Jakarta, (Tagar 17/3/2019) - Menarik dari hasil survei Line Today yang menyebutkan hampir 40 persen pemilih dalam Pemilu tanggal 17 April 2019 merupakan generasi milenial. Sehingga wajar dua kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden saling berusaha menarik simpati dari kelompok ini.

Namun yang menjadi persoalan bagaimana kepedulian generasi milenial terhadap penyelenggaraan pesta demokrasi yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali, kenyataannya memang masih rendah.

Masih dari survei itu menyebutkan masih banyak dari pemilih yang belum mengenal para calon legislatif atau kandidat DPR dan DPD pada Pemilu 2019.

Pimpinan Line Today, Okta Wiguna, menjabarkan kepada kantor berita Antara, dari sebanyak 10 orang pemilih yang telah disurvei sebanyak delapan di antaranya tidak mengenal calon DPR dan DPD yang akan dipilih.

Seperti disebutkan angka pemilih dari kalangan milenial ini sangat tinggi serta akan berpengaruh terhadap perhitungan suara nantinya.

Okta menjelaskan, sebanyak 85 persen atau 24.432 responden tidak mengenal profil calon legislatif DPD dan sebanyak 15 persen atau 4.300 responden sudah mengenal profil yang akan dipilihnya.

Angka ini membuat KPU harus berkerja lebih keras lagi untuk melakukan sosialisasi penyelenggaraan Pemilu, termasuk di dalamnya memperkenalkan seluruh kandidat tidak hanya calon presiden dan wakil presiden, tetapi juga legislatif.

Hasil survei juga menyebutkan alasan-alasan apa yang mempertimbangkan kalangan milenial memilih calonnya, termasuk informasi apa yang diinginkan terkait calon kandidat legislatif.

Ternyata hasilnya sebanyak 33,6 persen memilih atas program kerja, 28 persen integritasnya, 23,40 persen profil, 9,30 persen partai, dan 5,70 persen wajahnya dikenal.

Disebutkan juga generasi milenial merupakan pemilih yang rasional, mereka akan mempertimbangkan untuk memilih jika mereka mengetahui program kerja yang akan dilaksanakan oleh calon anggota DPR, DPRD, dan DPD.

Berperan

Jumlah dari milenial yang mendominasi suara Pemilu 2019 membuat mereka memiliki peranan penting setidaknya mereka memiliki pandangan murni terhadap sosok pimpinan ke depannya.

Para milenial ini seharusnya memiliki pendirian tersendiri tidak terjebak dalam kegaduhan yang dilontarkan elite-elite yang sebenarnya memiliki kepentingan diri dan kelompoknya.

Bahkan presenter Najwa Shihab menyebutkan politik saat ini tidak lagi mengikuti aturan main yang ditetapkan KPU selaku penyelenggara, melainkan menjadi ajang rangkaian keributan orang-orang "atas".

Najwa meminta generasi milenial untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan politik menjelang Pemilu, mengingat generasi ini lebih suka berwirausaha dengan mendirikan start up daripada berpolitik.

Padahal, politik itu penting karena akan menentukan kebijakan bisnis yang akan dijalankan pemerintah ke depan tentunya akan berpengaruh terhadap usaha yang mereka jalankan.

Generasi milineal sendiri bukan tidak sadar akan politik, mereka sadar akan politik. Generasi milineal sadar akan isu politik serta mereka juga ikut aktif memberikan komentar di media sosial. Akan tetapi mengenai dampaknya mereka terkadang tidak mengetahui.

Menurut Najwa generasi milenial harus jeli dalam memilih pimpinan karena keputusan pemerintah ke depan akan berpengaruh juga terhadap nasib mereka dalam menjalankan kegiatan bisnis.

Najwa juga tidak berharap kalau ada generasi milenial yang memilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya alias golput. Justru dengan menggunakan hak politiknya berarti turut membantu mengembalikan politik kepada makna sebenarnya, yaitu dengan memilih pemimpin yang dianggap layak.

Patut mendapat apresiasi

Peran Line Today yang meluncurkan aplikasi untuk membantu pemilih mengetahui calon legislatif dalam pemilu April 2019 patut mendapatkan apresiasi.

Sesuai dari hasil survei, banyak dari masyarakat termasuk generasi milenial yang belum mengenal siapa caleg yang akan dipilih untuk mengisi posisi di DPR/ DPRD dan DPD.

Aplikasi tersebut selain beisikan data mengenai calon presiden dan wakil presiden juga data mengenai calon legislatif.

Aplikasi semacam ini memiiki peranan penting karena berisikan fakta-fakta yang sudah diuji kebenarannya sehingga menjadi pilihan ditengah-tengah munculnya kampanye hitam dan berita hoaks yang saling menjatuhkkan lawan politiknya.

Tenaga Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Bidang Kebijakan Digital, Dedy Permadi meminta kepada kalangan milenial untuk ikut aktif memerangi berita palsu (hoaks) yang semakin merajalela menjelang penyelenggaraan pemilu.

Menurut Dedy terdapat banyak isu yang mencemaskan bagi para kaum milenial atau generasi yang berumur 17 hingga 30 tahun, salah satunya adalah hoaks dan miss-informasi.

Bahkan dari hasil survei menyebutkan 39 persen dari 33.000 responden menempatkan miss-informasi atau hoaks menjadi isu yang paling mencemaskan seputar Pemilu 2019.

Dedy juga memaparkan bahwa terdapat 62 hoaks besar tentang pemilu dari Agustus hingga Desember, juga terdapat 100 hoaks terkait pemilu hanya dalam waktu satu bulan yaitu dari Januari hingga Februari yang menyebar secara cepat.

Lebih jauh Octa Wiguna membantah kalau ada yang menyebutkan kaum milenial lebih sering disebut sebagai kaum yang gemar menyebarkan hoaks.

Menurut hasil observasi yang dilakukan dengan melihat komentar-komentar yang ada di Line Today, mayoritas kaum milenial justru merupakan agen yang memerangi miss-informasi atau hoaks tersebut.

Kaum milenial justru memiliki sikap kritis atas apa yang dibaca atau dilihatnya dan juga sekarang sudah banyak yang mengeluhkan hoaks yang tersebar dimana mana, khususnya media sosial yang bahkan merambah hingga ke lingkungan keluarga.

Baca juga: Emak-emak dan Kaum Milenial Sulsel Deklarasikan Dukung Jokowi-Ma'ruf Amin