UNTUK INDONESIA
Aktivis PRD: Isi Kepala BJ Habibie Pro Demokrasi
Aktivis PRD, Ken Ndaru menilai BJ Habibie telah memiliki pemikiran pro demokrasi jauh sebelum era orde baru tumbang.
habibie ainun

Jakarta - Bacharuddin Jusuf Habibie menjadi sosok paling menentukan bagi perubahan Indonesia sebagai negara, usai dominasi Orde Baru lumpuh dihajar aktivis pro demokrasi yang berhasil menggulirkan reformasi. Salah satunya adalah kebijakan pembebasan tahanan politik dan narapidana politik (tapol/napol) yang sukses dibungkam pemerintahan Soeharto kala itu.

Kepada Tagar, Ken Budha Kusumandaru atau akrab disapa Ken Ndaru, membeberkan perihal detik-detik kebijakan pembebasan tapol/napol diberlakukan.

Ken sendiri adalah aktivis Partai Rakyat Dermokratik (PRD) yang menjadi napol dan dibebaskan sewaktu Habibie naik tahta menjadi presiden pengganti Soeharto.

Berikut petikan wawancara Tagar dengan Ken Ndaru, melalui sambungan telepon pada Kamis, 12 September 2019.

Ada berapa orang narapidana politik yang ditahan waktu itu?

Di Cipinang pada waktu itu, yang tahanan G30S/PKI ada empat, tahanan Papua (OPM) satu, tahanan Timor Leste itu ada tiga, Lampung itu ada tiga, kasus Talang Sari, yang diserbu pakai helicopter itu. Lalu PRD (Partai Rakyat Demokratik) sendiri ada tujuh, termasuk Budiman Sudjatmiko.

Bagaimana reaksi Anda dan teman-teman napol saat mengetahui akan dibebaskan oleh Presiden Habibie waktu itu?

Jadi begini, sebenarnya kalau rencana pembebasan itu sudah berlangsung lama ya. Sewaktu Soeharto jatuh, wacana pembebasan tahanan politik itu langsung naik, langsung bergulir.

Karena terutama kan, saat itu ada narapidana yang high profile ya, jadi tekanan dunia internasional untuk Indonesia melakukan pembebasan tahanan politik juga besar.

Pak Habibie ini memang isi kepalanya sudah pro demokrasi, Jadi persoalan tahanan politik dan segala macam ini langsung dia terbuka soal itu, gitu loh. Jadi sama sekali tidak ada resistensi dari dia, cuma memang dia biang tidak bisa sekaligus.

Oke, Jadi pembebasan secara bertahap. Seingat Anda, bagaimana urutannya waktu itu?

Yang pertama kali kita dengar kan Xanana (Xanana Gusmao), dia duluan yang dibebaskan. Kemudian, tahanan-tahanan politik Lampung, setelah itu baru PRD.

Itu pun PRD baru separuh dulu. Saya gelombang pertama, bareng Wilson (Wilson Obrigadoz).

Xanana dibebaskan kurang lebih satu bulan setelah Soeharto lengser, sementara PRD gelombang pertama itu bulan Juli (1998).

Presiden SoehartoPresiden Soeharto didampingi wakilnya, BJ Habibie, membacakan pidato pengunduran dirinya sebagai Presiden RI pada 21 Mei 1998. Soeharto yang telah menjadi presiden Indonesia selama 32 tahun mundur setelah runtuhnya dukungan untuk dirinya. (AFP/Agus Lolang)

Bagaimana sosok BJ Habibie di benak Anda?

Jadi Habibie itu satu sosok yang ketemu waktunya. Dia itu seorang yang demokrat yang memiliki pemikiran terbuka. Demokrasi, HAM, Kemanusiaan, itu ada dalam diri dia. Nah itu ketemu dengan momentum reformasi. Jadi ruang untuk menjalankan apa yang ada di kepalanya itu, ada, (terbuka) gitu loh.

Ada anggapan bahwa suka tidak suka atau mau tidak mau, Habibie merupakan bagian dari orde baru, pandangan Anda?

Jadi gini, kalau saya jadi Habibie dan punya visi untuk memajukan bangsa ini, tapi kemudian penguasanya adalah Soeharto, apa yang saya bisa lakukan?

Pilihannya hanya akan ada dua, saya tidak mau ikut Soeharto dengan segala macam alasan, tapi dengan konsekuensi visi saya enggak akan bisa terlaksana, atau saya mengalah, saya ikut Soeharto saja, yang penting visi saya terlaksana dan bisa jalan.

Ini bukan masalah Habibie adalah bagian dari orde baru. Tapi saat itu semua orang yang punya visi, sebagus apapun visinya, itu harus jadi bagian dari orde baru kalau visinya mau jalan. Kan begitu.

Sama dengan Emil Salim (mantan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup era orde baru) kan? Emil Salim juga adalah orang yang sangat peduli terhadap lingkungan dan segala macam. Tapi ya dia harus menjadi bagian dari orde baru kalau dia mau berjuang agar visi dan misinya mengenai lingkungan itu bisa tercapai.

Setelah bebas dari penjara, apa Anda atau teman-teman dari PRD pernah bertemu muka atau berdiskusi dengan Habibie?

Enggak, (saya) belum pernah. Tapi kalau teman PRD mungkin ada. Soalnya begini, PRD itu kan pembebasan paling bermasalah. Dalam artian, mendapat resistensi besar dari kalangan sisa-sisa orde baru yang masih bercokol di pemerintahan. Yang paling bermasalah waktu itu adalah pembebasan PRD dan PKI.

Sekali lagi, apa yang paling membekas di benak Anda, dari sosok seorang Habibie?

Yang paling membekas itu sebetulnya ini ya, Kejelian Habibie melihat momentum. Dia adalah orang yang tepat, di saat yang tepat. []

Berita terkait
Foto: Transformasi Budiman Sudjatmiko dari Aktivis Hingga Jadi Anggota DPR
Transformasi Budiman Sudjatmiko dari aktivis hingga jadi anggota DPR. Ini foto-fotonya.
Petrus Hariyanto: Walau BJ Habibie Tidak Bebaskanku...
Eks Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik (PRD) Petrus Hariyanto turut berduka dengan meninggalnya Presiden ketiga RI BJ Habibie.
Video: Petrus Hariyanto Pertama Masuk LP Cipinang
Pengalaman Petrus hariyanto pertama kali memijakkan kaki di ruang tahanan Lembaga Pemasyarakatan Cipinang Jakarta Timur.
0
Revisi UU KPK, Jokowi Minta Masyarakat Bersuara ke DPR
Presiden RI Joko Widodo menyampaikan tanggapannya terkait keputusan Revisi Undang-Undang KPK. Ia mengaku, ide awal revisi tersebut dibawa oleh DPR.