Jakarta, (Tagar 14/9/2018) - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menyatakan tidak tepat mengusulkan debat capres menggunakan Bahasa Inggris. 

Mahfud MD menyampaikan itu di akun Twitter, Jumat (14/9), begini selengkapnya:

"Menurut UU No 24/2009 untuk acara-acara resmi, termasuk pembuatan kontrak-kontrak dan pidato dalam forum internasional, pejabat-pejabat negara kita harus menggunakan Bahasa Indonesia. Oleh sebab itu tidaklah tepat mengusulkan debat capres/cawapres dalam Pilpres dilakukan dalam Bahasa Inggris maupun bahasa asing lain."

Sebelumnya, koalisi partai politik pengusung pasangan bakal calon presiden-wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengusulkan agar debat capres-cawapres Pilpres 2019 diselingi bahasa Inggris.

"Boleh juga kali ya. Ya, makanya hal-hal rinci seperti itu perlu didiskusikan," kata Ketua DPP PAN Yandri Susanto, di Rumah Pemenangan PAN, di Jalan Daksa, Jakarta, Kamis (13/9) dilansir Antara.

Menurut Yandri tidak masalah jika debat pasangan calon menggunakan Bahasa Inggris, karena pemimpin Indonesia terpilih nantinya akan bergaul dan berbicara di dunia internasional menggunakan Bahasa Inggris.Mahfud MDStatus Twitter Mahfud MD. (Foto: Twitter/Mahfud MD)

Seorang netizen berinisial GS mengomentari unggahan Mahfud MD, "Nah! Sebenarnya enggak perlu pakai dipertimbangkan dan diperdebatkan. Usulan Gerindra dkk itu sangat offside, melanggar UU. Ketahuan kan? Tim kampanye-nya nggak paham UU, atau tahu tapi sengaja melanggar agar jadi polemik di masyarakat yang nggak tahu adanya UU ini. Untung ada MMD. Pantesan waktu MMD di kubu sana nggak sampai diangkat soal debat kudu Bahasa Inggris ini."

Lebih jauh, Mahfud MD mengingatkan Undang-undang yang mewajibkan pejabat Indonesia berpidato secara resmi di luar negeri harus memakai Bahasa Indonesia sebagai wujud nasionalisme. 

"Ya, di forum internasional pun pejabat-pejabat Indonesia kalau berpidato secara resmi wajib memakai Bahasa Indonesia. Coba baca Pasal 28 dan Pasal 31 UU No 24 Tahun 2009. Ketentuan itu untuk menguatkan nasionalisme kita dari sudut bahasa," kata Mahfud MD di Twitter menjawab seorang netizen.

"Debat pilpres adalah bagian dari pesta demokrasi (pesta rakyat). Sudah sepatutnya juga kalau menggunakan bahasa yang merakyat, lebih mudah di terima/ dipahami semua masyarakat," tulis netizen Abimanyu OngkoWijoyo di kolom komentar.

"Bahasa persatuan adalah Bahasa Indonesia. Kalau debat pakai Bahasa Inggris nanti malah ada penonton yang tidak paham maksud apa yang disampaikan. Termasuk saya," tulis Z Faizin.

"Gini aja deh Prof, saya mau usul... gimana kalau debat capres/cawapres pakai Bahasa Cinta. Biar jomblowan jomblowati jadi pada semangat nontonnya," tulis akun B112DI. []