Jakarta - Misi tak mudah yang hendak diusung Manchester United saat menghadapi raksasa La Liga Spanyol Barcelona di perempat final kedua Liga Champions. Barca jelas bukan tim yang mudah ditaklukkan. Rekor kandang Blaugrana pun sangat ciamik sehingga MU harus bekerja ekstrakeras dalam duel di Stadion Nou Camp, Selasa atau Rabu, 17 April 2019 dinihari WIB. 

Musim ini, Barca hanya tiga kali kalah di hadapan pendukung. Di ajang Liga Champions, mereka baru sekali kehilangan poin saat dikalahkan AS Roma 2-4. Sedangkan dua kekalahan lainnya dialami di kompetisi La Liga saat menjamu Girona (0-1) dan Real Betis (3-4).

Rekor ini menunjukkan Barca bisa menjadi mimpi buruk MU. Repotnya lagi, MU sudah kalah 0-1 lewat gol bunuh diri Luke Shaw di laga pertama di Old Trafford. Ini menjadikan pekerjaan pasukan Ole Gunnar Solskjaer bertambah dua kali lipat. 

Bagaimana tidak, tim yang baru tiga kali memenangi trofi Liga Champions ini harus menang minimal 2-0 bila ingin lolos ke semifinal. Persoalannya, rekor tandang MU di Nou Camp sungguh mengecewakan. Dari tiga laga terakhir, mereka bermain imbang dua kali (0-0,3-3) dan kalah telak sekali (0-4). 

Hanya, MU memang memiliki memori indah di Nou Camp yang diharapkan bisa menaikkan moral pemain. Ya, di final Liga Champions 1999, MU menang secara dramatis 2-1 atas Bayern Munich. Dan dua gol kemenangan MU tercipta di injury time, salah satunya dihasilkan Solskjaer yang diturunkan manajer Sir Alex Ferguson di babak kedua. Itu adalah final bersejarah The Red Devils

Di musim ini, MU juga mencetak sukses yang tidak kalah mengesankan. Di babak 16 Besar Liga Champions, mereka dihajar Paris Saint Germain 0-2 di Old Trafford. Kekalahan itu menjadikan MU sama sekali tak diunggulkan saat melakoni laga kedua di Paris. 

Ternyata, MU mampu membalikkan keadaan. Mereka menang 3-1 dan gol penentuan mereka, menariknya, juga tercipta dari titik penalti di injury time. Eksekusi penentuan itu diselesaikan dengan baik oleh Marcus Rashford.

Saya berharap pemain sudah siap. Pemain akan berlari sepanjang pertandingan dan baru berhenti bila kakinya kram. Barca bukan tak bisa dikalahkan.

MU punya memori yang bisa menyuntik semangat motivasi pemain saat menghadapi Barca. Dan, Solskjaer memilih memori di Paris yang diharapkan bisa mendongkrak motivasi Paul Pogba dkk. 

"Memori saat melawan PSG akan membantu pemain. Keberhasilan di Paris bakal mengangkat tim dan meyakinkan kami bila kami mampu membalikkan keadaan. Barca tentu berbeda saat bermain di Nou Camp. Tetapi kemenangan di pertandingan melawan PSG tak pernah dilupakan pemain. Apalagi itu belum lama berlangsung," kata Solskjaer. 

Bermain Ofensif

MU pun harus menerima konsekuensi setelah tertinggal satu gol bahwa mereka harus bermain ofensif. Menurut Solskjaer apa pun yang dihadapi di Nou Camp, MU harus bisa mengejar defisit gol. 

"Saya berharap pemain sudah siap. Pemain akan berlari sepanjang pertandingan dan baru berhenti bila kakinya kram. Barca bukan tak bisa dikalahkan. Peluang kami masih terbuka. Kami juga punya keunggulan. Dari segi fisik, pemain kami rata-rata lebih tinggi. Kami juga lebih besar dari mereka. Ini harus dimaksimalkan bila ingin menang," tandasnya. 

Manajer asal Norwegia ini mengaku sudah belajar dari kekalahan di laga pertama.Menurutnya MU terlalu membiarkan lawan terlalu lama menguasai bola. Ini tidak boleh terjadi di laga tandang MU. 

"Tak masalah bila penguasaan bola Barca bisa 80-85 persen. Itu memang DNA mereka untuk bermain seperti itu. Tetapi kami bisa mengimbangi mereka. Yang jelas, kami tidak akan mengulangi kesalahan di laga pertama yang membiarkan mereka berlama-lama menguasai bola," ujarnya.

Solskjaer pun sudah menyiapkan trisula Romelu Lukaku yang ditopang Rashford dan Anthony Martial. Formasi ini memang sedikit berbeda karena di laga pertama, Solskjaer memilih menduetkan Lukaku dengan Rashford. 

Pertahanan juga menjadi perhatian karena MU harus menghindari kemungkinan kebobolan. Duet Chris Smalling dan Victor Lindelof akan bahu-membahu dengan Ashley Young dan Diogo Dalot yang diharapkan lebih banyak bermain di bawah. Ini sebagai antisipasi agresivitas Luis Suarez dan Lionel Messi. Meski berstatus tim bintang, ketergantungan Barca terhadap Messi tetap tinggi. Mematikan Messi seperti yang dilakukan Smalling di laga pertama bisa menjadi kunci memenangkan duel itu.[]

Baca juga: 

Barcelona vs Man United, Pemanasan Ala Valverde

Barcelona Tak Ingin Bernasib Sial Seperti PSG

VAR Menangkan Barcelona, MU Belum Menyerah