Apa itu Startup Unicorn? Ini Daftarnya di Indonesia

unicorn merupakan salah satu istilah yang merujuk pada salah sati perusahaan startup besar dari sisi finansialnya.
Ilustrasi Startup - (Foto: Tagar/Pixabay)

Jakarta - Startup adalah adalah sebuah perusahaan yang berjalan dibawah 5 tahun alias perusahaan yang baru saja dirintis. Menurut Wikipedia, startup adalah perusahaan yang belum lama beroperasi atau perusahaan rintisan.

Penerapan dunia teknologi, terutama internet di dunia bisnis membuat siapapun dapat membuat sebuah bisnis dengan mudah & cepat. Apalagi beberapa tahun belakangan ini, Indonesia masuk ke dalam euforia ‘startup’ dimana para entrepreneur – entrepreneur muda menciptakan bisnis startup yang memiliki inovasi & kreatifitas tanpa batas.

Sejalan dengan itu, eksistensi perusahaan startup sedang ramai bermunculan, terutama soal istilah perusahaan unicorn. Pada dasarnya, unicorn merupakan salah satu istilah yang merujuk pada salah satu perusahaan startup besar dan sering digunakan untuk mengklasifikasikan kelas perusahaan tersebut dari sisi finansialnya. Istilah unicorn juga menjadi perbincangan masyarakat Indonesia.


Apa itu Perusahaan Unicorn?

Salam mitologi Yunani, Unicorn adalah seekor kuda yang berasal dari daratan India yang cukup istimewa, sebab ia memiliki tanduk di kepalanya. Tanduk ini bukanlah tanduk biasa, rumornya tanduk ini mampu menetralkan racun apapun. Oleh karena itu, banyak yang mengagung-agungkan hewan ini meskipun tergolong langka.

Nama hewan mitos inilah yang kemudian digunakan oleh seorang kapitalis ventura asal Amerika Serikat bernama Aileen Lee pada tahun 2013 untuk menyebut perusahaan startup milik swasta yang memiliki valuasi sebesar USD 1 miliar atau setara dengan Rp14 triliun.

Mengapa Unicorn? Sebab besaran angka valuasi ini sama-sama langka, tidak mudah untuk meraih pencapaian luar biasa ini, terlebih lagi jika yang meraih adalah perusahaan startup rintisan. 

Bukan perkara yang mudah karena perusahaan rintisan perlu memerhatikan jumlah dan nominal transaksi, jumlah pengguna aplikasi atau pelanggan, teknologi produk, kualitas tim, hingga terus berinovasi untuk bersaing dengan kompetitor.

Tidak semua bidang usaha yang baru dirintis bisa digolong sebagai startup. Hanya perusahaan yang bergerak di bidang informasi teknologi (IT) berbasis internet saja yang termasuk di dalamnya, misal pengembang aplikasi digital di bidang jasa pembayaran, transportasi, atau perdagangan.

Dapat disimpulkan, istilah unicorn bisa disebut untuk mengukur tingkat kesuksesan sebuah startup. Di era digital, beberapa perusahaan startup terbukti berhasil mengimbangi kesuksesan perusahaan-perusahaan besar lainnya.


6 Perusahaan Unicorn Indonesia

Gojek

Gojek merupakan startup yang menggeluti industri teknologi dan transportasi yang didirikan tahun pada 2010 oleh Nadiem Makarim. Pada awalnya, Gojek hanya menawarkan layanan transportasi berbasis ojek online, yang kemudian pada tahun 2015 dibuatlah aplikasi mobile untuk memudahkan pemesanan. Gojek meraih status tersebut pada Agustus 2016, setelah enam tahun berdiri. Dengan ini, Gojek adalah perusahaan startup unicorn pertama di Indonesia.


Bukalapak

Bukalapak mendapatkan pendanaan dari Elang Mahkota Teknologi atau EMTEK. Pada tahun 2017, Bukalapak akhirnya resmi menyandang gelar Unicorn. Kini telah melayani lebih dari 6 juta Pelapak, 5 Juta Mitra Bukalapak dan lebih dari 90 juta pengguna aktif. Melalui baik platform online maupun offline, Bukalapak sejak awal berkomitmen untuk pengembangan usaha kecil.


Tokopedia

Tokopedia adalah perusahaan tartup yang berdiri di bidang bisnis e-commerce, yang memungkinkan tiap individu, toko kecil, dan sebuah brand untuk membuka dan mengelola toko online yang didirikan pada tahun 2009, oleh William Tanuwidjaja dan Leontinus Alpha Edison. Setelah delapan tahun berdiri, Tokopedia menyusul Gojek meraih predikat Unicorn kedua di Indonesia melalui pendanaan senilai USD 1,3 miliar.


Traveloka

Traveloka mendapatkan suntikan dana investasi dari perusahaan Amerika Serikat bernama Expedia sebesar USD 350 juta. Gelar Unicorn yang telah diraih sejak 2017 memperkuat posisi Traveloka sebagai pemimpin pasar industri travel di Indonesia. Kini Traveloka tak hanya dikenal sebagai unicorn di vertikal online travel, namun juga sudah merambah ke gaya hidup dan finansial lainnya.

Perusahaan ini didirikan oleh Ferry Unardi dan dua rekannya di tahun 2012 sebagai perusahaan startup Indonesia termuda yang mampu meraih gelar unicorn hingga kini.


OVO

Kini OVO telah menjadi mitra pembayaran terpercaya di berbagai aplikasi e-commerce dan menjadi pembayaran digital pada aplikasi transportasi decacorn di ASEAN, Grab. Menariknya, OVO mampu melesat jadi perusahaan unicorn meskipun baru dirintis pada tahun 2017 kemarin. OVO sebagai perusahaan unicorn di Indonesia yang kelima dengan valuasi sebesar USD 2,9 miliar.


JD.id

Selain menyediakan platform jual-beli online, JD.id juga menyediakan jasa pengiriman yang menjangkau sebanyak 365 kota di seluruh Indonesia. Mereka berhasil meraih pendanaan sebesar USD 1 miliar setelah mengikuti joint ventures dengan beberapa perusahaan berpendanaan besar, dan menjadikannya e-commerce ketiga di Indonesia yang memiliki status unicorn

JD.id pertama kali beroperasi di Indonesia pada tahun 2015 dengan berfokus pada bidang jual-beli secara online dengan belasan kategori pilihan produk. []

Baca Juga: Telkom Tetapkan 7 Startup Pemenang Indigo Batch 1 2021

Berita terkait
SehatQ Startup Pertama yang Terlibat Vaksinasi Covid-19 di Semua Lini
SehatQ menjadi health tech startup pertama dan satu-satunya yang terlibat penuh dalam persiapan, pelaksanaan, hingga pemantauan vaksinasi covid-19.
Kemendikbud Berharap Kampus Dapat Untung Bangun Startup
Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi berharap perguruan tinggi dapat memperoleh keuntungan melalui usaha rintisan atau startup.
Pengamat: Ambisi Nadiem Makarim soal Startup Kampus Sia-sia
Pengamat Pendidikan dari Vox Populi Institut Indonesia Indra Charismiadji menilai ambisi Nadiem Makarim membangun startup kampus terkesan boros.
0
IPO Startup Kripto Bullish-SPAC Punya Ekuitas Rp 135 Triliun
Gabungan Bullish dan Far Peak akan memiliki nilai ekuitas sekitar US$ 9 miliar atau setara 135 triliun berdasarkan harga aset kripto