Jakarta, (Tagar 25/9/2018) - Keluarga Gus Dur bersikap netral dalam Pilpres 2014, tidak ada pernyataan resmi mendukung Jokowi-JK atau Prabowo-Hatta. Pada Pilpres 2019 Sinta Nuriyah Wahid tetap netral, namun Yenny Wahid akan membuat pernyataan resmi besok, Rabu (26/9) mengenai arah politiknya.

Sebelum Jokowi memutuskan Ma'ruf Amin sebagai cawapresnya, Yenny Wahid mengatakan bahwa keluarga Gus Dur mendukung Mahfud MD sebagai cawapres Jokowi. Ternyata Mahfud MD batal jadi cawapres Jokowi pada menit terakhir. 

PKB dan Cak Imin (Muhaimin Iskandar Ketua Umum PKB) lebih bisa menerima Ma'ruf Amin daripada Mahfud MD. 

Apakah faktor Ma'ruf membuat Yenny lama berpikir dalam menentukan sikap? Baru akan membuat pernyataan resmi pada masa kampanye hari keempat. Ada apa antara Ma'ruf Amin dan keluarga Gus Dur?

Berikut ini perbincangan Tagar News dengan pengamat politik Wasisto Raharjo Jati, Selasa sore (25/9) terkait pertanyaan-pertanyaan di atas. 

Besok Yenny Wahid akan memberikan pernyataan resmi terkait sikap politiknya, apakah akan mendukung Jokowi-Ma'ruf, Prabowo-Sandi, atau netral. Bagaimana Anda melihat Yenny Wahid?

Yenny Wahid kalau melihat dinamika sekarang belum terbaca arahnya, satu sisi ia terikat kultur nahdliyin yang arahnya mendukung kubu Jokowi. Masalah lain, Yenny Wahid masih memiliki konflik personal dengan kubu Muhaimin di PKB. Yenny Wahid sedikit ingin gabung dengan Jokowi, tetapi ada rasa tidak enak. Jadi pilihannya antara dukung Jokowi atau netral.

Bagaimana kalau Yenny Wahid mendukung Prabowo?

Saya melihat kecil kemungkinan itu karena Yenny Wahid tidak mau ambil risiko besar, satu sisi ia akan dianggap keluar dari kehendak ulama yang mendukung Jokowi.

Sejak awal Yenny Wahid menyatakan dukungan pada Mahfud MD sebagai cawapres Jokowi. Antusiasme yang sama tidak ditunjukkan ketika akhirnya Jokowi memilih Ma'ruf Amin sebagai cawapresnya. Ada apa antara Ma'ruf Amin dan keluarga Gus Dur? Mereka sama-sama NU juga, sama NU-nya dengan Mahfud MD.

Saya pikir kita lihat dalam tubuh NU ada faksi-faksi kalau dilihat secara cermat. Polarisasi Gus Dur, nama-nama berkurang, keluarga Gus Dur tidak ada di NU dan PKB karena mungkin satu, faksi berkurang atau kharisma Gus Dur meredup. 

Jokowi, Sandiaga, dan Prabowo sowan ke rumah keluarga Gus Dur, tapi Ma'ruf tidak?

Ma'ruf Amin tidak ke rumah keluarga Gus Dur karena ia kiai sepuh dalam tubuh NU, memposisikan sebagai kiai sepuh, tidak pada tempatnya sowan ke anak Gus Dur, mesti Yenny yang ke Ma'ruf Amin.

Ada Sinta Nuriyah dalam keluarga Gus Dur. 

Saya pikir Sinta Nuriyah bukan dianggap sebagai ulama.

Apa ada sesuatu di antara Ma'ruf Amin dan keluarga Gus Dur? Mungkin terkait beberapa pemikiran Ma'ruf di masa lalu yang berbeda dengan pemikiran Gus Dur?

Ma'ruf Amin dan keluarga Gus Dur, saya pikir tidak ada masalah. Kalau berbicara politik di kalangan nahdliyin itu sedikit tabu. 

Mahfud MD didukung keluarga Gus Dur jadi cawapres Jokowi, ternyata tidak jadi, diganti Ma'ruf. Apa keluarga Gus Dur kecewa?

Mahfud MD santri zaman Gus Dur, mungkin ada rasa kecewa. 

Kenapa Yenny Wahid merasa perlu menunjukkan sikap politik dengan tegas? Tidak netral seperti ibunya?

Saya kira dinamika politik yang terjadi, masing-masing ingin mengartikulasikan kepentingan. 

Mengenai konflik personal Yenny Wahid dan Cak Imin, apakah ada kemungkinan Yenny Wahid membuat partai baru ke depan? PKB Gus Dur?

Dengan Cak Imin, konflik politik formal, di dalamnya tidak tahu. Saya pikir kubu Yenny Wahid tidak akan ambil risiko dengan mendirikan partai baru, tapi lebih ke arah kultural Gusdurian, pengembangan pemikiran Gus Dur. []

Baca juga: 

Sinta Nuriyah Netral, Yenny Wahid Tunjukkan Keberpihakan

Berebut Pengaruh Gus Dur, Gusdurian Pilih Jokowi atau Prabowo?