaga pemerintah.

“Setelah diajukan, dalam dua bulan ini dilakukan masa publikasi. Nanti kalau sudah tidak ada lagi yang mengklaim dalam masa publikasi ini, dari pusat akan datang untuk melihat produk batik nitik ini benar asli Jogja apa tidak,” kata Titik.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Ir Aris Riyanto, MSi., mengatakan, dengan diajukannya batik nitik untuk memperoleh HKI berupa indikasi geografis, bisa memperkaya khasanah batik tulis di DIY. Selain itu, ia berharap batik nitik juga bisa semakin dikenal oleh dunia maupun masyarakat Indonesia sendiri.

“Dengan adanya HKI dari Kemenkumham ini, sejarah tentang batik nitik yang dulunya dikembangkan di Yogyakarta ini bisa diketahui lebih luas. Orang yang memahami sejarahnya, tentu akan lebih menghargai. Selain itu, HKI ini juga bisa membuat pengrajin batik nitik punya kebanggaan yang lebih, serta bisa menciptakan pasar baru,” ujar Aris.

Sebagai informasi, indikasi geografis adalah tanda yang menunjukkan daerah asal suatu produk karena faktor lingkungan geografis. Bisa karena faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi keduanya yang memberikan reputasi, kualitas, dan karakteristik tertentu pada produk yang dihasilkan. []

Berita terkait
JogjaBike Kunjungi Kampung Wisata Batik Yogyakarta
Untuk memperkenalkan kampung wisata batik di Yogyakarta JogjaBIke menjalankan program kunjungan wisata ke kampung batik dengan sepeda
Tampil Etnik dengan Parfum Batik Asal Yogyakarta
Parfum etnik dari Yogyakarta ini bisa menjadi salah satu pilihan diantara banyaknya parfum impor yang menyerbu tanah air.
Pemerintah Diminta Batasi Impor Tekstil Motif Batik
Paguyuban batik meminta agar pemerintah membatasi impor tekstil bermotif batik untuk melindungi batik Nusantara yang sudah diakui UNESCO
0
Takhta untuk Rakyat dan Lima Pesan Sri Sultan HB IX
Sri Sultan HB X merayakan 31 tahun naik takhta Keraton Yogyakarta. Dia memegang teguh 5 pesan dari mendiang ayahanda Sri Sultan HB IX.