UNTUK INDONESIA
Anak-anak Mantan Teroris Kibarkan Merah Putih
Anak-anak mantan teroris kibarkan Merah Putih. "Ini membuktikan potensi mereka sangat tinggi. Kami titip supaya mereka dibina terus agar menjadi generasi yang berguna," ujar Herwan Chaidir.
Sejumlah pemuda mengarak kain warna merah dan putih melewati jembatan lama sungai Brantas, Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (16/8/2018). Kain selebar 1800m2 yang terbagi dalam sejumlah potongan tersebut akan disatukan menjadi bendera merah putih raksasa selebar 30m x 60m dan akan dikibarkan di atas pegunungan Klotok guna memperingati HUT ke-73 RI. (Foto: Ant/Prasetia Fauzani)

Medan, (Tagar 17/8/2018) – Memperingati HUT Ke-73 Kemerdekaan RI di Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, Jumat (17/8), sejumlah anak dari mantan anggota jaringan teroris menjadi tim pengibar bendera Merah Putih.

Anak-anak mantan anggota teroris itu menjadi pengibar bendera dalam upacara yang digelar di Pondok Pesantren Alhidayah di kawasan Sei Mencirim, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deliserdang.

Pondok pesantren yang berlokasi sekitar 30 kilometer dari Kota Medan itu binaan Khairul Gazali yang merupakan mantan narapidana kasus terorisme.

Peringatan HUT Kemerdekaan RI itu juga disaksikan Wak Geng, mantan anggota jaringan teroris yang pernah terlibat dalam perampokan CIMB Niaga di Medan.

Selain pengibar bendera, santri-santri Pondok Pesantren Alhidayah dipercaya menjadi komandan upacara serta pembaca teks Pancasila, dan Proklamasi Kemerdekaan RI.

Usai upacara pengibaran bendera, seluruh santri menyanyikan lagu-lagu, seperti "Hari Merdeka", "Halo-Halo Bandung", "Padamu Negeri", dan "Gebyar-Gebyar".

Bertindak sebagai pembina upacara adalah Kabag Perencanaan Polrestabes Medan AKBP Zulfikar yang pada kesempatan itu, membacakan amanat Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian.

Ketika membacakan amanat Kapolri, AKBP Zulfikar juga mengingatkan tentang tanggung jawab santri sebagai generasi penerus bangsa dalam mengisi kemerdekaan.

Setelah upacara bendera, santri-santri Pondok Pesantren Alhidayah menggelar drama kolosal mengenai perjuangan yang dipimpin Bung Tomo ketika melawan penjajah di Surabaya.

Pentas drama kolosal disaksikan Direktur Perlindungan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Brigjen Pol Herwan Chaidir dan Direktur Deradikalisasi BNPT Prof Irfan Idris.
Irfan Idris mengatakan, upacara dengan melibatkan anak-anak mantan anggota jaringan teroris itu, juga digelar di Lamongan, Provinsi Jawa Timur.

Kegiatan tersebut seperti dirilis Antara, diharapkan makin membangkitkan nasionalisme generasi muda sehingga tidak terlibat dalam kegiatan yang merugikan banyak orang, terutama aksi terorisme.

Herwan Chaidir mengaku terharu dengan drama kolosal yang dibawakan santri-santri Pondok Pesantren Alhidayah tersebut.

"Ini membuktikan potensi mereka sangat tinggi. Kami titip supaya mereka dibina terus agar menjadi generasi yang berguna," ujar Herwan Chaidir.

Dendam

Tahun lalu, juga ada yang unik di antara peserta upacara Kemerdekaan HUT RI ke-72.

Di Yayasan Lingkar Perdamaian (LP) yang didirikan mantan napi teroris dan kombatan di Desa Tenggulun Kecamatan Solokuro, Lamongan, petugas pengibar bendera bernama Zulia Mahendra (32) adalah anak bungsu terpidana mati bom Bali, Amrozi.

Zulia mengaku sempat lama dendam dan marah dengan negara, terhitung sepuluh tahun. Amrozi, ayahnya dihukum mati dengan cara ditembak bersama pamamnya, Ali Gufron pada 2008.

Mahendra, kala itu, bahkan lantaran menyimpan bara amarah membentang spanduk bertuliskan, "Akan aku lanjutkan perjuangan Abi."

Sekitar sembilan tahun dendam itu terus membara. Sejak Amrozi ditembak mati, kata Mahendra, baik saat masih sekolah dan kuliah, dia tidak mau angkat tangan melakukan hormat bendera. "Baru hari ini," ujarnya, Kamis (17/8/2017).

"Baru satu tahun saya sembuh dari dendam dan marah pada negara, sejak abi (bapak, red) dieksekusi," ungkap Zulia Mahendra saat ngobrol dengan wartawan. []

Berita terkait
0
Harga Rempah Melonjak di Depok Akibat Corona?
Harga rempah-rempah di pasar tradisional di depok dan Kramat Jati, Jakarta Timur melonjak drastis dari harga normal.