Oleh: Nanda Febrianto*

Di era menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta lalu transisi menjadi Gubernur, Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok, mempunyai pola komunikasi terbuka dari dan kepada warga Jakarta.

Saat itu, Ibu Kota yang dipimpinnya tidak tertutup dengan segala macam keluh kesah. Setiap program yang bakal dan telah dijalankan Pemprov DKI terbuka terhadap kritik.

Jakarta sebagai kota besar memang memiliki beragam masalah yang pelik. Sebab itu, di masa memimpin, Ahok membuka ruang untuk masyarakat agar dapat berkomunikasi dengannya langsung lewat email dan sambungan telepon serta sms.

Kini, Ahok tak lagi berada dalam pemerintahan daerah. Dia telah menjadi masyarakat sipil. Namun, apakah pola komunikasi yang diterapkannya saat ini masih seterbuka dahulu?

Apakah pendukungnya, Ahokers, ataupun masyarakat umum masih dapat menjangkaunya lewat email atau no telepon seperti ketika dia duduk di kursi nomor dua kemudian satu DKI?  

Saya mencoba mengontak kembali nomor Ahok yang tercantum dalam kartu namanya ketika menjabat sebagai wagub kemudian gubernur, 0811944728, dan alamat emailnya, [email protected]. Kontak itu dicoba Minggu (27/1), sekitar pukul 13.00 WIB.

Maksudnya bukan lagi berbicara tentang pemerintahan Jakarta, tetapi soal masukan dan kritik yang dirangkum saya dari masyarakat dan Ahokers untuk mantan Bupati Belitung Timur tersebut.

Kalau dahulu upaya Ahok itu dilakukan agar pemimpin Jakarta dapat berkomunikasi langsung dengan warga sehingga tercipta transparasi atas masalah yang ada sehingga tidak kebal kritik, kini apakah hal itu masih bisa dilakukan masyarakat umum atau Ahokers terhadap Ahok

Apakah konsep transparasi Ahok dahulu yang sampai menyulap Balai Kota DKI Jakarta menjadi seolah balai rakyat itu kembali dilakukan dengan menciptakan tempat khusus untuk berkomunikasi dua arah?  

Sebab sejauh ini, Ahok hanya berkomunikasi monolog dengan masyarakat maupun media melalui channel Youtubenya bernama Panggil Saya BTP. Selanjutnya jadwal komunikasinya ekslusif, dengan salah satu stasiun televisi terjadwal pada Sabtu (26/1), yang kemudian berakhir ditunda.

Sejumlah pertanyaan yang masih belum terkuak itu nampaknya hanya waktu yang mampu menjawab. Hingga saat ini surel saya yang dikirim ke email [email protected] pun masih belum berbalas. Begitu juga nomor handphone Ahok yang dipakai pada 2013 tersebut.

Ahok diketahui bebas murni pada Kamis 24 Januari 2019. Dia menjalankan masa hukuman dua tahun penjara penjara diikuti remisi 3 bulan 15 hari setelah hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara menyatakan Ahok melanggar Pasal 156a KUHP tentang penodaan agama.

Setelah bebas, Ahok menyebut akan melakukan sejumlah kegiatan. Selain berlibur dengan keluarga, Ahok akan menjadi pengisi seminar di 15 negara, disebut-sebut akan menikah dengan mantan anggota polwan, Puput Nastiti Devi, hingga menjadi presenter sebuah acara televisi.

*Penulis adalah jurnalis Tagar News