Turbin Angin Vertikal Dukung Teknologi Ramah Lingkungan

Turbin angin vertikal bukanlah ide baru, tapi masih belum diproduksi dalam skala besar padahal bisa dukung perlindungan lingkungan
Prototipe "Pohon Angin" yang menghasilkan listrik (Foto: dw.com/id)

Jakarta - Turbin angin vertikal bukanlah ide baru, tapi masih belum diproduksi dalam skala besar. Padahal, jenis turbin ini tidak berisik, hemat lahan, dan ramah lingkungan serta mendukung perlindungan lingkungan. Matthias Thomi melaporkannya untuk dw.com/id.

Turbin angin masa depan mungkin akan punya tiga bilah rotor yang berputar vertikal pada porosnya sendiri. Sampai sekarang, turbin vertikal yang tingginya sekitar 100 meter itu belum efektif menghasilkan listrik. Tapi penemunya yakni Patrick Richter percaya bahwa ia dan timnya bisa menemukan solusi.

Lebih dari 6 tahun Patrick Richter merancang turbin itu sebagai hobi. Setelah itu, ia bekerja sama dengan para ahli selama enam tahun untuk menciptakan prototipenya. Ia bercerita, sangat senang ketika untuk pertama kali mewujudkan rancangannya, dan melihat bentuk jadinya.

1. Turbin Angin yang Ramah Lingkungan

Prototipe ini dibuat di sebuah hanggar di dekat kota Zürich, Swiss. Bagian pertama dari bilah rotor yang diuji coba tingginya mencapai 27 meter, dengan berat dua ton. Bagian ini dibuat dari bahan fiberglass atau serat kaca, dan resin sintetis.

Turbin angin vertikal yang tampak seperti menara itu saat ini berdiri di negara bagian Nordrhein-Westfalen, Jerman. Penemunya mengatakan, turbin ini baik bagi lingkungan hidup. Misalnya, turbin sangat baik bagi burung-burung karena para burung dapat dengan jelas melihatnya. Dengan demikian, tidak ada burung yang berisiko terkena pukulan seperti pada turbin angin biasa. Selain itu, kelelawar juga bisa menghindar.

turbin vertikalTurbin vertikal generasi baru (Foto: dw.com/id)

"Turbin ini suaranya juga tiga kali lebih halus daripada turbin konvensional. Dalam jarak tak terlalu jauh sudah tak terdengar lagi. Ini seperti menara yang bergerak perlahan, sehingga bisa ditempatkan di berbagai tempat, ini tidak mungkin dilakukan dengan dengan turbin konvensional," jelas Patrick Richter.

2. Tidak Menghasilkan Banyak Tenaga

Turbin angin vertikal menjalani percobaan di lapangan terbang Dübendorf, Swiss, pada tahun 2011. Tes kedua diadakan tahun 2012 di Chur, juga di Swiss. Tes itu mengungkap beberapa hal yang membuat penemunya sadar akan kekurangan turbin. Roda angin dengan 12 bilah yang bergerak sesuai hembusan angin itu tidak menghasilkan banyak tenaga.

Patrick Richter terancam gagal, apalagi kemudian berhembus angin kencang yang merusak obyek buatannya. "Ini adalah pukulan bagi saya karena terjadi hanya 10 hari setelah selesai dibuat. Ini juga membuat pekerjaan kami mundur beberapa langkah,” tutur Richter.

3. Didukung Oleh Tiga Motor

Delapan tahun kemudian, dengan banyak percobaan di laboratorium, Patrick Richter dan timnya berhasil mengatasi masalah tersebut. Kini, bilah rotor bergerak sesuai hembusan angin, tapi dapat dukungan tiga motor. Itulah jantung penemuannya.

listrik dari energiListriki dari energi terbarukan perlu disimpan dengan cara yang efisien (Foto: dw.com/id)

Motor memungkinkan semua bilah selalu berada di posisi optimal, semua bilah berada di posisi optimal. Sehingga aliran angin tidak terhenti pada bilah manapun dan setiap bilah bisa ikut menggerakkan seluruh rotor secara teratur. Dengan demikian turbin bisa berputar secara perlahan, dan tidak bersuara keras. "Selain itu, instalasi ini bisa dibuat dalam ukuran lebih besar."

4. Sudah Mulai Beroperasi

Dengan prototipe itu, Patrick Richter ingin berusaha memasuki pasar. Sejumlah proyek di Asia dan Amerika sudah berada dalam fase perencanaan. Dalam prototipe itu tertanam modal usaha lebih dari 18 juta euro atau sekitar 308 miliar rupiah.

Sejak kecil ia memang ingin jadi pionir."Kalau tidak berani, tidak akan berhasil," kata Richter. Sejak kecil ia memang ingin jadi pionir. Begitu juga nasihat orang tuanya. "Jika orang membuat sesuatu sendiri, kemudian sadar betapa besar tantangannya, orang bisa gentar.

Tapi, momen-momen keberhasilan bisa melenyapkan keraguan. Pembuatan instalasi angin vertikal yang pertama sudah diselesaikan, dan sudah beroperasi mulai Oktober 2020 (ml)/dw.com/id. []

Berita terkait
Jokowi: Kendaraan Masa Depan Indonesia dengan Tenaga Listrik
Presiden Jokowi meresmikan operasional KRL Yogyakarta - Solo, Senin, 1 Maret 2021. Kendaraan pribadi dan massal ke depan dengan tenaga listrik.
Penyimpanan Listrik Dengan Baterai Kian Diminati di Jerman
Transisi energi Jerman bergantung penyimpanan daya energi terbarukan, perlu fasilitas penyimpanan listrik yaitu baterai
Ford Beralih Produksi Mobil Listrik di Eropa Pada 2030
Produsen otomotif, Ford, bertekad untuk mengubah seluruh lini produksi mobil penumpang di Eropa menjadi produksi mobil listrik pada 2030
0
Jalan Tol Serpong-Cinere Bayar Rp 11.000 Mulai 2 Juni
Jalan Tol Serpong-Cinere, ruas Seksi I Serpong-Pamulang mulai dikenakan tarif sebesar Rp11.000 untuk golongan 1 mulai Rabu, 2 Juni 2021.