Indonesia
Tak Henti Mengalir Puji-pujian untuk Film Lima
Tak henti mengalir puji-pujian untuk film Lima. Kali ini dari ratusan pelajar SMA lintas agama di Tangerang.
Tak Henti Mengalir Puji-pujian untuk Film Lima. (Foto: Instagram/Lola Amaria)

Tangerang, (Tagar 3/6/2018) -Ratusan pelajar SMA lintas agama dari berbagai sekolah memadati CGV Ecoplaza Citraraya Cikupa, Tangerang, Jumat (1/6) untuk nonton bareng film Lima. Usai menonton, pujian mengalir dari mereka untuk film Lima.

Acara nonton bareng film Lima itu diselenggarakan oleh komunitas Kawal Nusantara (Kawan). Tanggal 1 Juni sengaja dipilih karena bertepatan hari kelahiran Pancasila.

"Komunitas Kawan ingin ikut mengawal kebhinekaan Indonesia secara aktif dan dalam semangat cinta Pancasila. Film Lima mengangkat tema Pancasila. Jadi, sangat pas kami mengadakan acara nonton bareng film ini," tutur Margaretha Venny, koordinator nonton Komunitas Kawan.

Belakangan diketahui ada fakta unik di balik penyelenggaraan acara nonton bareng film Lima ini. Ternyata pembiayaannya dilakukan secara patungan. 

"Kami membuat flyer berisi ajakan untuk mentraktir anak SMA nonton film Lima. Satu anak Rp 35.000. Artinya kalau mau mentraktir dua anak, jumlah donasinya Rp 70.000, begitu seterusnya. Syukur Alhamdulillah, banyak sekali yang mau berpartisipasi hingga akhirnya acara ini bisa terselenggara," cerita Venny.

Film LimaJuan Juoro siswa kelas IX dari sekolah Bina Nusantara mengatakan film Lima sangat bagus.

"Selain itu, berkat acara ini saya bisa berkenalan dengan teman-teman baru dari sekolah-sekolah lain," katanya.

Sumayang Bidari dari MAN 1 Tangerang mengatakan hal senada Juan.

"Filmnya baguuusss. Menurut saya, seharusnya anak-anak yang usianya lebih muda juga diajak nonton film ini. Kan lebih bagus kalau nilai-nilai menghargai perbedaan diajarkan ke anak sedini mungkin," ujar murid kelas X tersebut.

Bianca dan Cindy Margaretha dari sekolah Tsu Zhi menilai film Lima sangat mendidik.

"Kami seperti belajar. Bukan sekadar teori, tapi juga penerapannya," kata Bianca diamini Cindy dengan anggukan.

Lima adalah film yang memvisualkan nilai-nilai Pancasila dan penerapannya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Film ini digarap lima sutradara, yaitu Lola Amaria, Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Harvan Agustriansyah, dan Adriyanto Dewo.

Film LimaSetelah acara nonton bareng, para peserta tidak langsung bubar, melainkan diajak mengikuti talkshow kebangsaan yang menghadirkan Romo Felix Supranto Kepala Paroki Santa Odilia, dan Khoirun Huda Sekretaris Wilayah GP Ansor Banten.

Dalam acara bincang-bincang santai tersebut, Romo Felix dan Kang Huda, demikian mereka biasa disapa, bergantian memberi semangat dan dorongan pada para remaja yang hadir untuk ikut menjaga Pancasila, satu di antaranya dengan menerima serta menghargai keberagaman.

"Kita semua bertanggung jawab untuk menjaga Pancasila, menjaga keutuhan Indonesia. Sebagai kaum muda, kalian juga berperan besar," ujar Kang Huda. 

Ia prihatin dengan hasil survei beberapa lembaga yang mengatakan sangat banyak generasi muda yang mendukung kekerasan atau paham radikal.

"Ini PR kita bersama untuk menetralisir keadaan. Janganlah jadi orang yang mudah marah, mudah tersinggung, sensitif, atau sekarang istilahnya sumbu pendek. Jangan ikut-ikutan tawuran, mau itu atas nama pertemanan atau solidaritas," katanya. 

Di pengujung talkshow, Romo Felix menyampaikan jurus ampuh untuk menjaga kesatuan Indonesia.

"Namanya Jamu Jati Kendi," katanya.

Ia kemudian menjelaskan, Jamu artinya jaga mulut. Jangan berbicara negatif atau mencela orang lain. Jati itu jaga hati. Hati kita harus dijaga agar tidak dipenuhi rasa dengki dan iri hati. Yang ketiga, kendi atau kendalikan diri. 

"Jika ketiganya dilakukan, negara kita aman dan kita akan bahagia," ujar Romo Felix.

Acara ditutup pembagian takjil dan makanan. Para peserta meninggalkan tempat sambil bercanda dan berbincang dengan teman-teman dari lain sekolah. Penuh keberagaman sekaligus penuh keceriaan. (af)

Berita terkait
0
Rusuh di Manokwari, Tidak Ada Sweeping Orang Jawa
Kerusuhan terjadi di Manokwari dalam kerusuhan massa membakar gedung DPRD Papua Barat. Akibat pembakaran sejumlah ruas jalan ditutup.