Indonesia
Setelah Tsunami Berlalu, Dan Semua Tak Lagi Sama
Tsunami meninggalkan banyak duka, namun hidup harus terus berjalan. Berlarut dalam kesedihan tidak akan mengubah apa pun.
Sebuah kapal membawa warga Pulau Sebesi meninggalkan Demaga Canti Lampung Selatan, Lampung, Senin (7/1/2019). Sebanyak 206 warga Pulau Sebesi kembali ke rumah mereka untuk memulai kembali bekerja dengan bercocok tanam di pulau yang dekat dengan Gunung Anak Krakatau tersebut. (Foto: Antara/Ardiansyah)

Lampung Selatan, (Tagar 9/1/2019) - Tsunami telah berlalu dari kawasan Selat Sunda, meninggalkan duka bagi banyak orang yang kehilangan anggota keluarga, rumah-rumah hancur, kapal-kapal rusak. Semua tak lagi sama, namun hidup harus terus berjalan. Berlarut dalam kesedihan tidak akan mengubah apa pun.

Kehidupan warga terdampak tsunami Selat Sunda yang terjadi Sabtu malam 22 Desember 2018, kini di sejumlah desa di pesisir selatan Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung mulai berangsur pulih kembali.

Warga beberapa desa di Kecamatan Rajabasa, Desa Kunjir dan Way Muli yang paling parah terdampak tsunami itu, perlahan mulai berangsur bangkit dari keterpurukan akibat bencana telah meluluhlantakkan rumah tinggal dan fasilitas umum di sekitar tempat tinggal mereka.

Kendati puing-puing rumah warga dan fasilitas umum yang porak-poranda masih berserakan, termasuk perabotan dan sisa perkakas yang rusak masih berserakan di luar, rumah warga sebagian masih kosong belum dihuni karena warganya memilih mengungsi ke tempat yang lebih tinggi atau ke rumah kerabat yang lebih aman, kegiatan sehari-hari warga mulai terlihat lagi.

Warung-warung kelontong dan penjual makanan maupun minuman sejak akhir pekan lalu mulai beraktivitas kembali, meskipun belum pulih seperti semula.

Aktivitas di Dermaga Canti, Rajabasa yang masih dapat beroperasi dengan baik pascatsunami Selat Sunda, juga sudah terlihat aktivitas warga menyeberang ke pulau-pulau terdekat, termasuk Pulau Sebesi dan Sebuku, pulau berpenghuni terdekat dengan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, yang warganya sempat diungsikan pascatsunami itu.

Setelah tiba di Pulau Sebesi, Minggu sore (6/1), para pengungsi itu sebagian disambut keluarga dan kerabat yang masih berada di Pulau Sebesi.

Yunus beserta istrinya Siti mengungkapkan rasa syukur yang mendalam, bisa kembali di rumahnya. "Kami mengucapkan syukur karena telah kembali dengam selamat tidak kurang suatu apa pun," kata Yunus.

Pria yang tinggal di Dusun Regan Lada itu, juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto beserta seluruh jajarannya yang telah memberikan banyak bantuan dan perhatian selama berada di posko pengungsian.

"Kami sampaikan ucapan terima kasih kepada Pak Nanang yang telah memberi kami tempat di Lapangan Tenis Indoor Kalianda. Selama di sana, kami tidak kurang suatu apa pun," ujarnya.

Tsunami Selat SundaSejumlah warga Pulau Sebesi Lampung Selatan yang mengungsi di Lapangan Tenis Indoor Kalianda kembali menuju Pulai Sebesi melalui Dermaga Canti, Lampung Selatan, Lampung, Senin (7/1/2019). Sebanyak 206 warga Pulau Sebesi kembali ke rumah mereka untuk memulai kembali bekerja dengan bercocok tanam di pulau yang dekat dengan Gunung Anak Krakatau tersebut. (Foto: Antara/Ardiansyah)

Warga Pulau Sebesi itu pun kembali beraktivitas seperti biasa setelah kembali ke rumah masing-masing.

Saleh, salah satu warga Pulau Sebesi itu, setelah pulang ke rumahnya langsung membersihkan tempat tinggalnya. "Bersih-bersih, Pak, sepuluh hari ditinggal rumahnya," ujar Saleh, warga Dusun Tejang, Pulau Sebesi.

Terlihat pula di sekitar pantai, masyarakat bergotong royong memindahkan kapal yang terhempas gelombang tsunami hingga ke daratan dan menghantam serta menghancurkan rumah warga.

Di sejumlah rumah yang sudah dihuni kembali, tampak warga bersantai dan bercengkerama dengan keluarga maupun kerabatnya di beranda rumahnya.

Aktivitas juga terlihat saat tim dari Diskominfo Lampung Selatan menuju Masjid Al Iman yang berada di depan Lapangan Desa Tejang, Pulau Sebesi. Puluhan warga nampak bergegas untuk menjalankan Salat Isya berjamaah.

Suasana santai juga terlihat di areal Pelabuhan Pulau Sebesi. Sejumlah warga, baik orang tua, maupun muda-mudi tengah menikmati waktu luang dengan memancing atau sekadar nongkrong bersama.

Pelabuhan yang dibangun pada tahun 2017 oleh Kementerian Perhubungan itu, masih kokoh berdiri seperti luput dari hempasan gelombang tsunami. Suasana malam yang sebelumnya mencekam, kini hanya menyisakan cerita, seolah tak ada lagi rasa takut di wajah penduduk Sebesi.

Beberapa nelayan juga terlihat sedang menyiapkan perahunya untuk melaut keesokan harinya. Kapal-kapal motor ukuran sedang sudah berada di pelabuhan untuk mengangkut hasil bumi serta mengangkut warga menuju Pelabuhan Canti pada pagi harinya.

Kepala Urusan (Kaur) Pembangunan Desa setempat Junaidi yang ditemui di kantor desanya berharap seluruh warga bisa secepatnya kembali ke rumahnya masing-masing.

"Mudah-mudahan semua bisa kembali normal seperti semula, karena baru sebagian warga yang kembali dari pengungsian. Biar kita sama-sama gotong royong bersihkan kampung," kata Junaidi.

Tsunami Selat SundaSiswa SD Yayasan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darussalam Sukaraja datang ke sekolah yang menggunakan tenda darurat di Desa Sukaraja, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Senin (7/1/2019). Gelombang tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 menyebabkan bangunan SD tersebut rusak berat, sehingga proses belajar mengajar terpaksa dilakukan di tenda darurat. (Foto: Antara/Ardiansyah)

Sebelumnya dilansir kantor berita Antara, sebanyak 135 orang pengungsi asal Pulau Sebesi yang berada di posko Lapangan Tenis Indoor Kalianda bersiap dipulangkan.

Pemulangan pengungsi yang sudah bertahan selama dua pekan itu melalui Pelabuhan Canti dengan mengunakan lima buah kapal.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Selatan I Ketut Sukerta mengatakan, rombongan pengungsi dari Lapangan Tenis Indoor Kalianda dibawa menggunakan enam kendaraan, yakni dua mobil truk dari kodim, datu truk Pol PP, satu bus Dinas Perhubungan, dan dau bus pemkab setempat.

Ketut meminta kepada seluruh pengungsi memperhatikan keluarganya masing-masing dan selalu mengikuti petunjuk dan arahan dari petugas selama di perjalanan.

Mereka diminta hati-hati, dan sesampainya di Pulau Sebesi tetap waspada. Jika ada tsunami, jangan panik, segera menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.

Kisah Lita dan Madsari

Sementara itu, dua korban terdampak tsunami Selat Sunda dari Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung masih mendapatkan perawatan di RSUD Dr H Abdul Moeloek (RSUDAM) Bandarlampung.

Hingga Senin (7/1) Lita (11) dan Madsari (55), dua warga korban tsunami Selat Sunda masih dirawat di RSUDAM Bandar Lampung.

Lita adalah gadis kecil berusia 11 tahun yang tinggal di Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, salah satu korban selamat dari gelombang tsunami yang terjadi pada Sabtu, 22 Desember 2018.

Meski selamat, Lita harus dirujuk ke RSUDAM Bandar Lampung untuk menjalani operasi craniotomi (bagian kepala). Sebelumnya, Lita juga sempat mendapatkan perawatan selama dua hari di RSUD Bob Bazar di Kalianda, Lampung Selatan.

Sedangkan Madsari (55), salah satu warga Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa juga merupakan korban tsunami yang selamat dan masih dirawat di RSUD AM Bandarlampung.

Pada saat kejadian, Madsari mengaku sudah berusaha untuk menyelamatkan diri saat gelombang tsunami menghempas rumahnya. Namun, saat ingin keluar rumah, kakinya tertimpa reruntuhan bangunan.

Akibat kejadian itu, kakinya mengalami luka parah, sehingga harus diamputasi. Selain itu, ia juga kehilangan rumah dan harta benda akibat dihempas gelombang tsunami Selat Sunda.

Ketua Tim Penggerak PKK Lampung Selatan (Lamsel) Winarni Nanang Ermanto bersama Ketua Dharma Wanita Persatuan Lamsel Siti Fatimah Fredy beserta pengurus mengunjungi keduanya di RSUD AM Bandarlampung, Minggu (6/1).

Saat menjenguk keduanya, Winarni memberikan semangat kepada keluarga korban, baik Lita maupun Madsari.

Tsunami Selat SundaSiswa SD Yayasan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darussalam Sukaraja mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam tenda darurat di Desa Sukaraja, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Senin (7/1/2019). Gelombang tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 menyebabkan bangunan SD tersebut rusak berat, sehingga proses belajar mengajar terpaksa dilakukan di tenda darurat. (Foto: Antara/Ardiansyah)

Selain melihat keadaan dan perkembangan kesehatan kedua korban, Winarni beserta rombongan juga memberikan bantuan berupa tali asih dan perlengkapan lainnya seperti pakaian, selimut, dan makanan.

"Ibu beserta keluarga yang sabar, ya, musibah ini ujian dari Allah SWT. Semoga dari ujian ini, Allah memberikan yang terbaik bagi keluarga, dan semoga Lita segera diberikan kesembuhan dan bisa kembali lagi ke sekolah," ujar Winarni kepada keluarga Lita.

Winarni juga selalu mendoakan agar semua korban segera diberikan kesehatan dan bisa kembali lagi berkumpul bersama dengan keluarga.

"Kita berdoa bersama-sama agar Allah SWT memberikan yang terbaik bagi kita semua warga masyarakat Lampung Selatan," kata Winarni.

Bantuan dari berbagai pihak untuk korban tsunami Selat Sunda di Lampung Selatan juga masih terus mengalir.

Pada Minggu (6/1) siang, Posko Logistik Penanggulangan Darurat Bencana Tsunami Kabupaten Lamsel menerima bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Kepala Seksi Peralatan BPBD Provinsi Jawa Tengah Budiyanto mewakili Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyerahkan bantuan tersebut dan diterima langsung oleh penanggungjawab logistik Dulkahar yang juga Kepala Dinas Sosial Kabupaten Lampung Selatan.

Budiyanto menyebutkan, bantuan yang dihimpun dari berbagai instansi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah seperti, BPBD, PMI, TP-PKK, PLN Distribusi Jawa Tengah, dan beberapa kabupaten di Provinsi Jawa tengah senilai Rp 165 juta.

Adapun bentuk bantuan tersebut berupa paket beras, paket sembako, makanan instan, makanan bayi, detergen, selimut, handuk, pakaian dan peralatan sekolah baik SD, SMP, dan SMA. 

Kemudian ada pakaian dewasa dan anak-anak, tenda gulung, tikar, terpal, peralatan salat, perlengkapan wanita dan peralatan mandi.

Tsunami Selat SundaSejumlah siswa SD Yayasan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darussalam Sukaraja mengangkat meja dan kursi dari sekolah mereka menuju tenda darurat untuk kegiatan belajar mengajar di Desa Sukaraja, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Senin (7/1/2019). Gelombang tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 menyebabkan bangunan SD tersebut rusak berat, sehingga proses belajar mengajar terpaksa dilakukan di tenda darurat. (Foto: Antara/Ardiansyah)

Sebelumnya, sejumlah pemda kabupaten/kota di Provinsi Lampung juga telah menyalurkan bantuan dari jajaran pemerintah maupun sumbangan dari warga setempat.

Pemda di luar Lampung, seperti Pemprov Sumatera Selatan, Pemprov Sumatera Barat, Pemprov Jawa Barat, dan pemda lain maupun masyarakat dan institusi serta lembaga sosial maupun LSM/NGO dari Lampung dan berbagai daerah ikut membantu para korban tsunami itu.

Para relawan juga berdatangan dari berbagai daerah dan lembaga, baik membantu para korban tsunami, mengurus logistik dan distribusi pangan, bantuan medis dan pengobatan maupun untuk memulihkan kondisi psikososial korban terutama anak-anak, serta bersama personel TNI/Polri, Basarnas dan para pihak lainnya membenahi kondisi sekitar permukiman warga yang masih porak-poranda dihempas gelombang tsunami.

Tanggap Darurat 

Pelaksana Tugas Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto, Minggu (6/1), juga telah membuat keputusan Penetapan Perpanjangan Kedua Status Tanggap Darurat Penanganan Bencana Tsunami di Kabupaten Lampung Selatan.

Penetapan Perpanjangan Kedua Status Tanggap Darurat Penanganan Bencana Tsunami berlangsung selama 14 hari, terhitung sejak tanggal 6 Januari 2019 sampai dengan tanggal 19 Januari 2019.

Plt Bupati Lamsel Nanang Ermanto telah mengeluarkan SK Nomor: B/30/VI.02/Hk/2019 tanggal 6 Januari 2019 tentang Penetapan Perpanjangan Kedua Status Tanggap Darurat Penanganan Bencana Tsunami di Kabupaten Lampung Selatan.

Dalam SK tersebut dijelaskan pertimbangan dari surat Badan Geologi Kementerian ESDM 27 Desember 2018 perihal peningkatan status Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) ke Level III (Siaga) sampai dengan berakhir penetapan perpanjangan status tanggap darurat penanganan bencana tsunami berakhir tanggal 5 Januari 2019.

Status Gunung Anak Krakatau tetap Level III (Siaga) dan penanganan pengungsi masih diperlukan.

Situasi tanggap darurat penanganan tsunami di Kabupaten Lamsel perlu tambahan periode operasi tanggap darurat.

Karena itu, Plt Bupati Lamsel menetapkan perpanjangan kedua status tanggap darurat penanganan bencana tsunami Kabupaten Lamsel, dengan perpanjangan selama 14 hari, dari 6 Januari sampai dengan 19 Januari 2019.

Penetapan ini dapat diperpanjang atau diperpendek sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan penanganan darurat bencana tsunami Kabupaten Lamsel.

Sebelumnya, masa tanggap darurat bencana tsunami Selat Sunda di Kabupaten Lamsel telah diperpanjang satu pekan mulai Minggu (30/12-2018).

Tsunami Selat SundaSejumlah siswa SD Yayasan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darussalam Sukaraja mengangkat meja dan kursi dari sekolah mereka menuju tenda darurat untuk kegiatan belajar mengajar di Desa Sukaraja, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Senin (7/1/2019). Gelombang tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 menyebabkan bangunan SD tersebut rusak berat, sehingga proses belajar mengajar terpaksa dilakukan di tenda darurat. (Foto: Antara/Ardiansyah)

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamsel I Ketut Sukerta fokus masa tanggap ini adalah pencarian korban yang dilaporkan masih hilang dan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi terdampak tsunami Selat Sunda di Lamsel.

"Fokus masih ke pencarian korban yang hilang delapan orang, dan penanganan pengungsi, seperti pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi," kata dia.

"Mereka yang kehilangan rumah tengah dipikirkan, apakah disiapkan hunian sementara dan sebagainya," katanya pula.

Ketut menyatakan, semua kebutuhan dasar pengungsi maupun korban terus diupayakan dipenuhi oleh pemerintah mulai dari makanan, pakaian, tempat tinggal, termasuk kebutuhan anak-anak sekolahnya.

"Semua yang berkaitan dengan mereka pasti dipikirkan," kata dia lagi.

Karena itu, diharapkan pula, dengan adanya perpanjangan lagi masa tanggap darurat bencana tsunami di Lampung Selatan hingga 19 Januari 2019 mendatang, berbagai upaya yang harus segera dilakukan oleh jajaran pemerintah bersama TNI/Polri, para relawan masih di lapangan dan berbagai pihak dapat terus mendorong pemulihan kondisi masyarakat korban tsunami agar dapat menjalani kehidupan mereka secara normal kembali.

Semua berharap, pascatsunami Selat Sunda, dengan kondisi aktivitas Gunung Anak Krakatau pemicu terjadi tsunami Sabtu (22/12-2018) malam masih terus aktif mengeluarkan letusan (erupsi) dan kegempaan, sehingga kewaspadaan dan mitigasi bencana alam bagi warga pesisir sekitarnya tetap diprioritaskan.

Penanganan pemulihan termasuk perbaikan dan pembangunan rumah warga yang rusak atau hancur akibat tsunami harus segera dilaksanakan.

Begitu pula perbaikan kapal atau perahu nelayan maupun pengadaannya juga dapat disegerakan oleh pihak berwenang, agar warga yang berprofesi sebagai nelayan bisa beraktivitas melaut mencari ikan lagi seperti semula.

Warga korban tsunami Selat Sunda, khususnya anak-anak yang harus mulai bersekolah, diharapkan tetap dapat melaksanakan belajar mengajar walaupun terpaksa belajar di tenda darurat, akibat gedung sekolah mereka rusak dan porak-poranda sehingga belum bisa digunakan lagi.

Kendati kondisi darurat bencana dan tanggap darurat diperpanjang lagi, tak boleh mengendurkan upaya perbaikan sarana-prasarana dan pemulihan pascastunami. 

Hendaknya justru proses pemulihan kehidupan warga terdampak tsunami di Lampung Selatan perlu terus disegerakan oleh semua pihak. []

Berita terkait
0
Saat Turis Bule Ikut Lomba Kelereng di Bali
Turis bule itu berjalan pelan, sangat berhati-hati dengan sendok berisi kelereng terselip di bibir. Pemandangan ini terjadi di Bali.