UNTUK INDONESIA
Wacana Sandi Hapus UN, Pengamat: Konsep yang Kurang Jelas
Sandiaga menyebut UN sebagai salah satu sumber biaya tertinggi dalam sistem pendidikan nasional.
Sandiaga Uno mengeluarkan secarik kertas dari saku jasnya. (Foto : Tagar/Gemilang Isromi Nuari)

Jakarta, (Tagar 20/3/2019) - Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno mewacanakan akan menghapus ujian nasional (UN) bila ia terpilih menjadi wakil presiden. Gagasan tersebut diutarakan saat sesi debat ketiga dengan cawapres nomor urut 01, Ma'ruf Amin.

Sandiaga menyebut UN sebagai salah satu sumber biaya tertinggi dalam sistem pendidikan nasional.

"Kami juga akan menghapus ujian nasional. Ini adalah salah satu sumber biaya yang tinggi bagi sistem pendidikan kita," kata Sandiaga di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Minggu (17/3).

Sandiaga menambahkan bahwa kurikulum pendidikan terlalu berat pada beberapa daerah di Indonesia. Bersama Prabowo Subianto, Sandiaga berencana untuk menghapus ujian nasional dan digantikan dengan penelusuran minat bakat.

Ia mengklaim bahwa janji tersebut rasional untuk kebaikan masyarakat. Mantan Wagub DKI itu mengaku, tim pemenangannya telah mematangkan rencana itu.

"Buat kami ini suatu ikhtiar untuk perbaikan bangsa. Jadi kami ingin menggarisbawahi bahwa ini bukan tentang Prabowo-Sandi, tapi ini tentang membawah perubahan rakyat Indonesia ke arah mana," kata Sandiaga

Konsep tidak matang

Namun, hal itu ditentang oleh Pengamat politik dari Indonesia Public Institute Jerry Massie. Dia menilai, gagasan cawapres 02 yang akan menghapus UN jika Prabowo-Sandiaga terpilih menjadi presiden dan wakil presiden adalah konsep yang kurang jelas.

Menurut Jerry, Indonesia adalah negara besar dengan jumlah penduduk terbanyak ketiga di dunia setelah China dan India, sehingga tidak mudah untuk mengganti pola pendidikan yang sudah lama dilaksanakan di sini.

Sejarah UN, menurut Jerry, mulai dari Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas) pada 1980-2001, ujian akhir nasional (UAN) pada 2002-2004, kemudian UN pada 2005 hingga saat ini.

"Apalagi Sandiaga mengatakan akan menggantinya dengan penelusuran minat dan bakat. Ini konsep yang kurang jelas," kata Jerry Massie kepada Antara beberapa waktu lalu.

"Apalagi jika UN dihapus dan diganti dengan penelusuran minat dan bakat, maka menjadi tidak jelas. Saya kurang kurang setuju dengan pernyataan itu," sambungnya.

Sepengamatan Jerry, dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, mengatur secara jelas bahwa minat dan bakat sebaiknya menjadi pelajaran tambahan dalam kurikulum di sekolah. Menurut dia, mata pelajaran di sekolah ada yang berbasis ilmu murni dan ilmu terapan.

"Kalau UN dihapus, maka tidak perlu ada mata pelajaran matematika, IPA dan IPS," ujar Jerry.

Jerry menilai, pernyataan Sandiaga soal wacana menghapus UN tersebut, kurang masuk akal, karena berbeda antara mata pelajaran dengan keahlian dan bakat.

Jerry menyayangkan, Sandiaga hanya menyebut, jika terpilih untuk memimpin Indonesia selama lima tahun ke depan akan menghapus UN dan menggantinya dengan penelusuran minat dan bakat, tanpa memberikan penjelasan konsep penelurusan minat dan bakat.

"Pernyataan Pak Sandiaga hanya seperti pembukaan dan perkenalan. Hanya menyebut nama program tanpa penjelasan," pungkasnya.

Baca juga: 

Berita terkait
0
Pengacara Sebut Wajar Alfian Tanjung Bahas Komunis
Pengacara ustaz Alfian Tanjung menilai ungkapan komunis dalam ceramahnya merupakan hal lumrah, karena dia memang pakar.