UNTUK INDONESIA
Sejarah Tahun Kabisat
Tahun kabisat biasa kita pakai dalam penanggalan sehari-hari. Bagaimana sejarahnya?
Ilustrasi jam saku. (Foto: Pixabay)

Jakarta - Tahun kabisat adalah sebuah tahun yang memiliki 366 hari yang terjadi setiap 4 tahun sekali. Jumlah hari tahun kabisat hari berbeda dengan tahun pada umumnya yang berjumlah 366 hari.

Pada tahun 45 SM, kekaisaran Romawi yang dipimpin Julius Caesar, menetapkan kalender Julian. Kalender tersebut merujuk pada perhitungan astronom asal Alexandria, Sosiogenes.

Dalam sejarahnya, Sosiogenes melakukan perhitungan bumi mengitari matahari selama 365,25 hari dalam satu tahun. Karena kelebihan tersebut, maka dibulatkan setiap 4 tahun sekali dibuat tambahan 1 hari.

Penambahan 1 hari tersebut diberikan pada bulan Februari. Hasilnya, bulan Februari yang biasanya berjumlah 28 hari di tahun biasa menjadi berjumlah 29 hari pada tahun kabisat.

Sebelumnya, bulan Februari berjumlah 30 hari pada tahun biasa dan 29 hari pada tahun kabisat. Selanjutnya pada masa August Caesar menjadi Kaisar Romawi, jumlah hari pada bulan Februari dikurangi 1 dan dialihkan ke bulan Desember.

Setelah ditambahkan, bulan Desember menjadi 31 hari dan Februari 28 hari pada tahun biasa. Sementara, pada tahun kabisat jumlah hari pada bulan Februari yang awalnya 30 kini menjadi 29.

Pada tahun 1582, Kaisar Romawi Julius Caesar mengubah penggunaan kalender Julian ke kalender baru yang dinamakan kalender Gregorian. Kalender ini dibuat dan disusun oleh Paus Gregorius XIII.

Antara kedua penanggalan tersebut tidak terdapat perbedaan terkait jumlah hari atau penanggalan pada kalender sebelumnya. Pada kalender Gregorian hanya ditambahkan tentang sifat-sifat tahun kabisat.

Dalam rumusnya, tahun kabisat menurut kalender Gregorian adalah tahun yang habis dibagi 4 dan 400. Sifat tersebut tidak berlaku bagi abad baru yang berkelipatan 100. Karena perhitungan yang kurang akurat dan cenderung membingungkan maka sifat ini akhirnya diganti.

Selanjutnya, sifat tahun kabisat yang digunakan sekarang adalah tahun yang habis dibagi 4 dan mempunyai jumlah hari 366. Penjumlahan tersebut adalah upaya untuk membulatkan jumlah hari yang terjadi terkait waktu bumi memutari matahari yaitu 365,25 hari.

Kalender masehi dan hijriah memiliki perbedaan yang cukup signifikan karena kalender hijriah disusun berdasarkan rotasi bumi terhadap bulan. Sedangkan kalender masehi disusun berdasarkan waktu rotasi bumi terhadap matahari dalam satu kali edar.

Jumlah hari dalam setiap bulan pada tahun hijriah adalah 29 atau 30 hari. Hal tersebut ditentukan sesuai dengan kondisi hilal pada setiap bulan. Sehingga, tahun kabisat tidak ada dalam kalender Islam atau hijriah.

Pasalnya pada tahun kabisat yang menjadi patokan adalah waktu rotasi bumi terhadap matahari. Jadi, hal ini tidak berpengaruh terhadap perhitungan pada tahun hijriah karena yang jadi patokan adalah waktu rotasi bumi terhadap bulan. []

Berita terkait
Sejarah Gerakan Pramuka di Indonesia
Sejarah Gerakan Pramuka atau Kepanduan di Indonesia dimulai sejak masa kolonial Belanda. Gerakan Pramuka secara resmi lahir pada tahun 1961.
Sejarah Makam Raja Pehobi Sabung Ayam di Jeneponto
Ratusan batu nisan yang disebut pajjerakkang berjejer di area kompleks pemakaman Raja Binamu, di Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto.
Benda Sejarah Mataram Kuno Tercecer di Magelang
Benda sejarah peninggalan Mataram Kuno tercecer di wilayah Magelang. Benda tersebut kini dikumpulkan di Desa Banyuwangi, Bandongan.
0
Lapak Berjarak Diterapkan di Pasar Bitingan Kudus
Pemkab Kudus mulai menerapkan physical distancing di Pasar Bitingan. Jarak lapak diatur sedemikian rupa agar pedagang tidak berdekatan.