Makassar, (Tagar 8/2/2019) -  Aldama Putra (19), tewas mengenaskan dengan luka lebam di sekujur tubuh. Sahabat dekatnya di kademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) mengaku selama ini Aldama sering dipukuli oleh seniornya di asrama.

"Kalau dia (korban) libur, biasa cerita kalau di dalam asrama dia sering dipukul," kata teman Aldama, dengan nama disamarkan menjadi Rudi, saat ditemui di Rumah Duka, Kompleks AURI, Lanud Hasanuddin, Kamis(7/2).

Aldama merupakan siswa tingkat satu di ATKP. Sekitar enam bulan lalu resmi menjadi taruna di sekolah kedinasan tersebut. Dia lolos setelah menjalani serangkaian seleksi.

Rudy mengatakan, Aldama sering mendapat hukuman dari seniornya di ATKP lantaran dianggap sebagai kapten korps di angkatannya. Dia dinilai seniornya bertanggung jawab atas semua kesalahan yang dilakukan oleh teman-temannya satu angkatan.

"Biasa, katanya kalau temannya ketahuan berbuat salah, dia yang dipanggil, biasa dikasi penguatan hingga dipukul," ungkapnya.

AldamaAkademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) di Sulawesi Selatan. Sekolah Aldama (19), yang tewas mengenaskan dengan luka lebam di sekujur tubuh. Aldama siswa tingkat satu di ATKP. (Foto: Tagar/Rio Anthony)

Namun, kata John, korban tidak pernah merinci kekerasan seperti apa yang dialaminya jika dihukum. Menurutnya, tindakan senior terhadap Aldama, adalah rahasia taruna.

Baca juga: Aldama Putra, Penyiksaan pada Malam Jahanam Itu

Aldama menghembuskan nafas terakhirnya setelah dianiaya oleh seniornya karena dianggap telah melakukan pelanggaran. Aldama meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Siswa tingkat dua ATKP, Rusdi (21), saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka. Penetapan itu setelah polisi memeriksa 22 saksi dan rekaman CCTV di sekolah penerbangan tersebut.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Djoko Sasono menyesalkan terjadinya kekerasan berakibat kematian di sekolah dibawah pembinaan Kemenhub tersebut.

Kemenhub diungkapkan Djoko telah berulang kali memberi peringatan kepada para pengelola sekolah untuk melaksanakan standar prosedur (protap) pengawasan dan pencegahan terjadinya kekerasan di sejumlah sekolah berinisiasi Kemenhub itu.

Menurut Djoko, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara langsung telah memerintahkan Kepala Badan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Perhubungan untuk membentuk tim investigasi internal guna melakukan investigasi mengapa kasus tersebut sampai terjadi lagi.

Kemenhub segera membentuk tim investigasi internal yang akan diketuai oleh Sekretaris BPSDM Perhubungan.

Sebagai tindak lanjut dari kejadian tersebut, Kemenhub juga segera mengambil langkah secara internal terhadap unsur sekolah yang lalai dalam melaksanakan tugasnya sehingga peristiwa tindak kekerasan terjadi lagi.

Selanjutnya Kemenhub juga akan bertanggungjawab terhadap seluruh proses mulai dari rumah sakit sampai dengan pemakaman.

Kemenhub telah menyerahkan penanganan kasus ini kepada Kepolisian untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.

Djoko menambahkan, Menhub Budi menginstruksikan kepada Kepala BPSDMP agar lebih meningkatkan pengawasan dan pembinaan baik secara edukasi maupun peningkatan moral taruna-taruni sekolah tinggi di bawah pembinaan Kemenhub untuk mencegah terulangnya kasus ini ke depan.